SELAMAT DATANG DI HUNIAN SASTRA

SELAMAT DATANG DI HUNIAN PECINTA SASTRA INDONESIA

AYO KITA BELAJAR MENGEKSPRESIKAN DIRI DENGAN MENULIS DAN MENULIS!
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

AKU DAN SANGKURIANG

Masih ingatkah kalian dengan kisah Dayang Sumbi dan Sangkuriang? Pemuda yang ingin mengawini ibunya sendiri. Mungkin ini yng mengilhami buku berjudul Mengawini Ibu entah apa isinya aku belum tahu, aku ikut bedah bukunya ketika di Jogja. Tepatnya di Perpustakaan yang dikelola penulis kondang Muhidin M Dahlan. Itulah kelemahan kita, bedah buku yang tidak dibarengi audien yang telah membaca bukunya. Dan akhirnya pertanyaan yang ada hanya seputar proses kreatif ah klise sekali dan aku bosan. Kita tinggalkan bedah buku dan semacamnya, kembali pada permasalahanku. Jangan kaget akan ku katakana pada kalian jika aku mencintai bapakku. Hampir mirip dengan kisah Sangkuriang hanya bedanya aku wanita mencintai bapak, sedangkan sangkuriang mintai ibuny. Tapi kisahku ini tidak sama dengan sangkuriang. Dayang Sumbi waktu itu memang masih muda dan cantik karena doanya pada Dewa, hingga saat bertem dengan Sangkuriang, Dayang Sumbi terlihat seumuran. Wajar jika Sangkuriang mencintai ibundanya yang jelita. Berbeda denganku. Aku dan bapak selisih 25 tahun. Pasti sulit untuk seseorang mengerti apa yng aku alami. Aku mencintai bapakku sendiri yang telah berusia empat puluh delapan tahun. Apakah aku lama berpisah dengan bapak? Tidak. Dari kecil aku mulai mencintai bapak. Bapakku berwajah tampan, hingga umurku yang ke 23 aku belum pernah melihat laki-laki setampan bapakku. Maka dari itu aku enggan menikah. Karena aku mencintai bapak. Bukan hal mudah mencintai dia, aku harus menghadapi banyak saingan. Terutama ibuku sendiri. Bapak begitu mencintai ibu, selain ibu berparas cantik, ibu memang wanita hebat. Walau aku tak secantik ibuku, tapi mudah sekali menarik lawan jenis. Dan semua laki-laki yang jatuh ke pelukanku hanya menjadi kelinci percobaanku untuk menaklukkan bapakku. Kadang aku ingin membunuh ibuku saat cintaku begitu berkobar. Pernah telah kuasah pisau, diam-diam aku masuk ke biliknya yang senantiasa rapi. Hampir ku tancapkan pisau tajam itu, tapi bapak sedang memeluknya. Niatku urung. Aku meraung dibakar api cemburu. Keesokharinya ibu membuatkanku sarapan kesukaanku, nasi goreng dengan berbagai macam campuran sayuran dan tambahan tomat cabe menambah seleraku. Dalam hati aku bergumam. “Jika semalam sudah ku bunuh, maka sekarang aku tak dapat menikmati santapan pagi.” Ku akui aku memang anak durhaka, tak tahu balas budi. Namun aku tak kuasa menolak cintaku pada bapak. Aku ingin duduk bersanding, tidur dalam peluknya yang hangat sebagaimana sering kusaksikan bapak memeluk ibu. Bapak sangat baik padaku, diantara anak-anaknya akulah yang paling disayang. Bukan karena aku paling cantik bahkan mungkin aku paling jelek. Tapi karena aku paling cerdas diantara semua anaknya. Entah berapa saudaraku, aku tak ingat lagi. Yang ada di otakku hanya ada bapak. Tak sempat ku pikirkan yang lain.

SARIMBIT

Mall di Ibu Kota semakin menjamur, persaingan semakin ketat. Banyak mall yang menawarkan berbagai fasilitas untuk menarik hati pengunjung. Kini yang sedang tren adalah internet nir kabel yang ditawarkan. Aku pun menikmati fasilitas itu, tujuanku hanya ingin membuka internet mulai dari surel, facebook, google sampai blogger. Puas dengan dunia maya, aku berjalan menyusuri toko-toko yang ada. Mataku tertuju pada toko batik bernama Klaras, yang memajang berbagai macam batik. Aku terhenti pada sepasang batik yang biasa dikenal dengan sarimbit. Coraknya membuatku ingat pada masa satu tahun yang lalu. *** Aku sering mendengar ungkapan “cintai dengan sederhana”, namun cintaku padanya tak bisa sesederhana itu. Usia yang terpaut 10 tahun tidak membuat cintaku reda, aku mencintainya sebagaimana api melahap kayu bakar, mirip sajak Sapardi Djoko Damono. Aku tahu dia pasti seperti itu pula. Dia mengayomi dan menjagaku. Hubungan kami benar-benar sempurna, apalagi orang tua kita saling merestui, lengkaplah sudah. Bulan Februari tiba, saat para pasangan kekasih saling menunjukkan kasih saying mereka yang biasa diungkapkan dengan hadiah. Namun kami berbeda, Mas Iman mengajakku membeli sarimbit. “Ah, apa tidak terkesan resmi sekali.” Celotehku “Siapa bilang? Batik cocok segala suasana. Dan ini budaya harus dilestarikan.” Mas mulai menggurui, aku tertawa dalam hati lalu mengangguk. Sepertinya tak ada pasangan sebahagia kita, kurang setahun lagi aku lulus SMA dan mas Iman akan segera meminangku menjadi pendampingnya. Aku tak sabar. “Nurul, apa kamu sudah benar-benar mencintai Iman?” Tanya bapak tiba-tiba “Tentu, kenapa bapak bertanya seperti itu lagi.” “Hanya memastikan. Jika bapak ingin kamu kuliah dulu bagaimana?” “Maksudnya saya belum boleh menikah?” Bapak tak melanjutkan bicara, lalu melangkahkan kaki ke Musholla. Setahun berlalu, rupanya begitu cepat karena aku selalu menikmati hari-hariku yang indah, aku lulus dengan nilai yang tidak begitu memalukan. Sepulang mengajar mas Iman ke rumah. Jantungku berdetak dengan kencang keringat dingin bercucuran. Betapa bahagianya aku, Allah begitu baik padaku. Di dalam kamar aku menunggu pembicaraan bapak dan mas Iman. “Apa kabar Iman?” “Alhamdulillah pak. Bapak bagaimana?” “Ya, seperti yang kamu lihat. Bapak sehat.” “Ibu di mana pak?” “Masih ada pengajian. Ada yang mau disampaikan nak Iman?” “Iya pak, dik Nurul sudah lulus. Seperti janji saya dulu saya akan melamar dik nurul besok atau lusa saya akan dating dengan orang tua saya.” “Sebelumnya bapak minta maaf, bukan bapak menolak niat baik nak Iman. Hanya saja bapak ingin adikmu kuliah dulu. Jika kau memang mencintainya tunggu sampai dia lulus.” “Saya tidak keberatan, akan saya sampaikan kabar ini pada orang tua saya pak. Semoga akan mendapat keputusan terbaik.” “Syukurlah jika kamu memahami.” Entah bagaimana kelanjutan dialog itu, aku sudah lemas tak mampu mendengar dengan rinci. Bapak pasti memaksaku kuliah dan ingin menjadikanku guru. Ya, bapak kepala sekolah pasti malu jika punya anak yang tidak berpendidikan. Secepat ini kebahagiaan berganti. “Nduk.” Suara bapak mengagetkanku, “Ada apa pak?” “Kamu menangis? Kamu sudah dengar pembicaraan bapak dengan Iman?” aku hanya mengangguk. *** Rupanya keluarga mas Iman tak bersedia menunggu kelulusanku, karena usia mas Iman yang kian bertambah, aku tetap belum mau kuliah. Dan bapak memondokkanku disebuah pesantren. Agar aku tak dapat bertemu mas Iman, namun diam-diam kami tetap bertemu. Ketika aku pulang mas Iman yang mengantarkanku. Akhirnya bapak mengetahui perjumpaan kami, bapak semakin murka. Enam bulan kemudian aku menerima undangan, mas Iman menikah dengan tetangganya. Aku terpukul. Aku menangis. Dadaku sesak. Hancur, luluh lantak. Ditengah keterpurukanku mas Iman menelponku. “Dik, nanti datang ya.” “Aku tak sanggup mas.” “Demikian juga aku, jika kamu tak datang maka aku akan merasa berdosa menghancurkanmu.” “Baik, aku akan datang dengan satu syarat. Kita pakai sarimbit yang pernah kita beli dulu.” “Tentu, yang penting kau hadir.” “Ya, aku akan hadir.” Janur kuning indah menghiasi, aku melankahkan kaki dengan pasti. Aku tak tahu apa mas Iman benar-benar memakai sarimbit di malam pernikahannya ini. Aku tak peduli. Aku memasuki keramaian, semua orang memandangku ketika mas Iman menghampiriku dengan mengunakan sarimbit. Dia memenuhi janjinya. Orang-orang saling berbisik entah apa yang diperbincangkan. “Mana istrimu mas?” “Dia di dalam, aku sudah cerita semuanya. Dia tak mau menemuimu.” “tidak apa-apa, aku juga tak berlama-lama. Aku senang kita bisa pakai sarimbit ini lagi, walau dengan suasana yang berbeda. Aku tetap mencintaimu mas.” “Aku juga dik.” Kemudian aku pamit, aku tak tahan ingin menangis. Sampai di rumah, aku mengunci kamarku dari dalam meraung, aku tak dapat melakukan apa-apa selain menangis sambil memeluk foto mas Iman. Berhari-hari aku tak keluar kamar, bapak dan ibu bingung. Bapak mendibrak pintu kamarku, didapatinya aku bermandi air mata. “Apa yang kamu lakukan nak?” bapak mengambil foto mas Iman dari pelukanku “Apa kamu masih mencintainya dan ini yang membuatmu seperti ini?” aku mengangguk pelan. “Berarti kamu menyalahkan bapak, atas semua ini nak? Jangan siksa dirimu seperti ini.” Aku tak mampu berkata-kata. Mungkin sudah dua minggu aku tergeletak, aku sangat rindu mas Iman. Aku tak kuat, aku mengambil ponsel lalu mengirim pesan untuknya Mas, aku kangen Terkirim: Mas Iman +628133050xxxx 16-Mei-2010 22:55:30 Lama aku tunggu tak ada balasan, aku semakin sakit. Aku tak dapat memastikan aku tidur atau terjaga. Tak ada siang maupun malam. Semua sama KELAM. Tiba-tiba ponselku bordering, tertera nama Mas Iman. Aku segera menjawab dengan gairah. “Mas, kenapa tak kau balas pesanku?” “Maafkan aku, semalam istriku yang membuka pesanmu. Dia menangis, aku bingung dik. Aku belum mampu menyentuhnya. Aku mencintaimu. Tapi tak tega aku menghianati istriku.” “Apa dia marah pada kita mas?” “Tidak, dia yang merasa berdosa hadir di tengah cinta kita. Sudahlah, kau harus bangkit. Jangan sakiti dirimu. Lihat orang-orang yang mencintaimu dik.” “Aku, ingin bersamamu mas.” Segera ku putus telepon. Aku tak sanggup lagi berlama-lama. Remuk redam sudah hatiku. Entah apa yang kemudian akan terjadi pada hatiku. *** Kini aku meneruskan kuliahku di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, seperti keinginan bapak. Tapi aku bukan Nurul yang dulu. Aku menjadi Nurul yang berhati keras, aku tak lagi dapat merasakan cinta. Hatiku telah mati, semua pria yang mendekatiku tak pernah ada yang ku hiraukan. Biar aku jalani semua sendiri. Aku akan tetap menunggu menjadi istri mas Iman. Kembali menggenakan sarimbit seperti dulu. Surabaya, Mei 2012

Pro dan Kontra Tokoh pada Pengarang* (Catatan untuk M. Shoim Anwar)

Kiai Jogoloyo, Kiai Bandrun, Santi, dan Tandijaya sedang berkumpul. Mereka saling membeberkan takdir yang tertulis dalam diri mereka. Takdir yang tidak mengenakkan menurut mereka. Kiai Jogoloyo membuka pembicaraan. “Aku sungguh tidak terima penulis itu mempermainkan lakonku.” “Demikian saya Yai,” Tambah Santi “Sekarang begini saja, kita bergantian cerita atas semua ulah pengarang pada kita. Akhir baru kita simpulkan apa yang sebenarnya dia mau dengan menjalankan lakon kita seenak udelnya.” Jawab Kiai Badrun bijak. “Baiklah, jika demikian saya akan bercerita lebih dulu Yai,” ucap Tandijaya. Mereka mengangguk bersamaan. “Saya sangat kesal dengan dia, bisa-bisanya dia menjadikan saya selingkuh dengan gadis 25 tahun lebih muda dari saya. Tapi bukan itu masalahnya, yang saya paling tidak suka ialah ketika Santi harus sakit. Dan istri saya mengetahui perselingkuhan kami. “Harusnya dia bisa memposisikan dirinya, jika ia menjadi saya. Berat sekali menjalani hidup menjadi Tandijaya. Saya kadung mencintai Santi namun tak bisa melepas istri saya. Ketika Santi sakit saya ingin mendekapnya dan memberinya semangat untuk bertahan. Tapi jauh dari yang saya inginkan,istri saya malah yang dating melabrak keluarga Santi.” Santi menangis mendengar menuturan Tandijaya, sambil membenahi jilbabnya ia mulai bicara. “Aku tidak masalah menjadi tokoh yang jatuh cinta dengan pria 25 tahun lebih tua, dengan senang hati aku menjadi wanita perokok, menjadi mahasiswa yang tidak kunjung lulus. Dan sedikit ada kebanggaan dalam diriku ketika menjadi wanita yang kuat. Paling tidak aku bisa merasakan teori feminisme, tapi tampaknya penulis itu tetap membela kaum lelaki. Tokoh perempuan tetap dibikin lemah dan nelangsa. Aku harus penyakitan, menjadi penghuni tetap rumah sakit. Mendapat cemooh dari istri Tandijaya. Bagaimana aku bisa terima. Jika dia ingin membuatku menjadi wanita yang kuat. Mengapa tidak total seperti tokoh Firdaus ciptaan Nawal. Apalagi akhirnya aku harus menyerah dengan keadaan dan memakai pengbungkus kepala ini. Sungguh menyebalkan.” Muka Santi memerah lalu disulutnya sebatang rokok. “Kiai Jogoloyo, bagaimana apa anda mau berbicara?” Tanya Kiai Badrun “Tentu, rasanya aku ingin membalik lakonku dengan dia. Kalian pasti sudah tahu bagaimana dia menulis tentang diriku. Aku merasa dilecehkan. Bagaimana mungkin dia menulis tentang Kiai yang masuk partai dan mati mengenaskan. Sungguh tidak punya sopan santun. Dia harus tahu, jika dia tidak cepat mematikanku dalam peristiwa memalukan usai kampanye itu. Aku akan mengubah dunia politik. Aku yakin politik akan lebih berperikemanusiaan. Aku akan membenahinya, kerena perlu diketahui. Di sana harus ada orang-orang beragama. Kalo tidak malah semakin buruk. Tapi dia tergesa membunuhku. “Tidak sepatutnya pula dia mengubah pesantrenku dengan kelakuan santri yang nyleneh. Santri-santriku semua nurut padaku. Dan penulis itu harusnya tahu tanpa aku ada di pondok tidak akan mengubah perilaku santriku. Jelas ini mempermalukan sekaligus melecehkan dunia pesantren terutama mencoreng nama Kiai. Hingga tak punya wibawa di masyarakat. “Masih tidak puas dia merusak hidupku. Di akhir cerita ditulis pula politikus partai kecemplung kali. Kenapa sampai sedemikian dia membenciku.” Sambil menuding tulisan yang dimaksud. Lalu buku ungu itu ditutup. “Sekarang giliran saya.” Kiai Badrun berucap namun ada yang memotong. “Tunggu, saya ingin lebih dulu.” “Kamu Olive?” perempuan itu mengangguk dadanya tampak rata. Kiai Jogoloyo, Santi, Tandijaya, dan Kiai badrun pun menanti Olive bicara. Tapi Olive trus meraung sambil memegang dadanya. Kemudian bangkit menuju rak buku. Matanya mencari salah satu judul buku. Karena takkunjung didapat dia melempar tiap buku yang dipegang. Kiai Badrun berdiri membantu Olive. Seakan mengerti apa yang dicari Olive. Dengan cepat Kiai Badrun mengambil buku bersampul sketsa perempuan telanjang. “Ini yang kamu cari Olive?” “Benar, aku muak melihatnya. Aku ingin membakarnya.” “Tenangkan hatimu, duduk dulu. Tidak baik seperti ini.” “Kita harus memusnahkannya agar kita tak diperbudak cerita mengerikan ini. Kiai tak tahu apa yang aku alami?” “Saya tahu, kedua payudaramu diangkat. Kamu kena sipilis. Ditinggal kekasihmu. Saya paham.” “Lalu kenapa Kiai tampak membela penulis itu.” “Iya, kenapa Kiai Badrun tampak membelanya? Bukankah diawal kita sepakat tidak setuju dengan semua yang dia tulis?” Kiai Jogoloyo ikut bicara “Di awal saya bilang. Nanti kita menyimpulkan apa yang dia inginkan dengan menjadikan kita sebagai lakonnya. Bukan langsung main bakar.” Rahman tiba-tiba muncul dengan suara yang sangat ngotot “Benar, bakar saja bukunya. Termasuk ini.” Ia mengambil buku ungu yang tadi dipegang Kiai Jogoloyo. “Aku telah salah memarahi Dokter Heri, bukan dia yang salah mencangkokkan jantung babi. Tapi penulis itu. Enak saja, aku lebih baik mati dari pada membawa jantung babi ini. Sok jadi dokter!” Rupanya kemarahan Rahman mendatangkan tokoh-tokoh yang lain. Sogol, Bardo, Ratri, dan Qafi tampak merah mukanya. Kiai Badrun tampak bingung. Tapi tetap tenang menanyai satu-satu apa yang akan mereka ucapkan. “Kenapa dia tidak memandikanku dengan tuak?” Tanya Sogol “Sulasih istriku, kenapa dibuat selingkuh dengan kawanku?” Bardo membentak “Aku begitu haus birahi, seperinya dia sengaja menyiksaku mehanan hasrat yang begitu dalam. Sebelum hasratku terpenuhi, suamiku mati terbakar. Hiks hiks hiks. Tega sekali dia menulis begitu. Apa sekarang dia akan memenuhi hasratku?” Ratri dengan isakan tangisnya. “Aku mencintai Prabandari, tapi dia tak mengabulkannya. Ah biadab!” Qafi memukul meja kerja penulis. Menyusul Suparjan yang keberatan menjadi TKI illegal. Ruang kerja penulis makin sesak. Kiai Badrun kemudian bicara. “Sekarang kita tenang semua. Dalam hidup pasti ada dua kutub. Sekarang kita marah, kesal,mengutuk. Tapi sekarang kita panggil teman yang lain pasti ada yang merasa senang dengan penulis ini. Kita tidak boleh melihat dengan satu sisi. Pasti cacat jadinya.” “Sudah tak usah banyak pertimbanganlagi, sudah jelas kita rugi.” Kata Tandijaya, diikuti sorak kawan-kawannya. Santi, Olive, Ratri, dan tokoh wanita lainnya saling menggerutu kenapa wanita selalu dibuat sengsara. Tiba perempuan tawanan mengeluhkan hal yang sama. Giliran Prabandari angkat bicara “Tidak semua dibuat seperti itu, buktinya aku wanita yang hebat. Sudahlah bagaimanapun aku membela penulis.” “Ya, karena kamu mengalami suatu yang baik.” Sergah mereka Di tengah-tengah muncul Turno, dia mengamati sekelilingnya tampak sesak dia berdehem lalu bersuara. “Apa yang kalian lakukan beramai-ramai seperti ini. Kalian merasa dirugikan? Aku merasa sebaliknya. Walau dalam cerita aku miskin, dianggap PKI tapi aku senang. Aku mengemban amanat yang harus ku sampaikan pada pembaca. Bukan hanya aku yang merasa senang dengan penulis ini. Banyak. Aku tak bisa menerangkan dengan jelas. Tapi aku pernah mendengar penulis ini menjawab pertanyaan mahasiswanya. Kenapa semua kisahnya menyedihkan? “jika kisah ditulis menyenangkan maka tidak akan menimbulkan perenungan. Dan dengan ditampakkan kesedihan maka diharapka pembaca akan melihat kebahagiaan. Dengan diciptakan kejahatan maka pembaca akan mengalami katartis. Maka yang terniang dalam benak pembaca adalah mencegah bagaimana kejahatan yang demikian tidak terjadi.” “Kalian belum puas meneriakinya. Coba bacalah pengakuannya tentang penciptaan kita. Para tokoh saya berakhir dengan tragis bukan karena saya ingin bertragis-tragis. Para tokohnya terlibat kekerasan bukan karena saya ingin berkeras-keras. Mereka memberontak bukan karena saya ingin memberontak. Mereka tak berdaya bukan karena saya ingin tak berdaya. Mereka meledak bukan karena saya ingin meledak. Hidup mereka menjadi demikian karena ada semacam tutntutan di bawah ambang kesadaran para tokohnya. Hokum sebab akibat tiba-tiba menemukan polanya tatkala bersentuhan dengan dunia cerpen Nah apa kalian telah sadar? Dia bukan sengaja menuliskan kita begitu saja. Tapi jdia juga mengemban moral.” Semua diam, Kiai Badrun mangut-mangut. “Tapi kenapa dia menanamkan dendam begitu dalam padaku, hanya karena sebiji pisang?” mereka dikejutkan suara Kusmo. Semua diam namun seluruh mata tertuju pada dua Kiai. Kedua Kiai itu saling berpandangan seakan berisyarat Kau saja yang menjelaskan. Namun tiba-tiba terdengar suara kaki menaiki anak tangga, semakin mendekat keruang kerja penulis. Sepertinya tak salah memang suara kaki itu adalah kaki penulis yang akan menciptakan tokoh tragis, keras, miskin, tak berdaya, menderita, pendendam, dan entah apalagi yang kan dilahirkan sesuadah dia bersetubuh dengan kehidupan yang berhasil menghamilinya. Para tokoh berlarian kembali pada cerita masing-masing, tetap pada keganjalan. Tidak terima akan perlakuan penulis. Tak lama penulis masuk ruang kerjanya. Matanya langsung tertuju pada buku yang tercecer di lantai dan meja. Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah, Asap Rokok di Jilbab Santi, Perempuan Terakhir, Oknum, Musyawarah Para Bajingan, Soeharto dalam Cerpen Indonesia dan buku karya yang lain. Penulis mengerutkan keningkan sambil mengambil buku-buku tersebut. Dia mengingat-ingat kapan pernah membiarkan buku berserakan. Ruangan tampak hening. Ditata kembali buku-buku itu di rak. Sambil berpikir, mungkin anak-anaknya yang mengambil dan tidak mengembalikannya. Kini tangannya menyalakan layar monitor dan entah nasib bagaimana yang dia tulis. *Sekelumit kisah ini tidak ada niatan melecehkan penulis. Namun merupakan apresiasi saya dalam karya-kaya beliau. Salam.... Surabaya, 05 Agustus 2012

PUSARAN

“Bagaimana kerja hari ini?” “Tak cukup baik, aku tidak bisa bekerja.” “Masih tentang Papamu itu? Sudahlah lupakan dia.” “Bagaimana kau bisa katakan itu Ndra, kau tahu bagaimana aku mencintainya. Kamu jangan munafik. Kamu juga berat kan melepaskan mamamu?” “Iya Cit, tapi setidaknya aku mengerti tentang dia. Tidak seperti kamu.” “Bagiku aku dan kamu tidak ada bedanya.” “Pesan apa? Jelas beda Cit?” “Terserah kamu, aku tak ada selera untuk makan. Aku sudah seminggu tidak bertemu Papa.” “Malas aku jika kamu bahas dia, kamu harus sadar diri. Memang aku tidak menyalahkanmu tapi setidaknya kamu bisa tahu bagaimana harus bersikap. Aku mencintai mama tapi ku tahu bagaimana untuk kedepannya, jadi aku tetap membuka hati untuk yang lain bukan seperti dirimu” “kamu sama saja dengan orang-orang ku kira kau bisa mengerti apa yang aku rasakan.” “aku mengerti, aku juga merasakannya. Ini memang dosa terindah tapi setidaknya kita bisa mengendalikaan diri.” *** “Pulanglah sayang, sudah malam. Ingat harus lebih dewasa, ini di kantor. Nanti kita jalan-jalan.” Ke: Hc 085231245XXX 22:27:37 “Tidak ada jalan-jalan, Papa tidak memikirkan saya. Dari tadi saya menunggu tapi Papa tidak menghiraukan. Saya tidak akan pulang.” Pengirim: Hc 085231245XXX 22:32:11 “Jangan sayang, ini belum kiamat. Hari esok masih panjang, jangan menyiksa diri. Ingat ya, harus lebih sabar.” Ke: Hc 085231245XXX 22:40:34 “Papa sudah tidak sayang, saya tidak akan pulang sebelum diusir satpam Pa. Saya sudah bilang kita pulang bersama, tapi Papa tega ninggalin.” Pengirim: Hc 085231245XXX 22:45:09 “Ya, besok kita bertemu. Tenangkan diri, ini bertengkar dengan Nyonya kalau keluar lagi.” Ke: Hc 085231245XXX 22:51:10 “Pulang ya? Pulang sayang. Besok malam kita ketemu. Pulang ya? Jangan merendahkan jabatan sekertaris yangg kau pegang. Ya?” Ke: Hc 085231245XXX 23:08:34 “Tidak ada urusannya dengan jabatan.” Pengirim: Hc 085231245XXX 23:11:50 “Pulang sayang. Pulang ya. Apa itu caramu untuk menteror papa? Jangan kau sakiti diri sendiri. Pulang ya?” Ke: Hc 085231245XXX 23:13:13 “Saya memang sakit jiwa. Saya tidak menteror siapapun.” Pengirim: Hc 085231245XXX 23:19:41 “Ayo ini sudah malam, kawanmu pasti cemas. Papa juga jadi tidak tenang sayang.” Ke: Hc 085231245XXX 23:31:15 “Ini kantor mulai gelap, saya mau jalan-jalan saja.” Pengirim: Hc 085231245XXX 23:37:51 “Mau kemana? Nanti kamu bisa diperkosa.” Ke: Hc 085231245XXX 23:38:01 “Saya bisa jaga diri, sudah ponsel saya matikan saja. Selamat istirahat.” Pengirim: Hc 085231245XXX 23:40:01 “Tapi tidak bisa menjaga diri dari kekerasan lelaki, kalau masih anggap Papa. Pulang.” Ke: Hc 085231245XXX Tunda “Nampaknya aku sudah tidak berguna. Ke: Hc 085231245XXX Tunda *** “Aku semakin binggung.” “Kenapa? Ada masalah dengan kekasihmu?” “Iya, dia semakin tak bisa lepas dariku. Bagaimana brondongmu?” “Aku sudah mengingatkan dia, aku sepuluh tahun lebih muda darinya dan sudah berkeluarga. Tapi dia tetap mencintaiku, kemarin ulang tahunku dia membelikan baju dan boneka kucing untukku.” “Dia juga sama, memang akulah yang salah. Seharusnya aku tak menyambut cintanya, harusnya dari dulu aku menyadarkannya. Aku kasihan dan aku juga terlanjur cinta namun tetap rasional. Semalam dia tak mau pulang karena aku tinggal pulang.” “Tiada yang salah, semua sudah ada yang mengatur.” *** “Sekarang di mana?” Ke: Hc 085231245XXX 22:10:02 “Halte.” Pengirim: Hc 085231245XXX 22:10:42 “Apa kamu pingin papa ke sana? Ini udah dirumah.” Ke: Hc 085231245XXX 22:15:15 “Terserah Papa.” Pengirim: Hc 085231245XXX 22:17:50 “Tunggu, jangan kemana-mana. Papa perjalanan.” Ke: Hc 085231245XXX 22:30:01 *** “Kenapa lagi? Apa papa punya salah?” “Papa masih Tanya kesalahan papa dimana?” “Sudah, sekarang mau apa? Pasti belum makan. Ayo makan!” “Tidak, aku tak mau makan. Aku hanya mau sama papa.” *** “Ma, aku ingin bersama mama setiap saat.” “Tapi, adik harus tahu. Saya sudah berkeluarga, adik bisa setiap saat bersama saya jika dikantor seperti ini.” “Aku ingin lebih.” “Ya, kita bisa makan di luar.” “Lebih dari itu.” “Candra, jangan mendekat lagi.” *** Aku tak pernah tahu bagaimana awalnya, aku sangat menyayangi sekertarisku. Dulu dia hanya karyawan biasa, namun karena kepandaiannya, dia aku angkat sebagai sekertaris. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Ketika ada rapat dia yang mendapingiku. Hingga akhirnya aku mengajak dia ke luar kota. Awalnya aku hanya iseng dari pada sendiri, namun dia langsung mengiyakan. Kita tidur satu kamar di sebuah penginapan kota buah, sudah jelas dingin bukan main. Dia berbaring menghadap tembok, tanpa selimut. Pasti dia kedinginan. Aku selalu mendengar gerak tubuhnya, hingga dini hari dia masih terjaga. Ku beranikan tanganku meraih tubuhnya, dia tidak menolak. Aku membiarkan tanganku meraba dadanya kali ini dia menangkis halus tanganku. Namun aku tetap memeluk erat tubuh dinginnya. Kini hubungan itu semakin jauh, dan begitu mencintaiku. Tak bias lepas lagi. Aku bingung. Bagamana! *** Papa, aku mencintaimu. Tapi kini sepertinya kau semakin menjauh dariku. Dulu awal aku mengatakan rasaku padamu kau sambut dengan hangat. Hingga memnita izin untuk menikmati tubuhku, dengan senang hati ku serahkan. Kau pernah mengirim pesan. Aku mulai berarti dalam hidupmu, kau memintaku untuk tak meninggalkanmu. Tapi kini siapa yang meninggalkan. Kaulah yang meninggalanku Pa. Apa aku menyesal? Tidak, aku akan mengenangmu Pa. mengenang gairahmu, baikmu dan petuahmu. Semua tentang kamu Pa. Jeruk hangat, degan tanpa es dan gula, tanganmu yang selalu memegang perut ketika memimpin rapat. Bau keringatmu. Aku merinduanmu Papa. *** Citra, teman wanitaku mencintai pria 25 tahun lebih tua darinya, gila. Kukira dulu aku paling gila mencintai wanita yang 10 tahun lebih tua. Aku selalu menasihatinya agar jangan merusak rumah tangga orang. Aku selalu bilang habiskan semua lelaki di bumi ini tapi jangan yang punya istri. Hahaha aku tertawa sendiri bagaimana aku menasihatinya, sedang aku sendiri mencinta istri orang. *** Kenapa nasibku hampir sama dengan kawanku, dicintai orang yang jauh lebih muda. Tapi sepertinya gadis yang mencintai kawanku itu lebih parah. Jika aku mendengarkan certia dari temanku, dia ku simpulkan GILA. Bagaimana tidak dia tak bias makan tanpa kawanu, selalu menangis dan selalu, selalu, selalu ingin bersama kawanku. \ Aku terkadang ingin marah dengan gadis itu sealigus kasihan. Tak akan mungkin kawanku ma uterus bersamanya, istrinya jauh lebih cantik, kaya dan terpandang. Sedang gadis itu hanya seorang sekertarisnya yang tidak akan makan jika tak digaji kawanku. Aku menduga kawanku hanya kesihan dengan gadis itu, walau dia tak pernah mengatakan jujur padaku tentang itu. Tapi aku bias menebak, karena kawanku orang yang sangat baik. Bagaimana akhir semua ini, semua seperti mimpi saja. Oh aku ternyata meridukan Candra. Kenangan, Malang 11 Juni 2011

Kamis, 02 Juni 2011

JELMAAN ALAM

Kabut semakin tebal menghalangi pandanganku, udara dingin semakin menusuk tulangku. Kukuatkan kakiku melangkah menyusuri jalan yang kini sudah beraspal, yang ku ingat dulu jalan ini penuh dengan batu-batu. Sudah banyak yang berubah dari desaku disamping jalan tak lagi ada pohon yang rimbun. Aku berjalan menuju rumah Rahman.
Tapi banyak yang berubah rumah-rumah sudah banyak yang baru, aku bingung dimana rumah Rahman seingatku dulu dirumah Rahman ada pohon cerme, aku biasa duduk memanjat untuk mengambil buahnya yang ranum, aku merindukan semua itu. Tapi aku masih bertanya-tanya kenapa desa ini begitu berubah padahal hanya sebentar aku meninggalkannya.
Kini perutku sedang berdangdutan rasa lapar menyerangku, aku masih melihat di sekitarku mencari warung makan tapi lagi-lagi kabut ini menghalangiku, tidak tahu persis saat ini pukul berapa. Dari belakang ada seorang penjual nasi uduk dengan membawa sepeda.
“Nasi uduk mas.”
“Ya mbok, satu.”
“Sepertinya wajah mas ini tidak asing.”
“Tentu saya kan warga Tegalrejo asli mbok.”
“Namanya siapa? Kok saya tidak tahu?”
“Ruslan. Oya mbok rumah Rahman sebelah mana ya?”
“Ruslan suaminya Ndari, di ujung sana yang banyak bunganya.”
“Suaminya Ndari, kapan dia menikah?”
“piye to, ya sudah lama sudah punya anak satu.”
Selesai mbok membungkus nasi uduk aku merogoh sakuku aku masih ingat aku membawa uang seribu waktu berburu dan belum kugunakan.
“Berapa mbok?”
“Empat ribu.” Aku kaget kenapa mahal sekali dari mana ku dapat uang sebanyak itu
“Mbok tidak salah? Tapi uangku Cuma ada ini.”
“Salah bagaimana ya tidak, ini uang tahun berapa sekarang sudah tidak laku mas. Ya sudah kamu kan warga Tegalrejo kapan-kapan pasti bertemu.”
Mbok meninggalkanku dengan masih meninggalkan segudang pertanyaan, aku duduk menikmati nasi uduk. Mungkin hari ini masih pagi karena ada orang keliling jual sarapan. Tak lama aku melanjutkan perjalanan, kali ini kabut mulai menghilang dan banyak orang-orang yang berangkat kesawah. Salah satu diantara mereka ada yang menatapku dengan tajam kemudian memelukku.
“Ruslan, kamu kembali juga.”
“Maaf, bapak siapa?”
“Ah kamu masih muda Ruslan, aku Joko temanmu.”
“Joko? Kenapa kau setua ini?”
“Memang sudah saatnya tua Rus, kamu yang aneh kenapa bisa awet muda seperti ini?”
“Bisakah kau antar aku kerumah Rahman? Kita cerita nanti disana.”
“Pasti kawan, ayo!”
Sebenarnya aku ingin langsung ketemu dengan ibu, tapi aku ingin mengajak Rahman untuk menjelaskan kenapa aku tidak pamit, jalan ini sekarang beraspal tak ada lagi bebatuan yang sering menyakiti kaki ketika kaki telanjang. Rumah Rahman sudah dekat banyak bunga didepan rumahnya tapi tak kulihat pohon cerme. Sejak kapan Rahman menyukai bunga, sungguh semua telah berubah.
“Kita sudah sampai, nanti kita bertemu lagi sekarang aku tinggal dulu kesawah, tidak enak jika terlambat karena aku hanya buruh Rus.” Joko menepuk pundakku dan berlalu. Ku ketuk pintu Ruslan dengan ragu, rumah ini sekarang besar tak seperti dulu. Tak lama pintu terbuka seorang lelaki paro baya muncul dari balik pintu ketika dia melihatku langsug dia memelukku denga erat, apa dia Rahman.
“Ruslan. Kaukah ini? Kau begitu awet muda setelah menghilang tak kasih kabar, syo kita masuk kukenalkan pada istri dan anakku.”
Aku bagai kerbau yang dicocok hidungnya aku hanya menurut mengikuti Ruslan, seorang ibu dan anak duduk dimeja makan, sejak kapan Ruslan berkeluarga kenapa dia tidak mengundangku.
“Ruslan, aku istri Rahman apa kau masih ingat denganku?” aku pasti ingat dia Ndari wanita yang di idam-idamkan Rahman dari dulu karena kealimannya, garis kecantikannya tak pudar.
“Ceritakan pengalamanmu Rus! Apa resepawet mudamu?”
Rahman untuk kesekian kalinya menepuk pundakku, aku masih tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh Rahman. Setahuku aku berpisah dengannya hanya beberapa hari tapi kenapa Rahman sudah setua ini, pasti ada sesuatu yang ganjil dengan semua ini.
“Man aku pulang dulu, nanti kita cerita lagi. Antar aku pulang ku sudah kengen dengan ibu Man.”
“Tabahkan hatimu Rus, ibumu sudah tiada. Bagaimana kalau kita kamakamnya sekarang.” Aku terpaku, Rahman mengambil peci hitamnya dan mengenakannya, aku mengikuti Rahman tanpa kata.
Aku berhadapan dengan gundukan tanah yang tak didalamnya terdapat ibu tercintaku semoga Allah mengampuni segala dosa ibu dan menerima semua amal ibu. Aku tercengang melihat tahun meninggal ibu yang tertulis dibatu nisan, tahun 2000 padahal seingatku saat aku pergi tahun 1990, berjuta pertanyaan bertarung dalam kepalaku.
Makam ibu terlihat bersih pasti Ruslan yang telah merawatnya,
“Bagaimana dengan rumahku Man?”
“Aku dan Ndari selalu merawat rumahmu. Sejak kau pergi ibumu jatuh sakit, aku berusaha mencarimu sampai dengan bantuan dukun tapi mereka bilang kau akan pulang dengan sendirinya, ibu sempat sehat dan hidup normal tapi ibu tak dapat melupakanmu begitu saja diam-diam ibu tetap memikirkanmu dan kembali jatuh sakit.”
“Antarkan aku pulang Man!” Kataku datar, kami beranjak meninggalkan makam ibu tapi doaku selalu terlantun untuk ibu, betapa aku merindukan ibu. Sepanjang perjalanan airmata ini berlinang, Rahman berusaha menguatkanku.
Rumahku terlihat paling tua namun tetap rapi, pasti Rahman merawatnya dengan baik. Isi rumah masih tetap seperti yang dulu, kamarku tetap terawat dan masih terletak foto Ningsih dimeja pojok kamarku, gambarnya buram tak lagi bisa di lihat dengan jelas.
“Man, bagaimana kabar Ningsih?”
“Dia menikah dengan Joko, tapi belum dikaruniai anak.”
Aku terpukul tapi bagaimanapun kau mengerti pasti Ningsih tidak bisa menungguku yang tidak jelas kabar beritanya, tapi aku tetap mencintainya.
“Rus, sekarang kamu harus menceritakan mengalamanmu selama dua puluh tahun kamu menghilang! Apa yang kamu lakukan selama itu?”
“kau masih ingat saat kita berburu kehutan?” Rahman mengangguk dan aku mulai bercerita.
***
Hutan yang lebat penuh dengan pohon-pohon yang hijau, hewan-hewan masih berkeliaran dengan bebas. Suara burung-burung sangat merdu. Aku bersama Ruslan baru pulang dari sekolah selesai makan kami selalu punya kegiatan rutin, berburu kelinci, Ruslan pemburu yang handal tak jarang dia selalu mendapat buruan lebih dulu.
Ruslan telah mendapat buruannya, sementara aku masih sibuk mengejar buruanku, hewan itu berlari kencang aku hampir kehilangan jejaknya namun mataku ini sudah biasa dengan mencari jejak, hewan lincah itu masuk kesemak-semak aku mengendap-endap seekor lalat hinggap ditelinggaku, membuyarkan konsentrasiku. Sungguh hewan yang lincah tiba-tiba lenyap dari pandanganku, terus kutelusuri tapi aku tertegun melihat pohon didepanku, sepertinya baru pertama aku melihatnya. Aku mendekat terfokus dengan lubang yang ada dibatang pohon itu, aku menyentuhnya.
Tiba-tiba aku berada ditempat yang asing, bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya sebuah istana yang megah, bagus, tapi sepertinya bangunannya sudah tua. Tempatnya sepi tiada penghuni ku langkahkan kaki memasuki istana, belum sempat kubuka pintu terbuka dengan sendirinya. Seorang gadis menuntunku.
“Selamat datang di Kerajaan kami.”
“Kerajaan apa ini?”
“Nanti kau akan mengetahuinya, sekarang kau ikutlah aku menemui rajaku. Raja menunggu kehadiranmu, kami butuh pertolonganmu anak muda.”
Sepertinya istana ini sangat sejuk tapi ada yang aneh kesejukan itu tak dapat terpantul seakan ada sesuatu yang mengakibatkan semua ini terjadi, aku masih mencari jawaban untuk itu, sementara gadis ini terus melangkahkahkan kaki dan aku mengikutinya. Kenapa juga istana semegah ini begitu sepi tiada banyak penghuni, aku bersabar untuk tidak bertanya apa-apa pada gadis ini.
“Wajahmu begitu banyak tanya, bersabarlah semua kan terjawab jika bertemu dengan raja.”
“Kamu tahu apa yang aku pikirkan, tapi aku akan bersabar menanti jawabannya.”
Dia tersenyum indah, aku teringat senyum Ningsih. Kelinci itu gagal ku dapatkan untuk dia, Ningsih begitu menyukai kelinci apalagi itu pembirian dari hasilku berburu asal aku tidak melukainya. Senyumku tiba-tiba membias karena teringat Ningsih, gadis itu melirikku.
“Namaku Seruni, kamu teringat kekasihmu?”
“Ya, aku tadi ingin menangkap kelinci untuknya.”
“Ruslan, kelinci itu akan lebih senang hidup dialamnya, dari pada dalam pangkuan kekasihmu.”
“Kau tahu namaku?”
Seruni diam tak menjawab, langkah kakinya diperlambat. Dua orang berpakaian seperti prajurit memberi hormat pada Seruni seraya membukakan pintu sebuah kamar. Seorang wanita separo baya sedang menunggui suaminya terbaring tak berdaya, sebuah kamar yang megah dengan ranjang berukir terbuat dari kayu yang begitu apik. Seruni mengajakku mendekat.
“Ayah, Seruni datang dengan Ruslan.”
“Ayah sudah lama menunggunya.”
“Ruslan ini ayahku, ayah sedang sakit dan ingin meminta pertolonganmu, ayah masih berharap bisa sembuh. Ayah masih ingin memimpin kerajaan ini.”
“Kenapa harus aku? Raja sakit apa? Aku tidak bisa apa-apa.”
“Banyak hal yang tidak kau ketahui Ruslan. Kamu suka berburu kehutan, menangkap kelinci untuk kekasihmu.”
“Apa salah dengan yang kulakukan itu?”
“Salah tapi kamu masih tiada apa-apanya dari pada kesalahan orang-orang selain kamu yang menyebabkan aku sakit seperti ini, manusia memang hanya ingin kesenangannya tanpa mengindahkan kepentingan alam yang juga harus diperhatikan, mereka menebang pohon dengan liar.”
Seorang prajurit memberi hormat lalu berkata
“Manusia tidak lagi mau menanam pohon, namun mereka selalu menebang pohon yang telah dewasa, hingga hutan menjadi gundul, dan akibatnya semua air hujan menjadi banjir karena tak dapat lagi diserap oleh akar-akar pohon, dengan mengendap-endap dimalam hari agar tidak diketahui, tanpa mereka sadari dengan menebang pohon-pohon itu dia menghancurkan hidupnya sendiri lihatlah banyak korban manusia terseret banjir itu juga karena penebangan pohon liar.”
“Apa yang bisa kulakukan?”
“Ingatkan mereka Ruslan!” raja tak melanjutkan kata-katanya, Seruni mulai menerangkan
“Ayahku ini sudah tua sekali Ruslan, sekarang dia sakit dan susah untuk disembuhkan, itu tak lain karena ulah manusia yang menghancurkan alam. Ayah masih menyayangi manusia yang masih membutuhkan alam maka ayah masih bertahan untuk hidup, ayah akan sembuh jika ada penghijauan kembali hutan-hutan yang telah rusak.”
“Lihatlah istana kami yang begitu luas namun tiada berpenghuni, satu persatu mereka mati mengenaskan, kini tiba giliranku untuk menunggu kematianku dalamistana yang menyeramkan ini. Namun aku berharap padamu Ruslan agar mau membantu kami yang tak berdaya lagi menghadapi kekejaman manusia.”
Aku terbayang setiap hari ada pohon yang hilang dari hutan, hingga hutan tak lagi rimbun maka tiada lagi binatang-binatang menghuni yang ada hanya kelinci putih, dan betapa teganya aku masih ingin menangkap kelinci mungil itu. Aku dan manusia lainnya memang hanya memikirkan diri sendiri tanpa mau memahami lingkungan dan alam yang telah banyak memberi kekayaannya pada kita.
“Pesan kami harus kau sampaikan pada kaummu, jangan lagi menyakiti kami, karena jika kami mulai tak mau lagi bersahabat dengan manusia, mala petaka kan datang menimpa manusia yang egois.”
“Maafkan kami manusia yang sudah berbuat salah pada alam, kami tak akan ku sampaikan pesan ini, lalu bagaimana aku harus keluar dari tempat ini?”
“Kau harus melihat kondisi kerajaan erutan ini terlebih dahulu.”
Aku hanya menurut, tempat yang sepi redup waktu senja yang tak jua berujung malam, aku memasuki dimana ada sungai tercemar, gunung yang terkikis habis, hutan yang gundul, laut yang semakin sedikit tumbu karangnya,pemandangan yang menyedihkan. Aku tak dapat menahan airmataku. Menangis untuk alam.
“Sekarang pejamkan matamu,terimakasih untuk kesediaanmu mengunjungi kerajaan erutan ini, aku barharap ayahku secepatnya akan sembuh lantaran bantuanmu.”
“Sama-sama Seruni, aku yang berhutang banyak pada kerajaan erutan, pengalaman yang sungguh berharga selama hidupku. Apa aku tak perlu mengucapkan kata pamit dan terimakasih pada raja?”
“Tak usah ayah sudah menyuruhku untuk mengembalikan kau pada duniamu, mereka sangat merindukanmu. Jangan kaget jika ada yang ganjil sepulangmu dari sini.”
“Sebelum pergi bolehkan aku mengutarakan satu pertanyaan?”
“Mengapa tidak?”
“Mengapa hanya ada waktu senja disini?”
“Itu mengambarkan alam ini yang telah memasuki usia senja, tak lama malam akan menjelma, sudahlah pejamkan matamu Ruslan.”
Aku memejamkan mata, tak lama setelah kubuka mata aku telah berada di jalan yang berkabut.
***
Rahman menganggukkan kepalanya menghayati cerita demi cerita, lalu menepuk bahuku kebiasaan Rahman memang tak berubah.
“Kamu beruntung Rus, kami manusia pilihan alam. Kamu cermati kata E.R.U.T.A.N yang menjadi nama kerajaan itu. Jika dibalik maka N.A.T.U.R.E yang berarti alam, itu memang simbol alam kita. Raja yang sakit mengambarkan alam kita yang telah diujung kerusakan akibat ulah tangan manusia Rus. Kita harus mencintai alam yang telah begitu menyayangi kita.”
“Kamu masih pintar seperti dulu tentang analisis seperti itu Man.”
“Ah biasa saja kau selalu saja memujiku. Sekarang ayo kita pulang kerumahku pasti kamu lapar.”
“Aku ingin bertemu Ningsih Man, bagaiman rupa dia sekarang.”
“Itu nanti saja yang penting kamu istirahat dulu, renungkan kejadian yang menimpamu, jalankan amahmu Rus.”
Aku menuruti kata-kata Rahman, kembali kututup ruah tuaku, dari mana aku memulai menyeru pada manusia tentang pengalamanku, bagaimana aku mengajak mereka untuk lebih menghargai lingkungannya.
Malam telah tampak rembulan menyinarkan sinarnya dengan anggun, sepoi angin memeluk tubuhku, aku akan memulai semuanya mulai dari saat ini, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil. Aku yakin semuanya akan dapat berjalan.
Pada pohon kuseru
Lebatkan daunmu, perkuat akarmu
Agar manusia tak dapat mengusimu
Pada laut kuseru
Ganaslah ombakmu
Agar manusia tak menjamahmu.


*********JELMAAN ALAM**********

DIAlOG POHON KAMPANYE

Bendera dengan gambar-gambar partai berkibar ditiup angin, ikut dalam hiruk pikuk lalu lintas, terkadang jemu mata memandang pemandangan seperti yang membuat bimbang. Dibawah terik matahari bendera-bendera itu terus berkibar angin terkadang menerpa dengan keras tapi tetap tegar berdiri. Dicuaca yang sudah tidak teratur lagi terkadang tiba-tiba hujan turun tanpa diawali mendung, hingga bendera-bendera itu tak bersiap-siap menghadapi hujan.
Malam bertabur bintang, namun semakin malam awan tebal kian menebal menyelimuti bintang-bintang, namun ibu kota tetap terang benderang tak peduli awan tebal menyelimuti. Tengah malam sedikit lebih sepi, ketika semua orang sudah terlelap ada beberapa orang menelusuri jalan ditemani angin malam. Dikeluarkannya sebuah kertas dari dalam tas besarnya. Ternyata poster bergambar partai, dengan bantuan lem merekatlah poster itu dipohon.
Pohon ialah tumbuhan dengan batang dan cabang yang berkayu. Pohon memiliki batang utama yang tumbuh tegak, menopang tajuk pohon. Batang merupakan bagian utama pohon dan menjadi penghubung utama antara bagian akar, sebagai pengumpul air dan mineral. Tapi kali ini berubah fungsi menjadi papan kampanye oleh orang-orang berambisi menang.
Maka malam itu pohon-pohon yang berada di ibu kota saling berdialog untuk bertukar pendapat tentang kelakuan manusia yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Sebuah pohon besar yang terlebih dulu menjadi papan kampanye memulai percakapan.
“Teman-teman apa kalian rela tubuh ini menjadi kotor oleh lem seperti ini?”
“Aku hanya pasrah saja, manusia memang seenaknya melakukan apapun pada kita.” Kata pohon yang lebih muda
“Sebenarnya apa yang mereka lakukan dengan menempelkan poster ini ketubuh kita?”
“Mereka sedang masa kampanye.”
“Apa yang inginkan dengan melakukan kampanye?”
“Kampanye adalah sebuah tindakan politik bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, usaha kampanye bisa dilakukan oleh peorangan atau sekelompok orang yang terorganisir untuk melakukan pencapaian suatu proses pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok, kampanye biasa juga dilakukan guna mempengaruhi, penghambatan, pembelokan pecapaian.”
“Dari mana kau tahu itu?”
“Aku pernah dengar dari salah satu orang yang lewat, mungkin tahun lalu waktu mereka melakukan hal yang sama. Menempeli tubuh kita dengan poster.”
Mereka terus berdialog mencaci maki manusia yang tiada berperikemanusiaan, mereka memanggil angin malam yang sayup-sayup menerpa daunnya.
“Hai angin, kamu tak lelah bertiup?”
“Pertanyaan kamu aneh, sekarang aku tanya pada kalian, apa kalian tak lelah berdiri terus menerus?” pohon-pohon itu tersenyum pada angin membenarkan.
“Sebenarnya kami mau minta tolong padamu.”
“Apa yang bisa aku lalukan untuk kalian?”
“Kami ingin poster yang melekat pada tubuh ini lepas.”
“Ah, maafkan aku sepertinya aku tak kuasa melakukannya. Kalian pasrah saja siapa tahu orang yang ada dalam gambar itu bisa menjadi pemimpin yang mementingkan nasib kalian juga.”
Pepohonan saling perpandangan, hanya diam saling merenungkan kata-kata angin. Menunggu datangnya pagi sambil berdoa agar tak ada orang yang melakukan hal yang sama. Pohon tua kembali bercakap.
“memang kamu suka jika orang dalam gambar ini menang?”
“Aku tak menyukainya, belum menang saja sudah semena-mena terhadap kita bagaimana sudah menang nanti, tubuh kita bukan tempat untuk tempel poster.”
“Benar juga kata kamu, ah kamu yang muda ternyata lebih pintar.”
Tak lama mereka terlelap, angin masih menemani mereka dengan bertiup lembut, dikesunyian malam yang mengerikan, ketika semua benda-benda yang menyenangkan menghilang dibalik selubung gelap dan mendung tebal.
Mentari menyapa dengan hangat lalu lintas kembali ramai, debu-debu beterbangan, asap kenalpot kendaraan bermotor menambah polusi udara. Pohon-pohon juga mulai merasakan hangatnya mentari kembali melakukan fotosintesis, betapa kagetnya pohon tua waktu tersadar empat buah paku menancap dibatangnya.
“Awwwww….. apa lagi yang dilakukan manusia-manusia itu pada kita?”
“Wah benar ini sudah keterlaluan, kenapa mereka menyakiti kita dengan memaku gambar disini, bukankah sudah ada poster.”
“Kalau calon pemimpin seperti ini, apa patut dicontoh? Kampanye kan banyak medianya. Tidak harus menyakiti kita.”
“Kampanye juga dapat dilakukan dengan slogan, pembicaraan, barang cetakan, penyiaran barang rekaman berbentuk gambar atau suara. Tapi bukan di pohon seperti ini caranya.”
“Ya ada yang mereka lupakan selain hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia, mereka juga harus menjalin hubungan yang baik dengan alam.”
“Tapi bagaimana kita membalas manusia yang seperti ini, kita tak kuasa.”
“Kita tidak sendiri.”
“Aku akan membantu kalian, jika aku mau bertiup kencang manusia pasti binasa. Tapi bagaimanapun kita harus berbaik hati, kalau kita membalas dengan kejam pula apa bedanya kita dengan manusia-manusia berdosa itu.”
“Tapi aku tidak suka dengan calon pemimpin yang seperti ini, tidak bisa menjaga alam.”
Pohon yang lebih muda melayangkan padangannya pada pak tua berseragam orange yang sedang memegang sapu membersihkan jalanan, perasaan salut muncul pada pohon muda.
“Kenapa tidak dia pak tua yang selalu membersihkan kota ini dari sampah yang menjadi pemimpin?”
“Kamu ada-ada saja, mana mungkin?”
“baiklah kalau aku akan berdoa agar orang-orang dalam gambar poster yang telah mengotori batang kita ini insyaf dan tidak lagi melakukannya, namun kita juga harus berusaha untuk menyingkirkan semua ini dari batang kita.”
Angin pergi untuk mencari cara agar batang pohon bisa menjadi bersih lagi, di atas kota yang lain angin bertemu dengan mendung tebal, maka ide muncul dalam benak angin untuk mengajak awan kekota dimana tempat pohon berada.
“Hai awan, wah sudah siap menguyur kota ya?”
“Bukan, kebetulan dirimu kesini angin, aku dalam perjalanan kedesa, mereka butuh air untuk sawah mereka. Maka antarkan aku segera kesana.”
“Wah, sebenarnya aku juga butuh bantuanmu awan. Temanku pohon dikota sebelah ingin membersihkan tubuhnya dari tempelan-tempelan poster partai, dengan bantuanmu pasti bisa.”
“Bagaimana ini, sepertinya kamu harus mengantarkan aku dulu setelah itu kamu kedesa yang sudah banjir disana ada awan yang lebih tebal dariku nah minta tolonglah pada dia.”
Setelah selesai berunding angin setuju dengan usulan awan dan segera mengantarka awan ketempat yang dituju.
“Terimakasih angin, sekarang carilah desa tak jauh dari sini.”
“Aku akan mencarinya, terimakasih petunjuknya.”
Mereka mengucapkan kata perpisahan, angin bertiup kencang mempercepat pencariannya tak kuasa dia melihat pohon-pohon itu tiap hari bertambah kotor, ada saja ulah manusia. Mungkin karena mereka tiada mngerti bahasa alam, padahal jika manusia mau cermat kejadian-kejadian alam yang terjadi sudah bukti kalau alam telah bicara pada manusia.
Senyum membias dibibir angin ketika bertemu awan, awan yang sangat hitam dan sepertinya siap untuk menurunkan hujan.
“Angin ada apa gerangan, senyummu itu tak dapat ku artikan.”
“Aku perlu bantuanmu, untuk menolong pohon temanku.”
“menolong bagaimana?”
“Sambil jalan kita bicarakan bagaimana, kau tak perlu lagi menghujani desa ini, kasihan sudah banjir. Saatnya manusia kota yang merasakannya.”
Awan hanya menurut pada angin sepanjang perjalanan angin bercerita tentang kehidupan kota dan calon pemimpin yang sedang berkampanye menggunkan pohon-pohon sebagai media penyebar informasi, karena memang pohon tak membutuhkan komisi seperti ketika mereka berkampanye lewat televisi, radio, atau surat kabar.
“O... begitu ceritanya, memang mereka perlu kita beri peringatan, apa kamu pernah tahu orang dalam gambar poster itu?”
“Tentu saja pernah, ketika mereka sedang mengebu-gebu mempengaruhi masyarakat agar memilih mereka.”
“Pasti banyak janji yang diucapakan.”
“Benar janjinya selalu yang muluk-muluk padahal yang hal kecil seperti memperhatikan sebuah pohon saja tidak dijalani, bagaimana mau melakukan hal yang besar?”
“Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, kalau keputusan melakukan kampanye saja sudah salah ya mau dibawa kemana keputusan setelah menang nanti.”
“Aku kurang tahu juga masalah politik yang sebenarnya dan aku juga malas untuk mengetahuinya.”
Sementara pohon sudah tidak sabar menunggu datangnya angin, untuk segera membersihkan dirinya. Surya semakin terik menyinari, lalu lintas begitu semrawut dengan mobil kampanye, bendera terus berkibar tanpa lelah. Sepertinya bangga di perhatikan tiap orang melewati jalan itu. Namun tidak begitu yang dialami pohon, tiap ada orang lewat membawa pesan yang tertera dalam poster dan melihat gambarnya, pohon cemburu karena orang-orang tak mengagumi kegagahannya. Tak berterimakasih padanya karenanya perjalanannya tak terkena panas, kotanya tak kena banjir karena akarnya menyerap air hujan.
Manusia telah lalai dengannya.
“Kemana angin mencari awan? Kenapa begitu lama?”
“Sabar mungkin dalam perjalanan.”
Dalam kekesalannya terhadap manusia mereka tetap mengistimewakan bapak tua tukang sapu, yang tetap semangat menyirami pohon dan tanaman kota lainnya. Tiba-tiba angin bertiup kencang bersama awan hitam yang seketika membuat gelap kota, penguna jalan kaget akan perubahan cuaca yang begitu mendadak.
“Memang musim tak lagi dapat ditebak.” Kata salah satu pengendara motor
Pohon menyambut kedatangan angin dan awan dengan suka cita,
“Sekarang apa mau kalian pohon?” Tanya angin
“Kami ingin turun hujan dan membersihkan tubuh kami sekaligus memberi sedikit peringatan pada manusia-manusia.”
Sang mentari tengelam dengan awan dan siang kini menyerupai malam, gelap gulita menyelimuti ibu kota, rintikan hujan mulai menguyur pohon-pohon dan semakin lama semakin deras, perlahan poster-poster yang melekat pada pohon terlepas satu demi satu, sampah-sampah telah menyumbat got hingga aliran air tak dapat mengalir dengan sempurna, hujan masih belum mau berhenti terus dan terus, kini bendera-bendera partaipun ikut tumbang dan hanyut mengikuti arus air.
Kendaraan tak lagi dapat berjalan, lalu lintas berhenti beraktifitas. Sepi menyelimuti kota yang semula penuh dengan keramaian, adakah manusia yang ingat kalau kejadian ini berawal dari perbutan mereka yang dianggap sepele. Mungkin tak pernah ingat dan tak mau mengingatnya.
Semua tergenang air tak tampak daratan tak tahu kemana perginya manusia-manusia yang tak bertangung jawab, tak tampak lagi bendera dan poster-poster partai.
“Kalian puas pohon-pohon?”
“Ya kami puas, tapi kami juga kasihan pada orang-orang yang tak ikut bersalah, aku yakin mereka masih berkampanye ditempat lain.”
“Tapi setidaknya kalian tak lagi ikut jadi pohon kampanye.”
Mereka semua tertawa penuh kegembiraan.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~DIALOG POHON KAMPANYE~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minggu, 03 April 2011

Bolehkah Kujual Tubuhku?

Oleh Titin Supriatin
Dimuat di Harian Jawa Pos, Senin, 21 Juni 2010

Ibu kota yang kukira menjanjikan semua impian ternyata hanya sebuah kenyataan pahit yang harus kuhadapi. Aku hanyalah gadis desa yang mencoba mencari keberuntungan,
memperjuangkan nasib, tapi kenapa aku harus akhiri kegadisanku, membuka jilbabku demi sesuap nasi.

Bertahun-tahun aku menghabiskan waktu di lembah hitam ini. Rupiah memang selalu mengalir bagai air turun dari langit tapi entahlah rupiah itu juga mudah
sekali lenyap dari genggaman bagaikan debu tertiup angin, mungkin karena aku mendapatkannya ya dengan cara tidak halal. Pernah terpikir untuk meninggalkan
semua kemewahan semu ini. Tapi, aku tak tahu lagi pekerjaan apa yang dapat aku lakukan kecuali memanfaatkan wajahku ini untuk mendapatkan rupiah dari pria
hidung belang.

”Presti, ada yang cari kamu,” kata Run. ”Siapa sih malam-malam begini, kan udah tahu Selasa aku libur,” jawabku ketus sambil membuka pintu. Kulihat
sepasang mata menatapku dengan melas. ”Maaf Anda siapa?” Dia hanya diam, lalu memelukku erat sambil menangis. Air matanya membasahi baju tidurku. Aku
membalas pelukannya, dia semakin erat memelukku.

Aku mencoba melepaskan pelukannya perlahan, dia menatapku dalam-dalam sehingga membuatku binggung. ”Kamu yang bernama Presti?” tanyanya di dalam isak
tangisnya, aku hanya mengangguk pelan. ”Aku memohon padamu! Tinggalkan suamiku, anak-anak butuh ayahnya.” Aku semakin bingung. ”Siapa suami Mbak?”
Aku tak tahu siapa suaminya, laki-laki yang menghampiriku terlalu banyak, mana mungkin aku menghafalkannya.

”Handoko. Kamu pasti mengenalnya bukan?” Spontan terbayang wajah Handoko yang berhasil mendapatkan hatiku.

”Aku tidak pernah merayu suamimu Mbak, dia yang berjanji menikahiku.”

”Aku tak akan direla dimadu, apalagi dengan seorang penjual tubuh seperti kamu. Aku datang ke sini dengan niat baik Presti.”

”Mbak, aku memang penjual tubuh, tapi aku tak pernah meminta Handoko untuk menikahiku. Aku bisa mendapatkan sepuluh bahkan lebih lelaki seperti Handoko,”
ujarku.

”Aku percaya padamu, tinggalkan dia. Permisi,” kata wanita itu. Dia berlalu meninggalkan kenangan buruk di hatiku. Aku tak pernah ingin merebut suami
orang, tak pernah. Mungkin wanita itu merupakan salah seorang di antara jutaan wanita yang menderita akibat suaminya bersamaku. Begitu banyak dosaku ini,
bagaimana jika aku jadi mereka. Tapi, kenapa aku harus menyesali, toh bukan aku yang merayu mereka. Merekalah yang datang padaku. Malam ini aku tidur dengan
kegelisahan.

***

Kenapa banyak orang di depan rumahku, mereka membawa api, ya api. ”Bakar, bakar! Bakar saja rumah pelacur ini, dia telah merebut ayah anak-anak kita,”
teriak salah seorang di antara mereka. Mereka bermuka merah terbakar amarah. Hampir saja api itu melayang dan membakar rumahku, tapi terdengar suara yang
menghentikannya.

“Kita manusia tak punya hak menghakimi. Allah Maha Menerima taubat dari harnba-Nya.” Tak terlihat siapa yang mengucapkannya, tapi dia berhasil menyelamatkanku
dari kobaran api.

Aku tersadar dari tidurku ketika ponselku berbunyi. Terlihat nama Handoko memanggil dan aku tak menghiraukannya. Aku teringat mimpiku, hampir semua tubuhku
basah oleh keringat dingin, apa arti mimpi itu? Apa memang aku patut dihukum, tubuhku tiba-tiba menggigil kedinginan, rasa ketakutan yang luar biasa menguasaiku.

Terdengar sayup-sayup suara azan subuh. Aku semakin takut setelah sekian lama aku tiada pernah mendengar seruan itu. Hidup di mana aku selama ini hingga
aku tak pernah mendengar azan. Tulikah aku ini?

Suara azan itu tak terdengar lagi, kini naluriku berkata, mengajakku memenuhi panggilan untuk bersujud pada-Nya. Aku membuka lemari dan mencari mukenaku.
Ya Allah, tak dapat aku menemukannya, betapa hinanya aku ini. Aku mengambil dua kain sarung sebagai pengganti mukena.

Betapa sejuknya ketika air wudu membasahi kulitku yang berlumur dosa ini. Kutundukkan hatiku, kuserahkan semua-Nya kepada pemberi nyawaku. Ketika kubangkit
dari sujud, dunia ini tampak gelap, gelap sekali, apa aku buta? Kegelapan itu semakin dekat dan entah sosok apakah yang sedang mendekatiku itu. Aku pasrah
kepada Allah, gelap semakin gelap dan semakin dingin.

Di mana aku ini? Kenapa aku sendirian? Siapa dia? Kenapa dia memberiku pertanyaan-pertanyaan yang tidak aku mengerti? Kenapa tempat ini begitu sempit?
Di mana rumahku yang besar? Di mana lelaki hidung belang yang memujaku? Inikah harga yang harus aku bayar? ***

Selasa, 15 Maret 2011

KENIKMATAN WAKTU

“Sayang, aku berangkat kerja dulu. Jangan lupa nanti makan siang.” Kata Ari sambil menciumku dengan mesra. Kita seperti sepasang suami istri yang berbahagia, kita begitu saling menyayangi. Tapi hubungan kita terlarang.

Aku berdiri didepan cermin yang selalu jujur, dan aku yakin cermin ini juga jujur padaku. Kulitku putih, hidung mancung, pandangan mataku begitu tajam, tinggiku lumayan, walaupun aku sedikit agak kurus untuk mencapai berat ideal aku harus naik berat badan sekitar lima kilo, lemakku juga masih dibawah normal tapi aku nyaman dengan keadaanku ini. Tapi aku mengalami hal yang aneh aku tidak bersyukur dengan ketampananku ini, aku iri jika melihat perempuan yang cantik.

Usiaku dua puluh satu tahun, mahasiswa jurusan geografi disebuah universitas negeri ternama di Surabaya, aku mulai mengalami keanehan semenjak tinggal di kota pahlawan ini. Disini aku mempunyai kebebasan yang belum pernah kudapatkan, aku tak lagi tertarik dengan kecantikan seorang perempuan sebaliknya aku selalu tergoda jika ada lelaki tampan.
“Mbak, aku lagi puspa.” Kata Ardian sahabatku
“Kenapa lagi Yan?”
“Pacarku kabur lagi, ah lebih baik aku cari om-om saja yang banyak uang.”
“Terserah kamu, yang penting kamu nyaman.”

Ardian biasa di panggil Dian, sahabatku kita berasal dari kota yang sama tapi baru bertemu di Surabaya saat aku mulai mengenal duniaku yang baru. Dian kuliah jurusan desainer di perguruan tinggi swata, Dian satu tahun dibawahku. Dian menjadi seorang gay akibat ayahnya yang menjadi polisi terlalu otoriter dalam mendidik, Dian selalu dituntut menjadi nomor satu dalam segala hal. Dian tak dapat brontak sampai untuk memilih perguruan tinggipun ayahnya yang menentukan sekaligus jurusannya. Untunglah saat itu ibu Dian ikut angkat bicara hingga Dian bisa memilih sendiri.

Namun ayahnya tetap saja menuntut Dian agar menjadi nomor satu, kenyataannya kini berbalik Dian begitu kurang bersemangat kuliah akibatnya beberapa mata kuliah harus dia tidak lulus. Kehidupan begitu sulit aku pahami begitu juga Dian mengalami hal yang sama denganku, sepertinya kehidupan tak lagi berpihak padaku, apa dosa yang kulakukan hingga semua ini harus kujalani.

Aku menikmati keadaanku saat ini, hidup bebas. Dulu aku pernah beberapa kali mencintai seorang gadis namun mereka hanya menyakiti hatiku saja, aku juga tak dapat bebas berbuat karena pasti ada batasan-batasan antara pria dan wanita. Namun sekarang tak ada lagi batasan, aku satu kamar dengan kekasihku Ari, kos kami berada didekat kampusku Surabaya selatan tak jauh dari pusat perbelanjaan. Ari mengajarkan aku bagaimana bercinta kami.

Aku masih ingat bagaimana Ari mengajarkan aku tentang hubungan sesama jenis. Kini naluri untuk menjadi seorang homoseksual telah terbentuk, dan aku telah mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteria. ketika sudah memiliki kekasih, seperti hubungan normal lainnya, kami juga melakukan penetrasi awal seperti berpelukan, berciuman bahkan yang lebih dari itu. Kita juga melakukan hubungan intim. Kita mendapat kepuasan sama seperti pasangan normal, hanya saja gaya bercinta kita yang berbeda.

Matahari kian terik aku harus segera kekampus, aku juga harus kuliah dengan benar aku tak ingin mengecewakan orang tuaku. Walau begini keadaanku aku tetap harus memikirkan mereka, berbeda dengan Dian yang lahir dikelurga kaya, aku hanyalah anak dari keluarga yang sederhana tak jarang kiriman dari rumah terlambat aku terima, untunglah Ari mencukupi kebutuhan sehari-hariku hingga aku tak begitu kualahan ketika belum dapat kiriman dari rumah.

“Agung, apa kabar kapan kita jalan bareng?” tanya Angga teman kampus yang tak begitu kukenal tapi tapi tak sengaja kita bertemu ditempat berkumpulnya para homoseksual.
“Maaf aku tak ada waktu,”
“Ah, sekali saja ganteng kita jalan berdua.”
“Aku harus kekelas sekarang.” Aku meninggalkan Angga, aku tak suka dengan dia kulitnya hitam, lagi pula aku tak mau nanti Ari marah melihatku berjalan dengan laki-laki lain. Cintaku hanya untuk Ari tidak ada yang lain.

Selama ini temanku dikampus tiada yang tahu kalau aku “sakit” tak jarang gadis-gadis dikampus mendekatiku karena rupaku yang rupawan. Begitu pula dikampungku aku begitu menjaga sikapku aku tak mau semua orang tahu tentang keadaanku, dulu sempat kos kebetulan banyak juga pendatang dari kampungku terpaksa aku pindah kos karena aku takut ketahuan dan mereka mengadu dikmpung. Tak kubayangkan jika kabar itu sampai keorang tuaku pasti mereka akan kecewa. Mungkin aku seorang pengecut biarlah aku akan menjadi seorang pecundang selamanya asal orang tetap memandangku.

Sebenarnya aku tahu suatu saat pasti akan diketahui orang keadaanku yang seperti ini, seperti Sasa temanku yang nama aslinya Porwanto, dia bekerja di sebuah restoran sebagai kasir pulang kerja dia jalan-jalan dengan semua atribut perempuan tak lupa, payudara palsu yang dibuat dari fiberglass, sempurna sekali kadang aku ingin seperti itu tapi aku masih takut. Bertahun-tahun Sasa menjalani tanpa sepengetahuan orang tuanya, suatu saat dia menangis.
“Apa yang terjadi Sa?” Tanya Dian
“Mamaku tahu kalau aku waria,”
“Bagaimana bisa, kamu cerita?” Tanyaku penasaran
“Waktu Mama bersih-bersih kamar, begitu ceroboh sebuah bra lupa belum ku masukkan dalam lemari. Mama langsung membuka lemariku yang penuh dengan pakaian wanita.”
“Mama kamu marah atau mau menerima keadaanmu sekarang?”
“Mama hanya menagis, tak sepatah katapun dia ucapkan padaku. Aku telah bersimpuh dikaki Mama, Mama memelukku entah apa yang ada dalam hatinya. Tapi aku tahu sorot matanya memancarkan kekecewaan.”
“Mungkin itu akan kita alami juga ketika orang tua kita tahu kita sebenarnya.” Kami saling berpandangan.

Apa yang terjadi pada kita sebenarnya memang pilihan ketika kita ingin kembali normal aku yakin pasti bisa, tapi aku nyaman dengan pilihanku saat ini, kita mendapatkan kebebasan, Kalau lawan jenis masuk kamar, pastilah 1 RT langsung ribut. Tapi kalo sesama jenis mau seharian juga tidak mesti mendatangkan kecurigaan. Dengan sesama jenis tidak perlu pusing soal keperawanan, pencegahan kehamilan, atau didesak soal pernikahan.

Malam telah menyapa, Ari datang dengan membawa makanan, seperti seorang istri aku menyiapkan air hangat untuk mandi, selepas mandi kita makan malam Ari membelai kepalaku mulai mencium leherku aku tahu Ari ingin menyalurkan hastratnya, kita bisa merasa nikmat karena kita tahu anatomi tubuh masing-masing, tahu persis daerah-daerah sensitif dan erogen masing-masing, dan tahu betul bagaimana cara memperlakukannya untuk mencapai kepuasan seksual.

Selain itu, sesama laki-laki kita lebih berani bereksperimen mengenai teknik-teknik baru dan menciptakan kejutan. Kalo dengan wanita, ada kekhawatiran “kesakitan”, “tersinggung,” karena perempuan harus dihormati. Tenaga sesama laki-laki lebih kuat, mampu memberi tekanan dan memperkuat rangsangan ke tubuh lawan mainnya. Demikian pula dengan tubuhnya, otot-ototnya lebih kuat, ketika Ari memelukku lebih berasa.

Sebenarnya untuk melakukan hubungan sesama jenis ada sextoys untuk kaum gay namanya vibrator alat semacam celana dalam yang memiliki lubang, ketika kami malakukannya ada semacam getaran yang dapat dirasakan. Tapi harganya terlalu malah untukku yang hanya mahasiswa maka kita melakukannya secara alami saja.
Namun kebahagiaanku harus hancur ketika aku beberapa hari pulang kampung, Ari selingkuh dengan temanku sendiri dan mereka melakukannya dikamar kita hatiku begitu sakit saat tahu hal itu, aku menemui Ari di salon miliknya mataku gelap.

“Sayang dengarkan aku!” Ari menatapku, namun tak banyak bicara helm yang masih kupegang ku pukulkan kekepalanya, semua isi salon tertegun melihatnya Ari lari kejalan raya untuk meminta pertolongan. Aku mengejarnya dengan diikuti Dian.
“Siapa yang mau menolong dia, mau ku apakan terserah dia suamiku”
Semua mata manatapku aku sudah perduli semua tahu tentang aku, saat ini aku begitu sakit, begitu setia aku menjaga hubungan kita teganya Ari menghianatiku. Saat Dian mulai menjajakan dirinya dan mengeruk banyak rupiah aku tetap setia padanya. Aku segera meninggalkan tempat itu dengan motor Dian.

Ketika mentari memancarkan keelokannya aku melangkahkan kaki ketempat Ayu, dia sahabat yang kuanggap sebagai adik karena aku ingin sekali jadi seorang kakak maka aku ketempat Ayu, Ayu selalu memberi nasihat agar aku meninggalkan duniaku namun begitu indah dia merangkai kata hingga aku tak merasa di gurui olehnya. Aku kagum padanya walau dia berjilbab dia tetap membuka diri untuk mengenal aku dan Dian.
Aku menangis dipundak Ayu dan menceritakan kesedihanku, Ayu memprlihatkan rasa ibanya,
“Kakak, mungkin ini jalan Allah yang telah ditunjukkan pada kakak.”
”Tidak Ayu aku masih mencintai Ari aku harus mengembalikan Ari kepelukannku.”
Terlihat airmuka Ayu kecewa dengan jawabanku, aku meninggalkan Ayu dan bertemu mbak Nia teman Ayu, setelah aku bercerita dia mengenalkan aku dengan mbak Anna. Mbak Anna bisa mengembalikan Ari, malam hari aku dimandikan dengan kembang tujuh rupa aku tak hafal macamnya dan airnya begitu wanggi. Dian juga diberi cincin agar dirinya laris.

Benar sekali Ari datang kekos dan mencium keningku berjanji tak akan mengulanginya lagi malam ini berlalu penuh cinta dan kehangatan.
Akan aku jalani hidup ini mengalir apa adanya, aku belum punya keinginan untuk berubah, tapi aku tetap juga berada dalam kemunafikan karena sesungguhnya aku takut dengan semua kenikmatan ini, Ayu tetap berusaha mengembalikanku, menyembuhkan dari sakitku.
Airmata Ayu menitik sambil memberikan sebuah bingkisan untukku, kado ulang tahunku yang sudah lewat hampir satu bulan,
”kakak janji apapun kado dari Ayu janganlah kakak membenci Ayu.”
”Pasti, aku tetap kakakmu yang akan sayang sama Ayu.”
“Semoga yang kakak ucapkan benar.”
Rasa penasaran merayap, kucepatkan langkah kakiku. Ingin cepat aku membuka kado dari Ayu kenapa dia sebpertinya dihantui ketakutan saat memberikannya. Sampai di kamar aku segera membukanya, sebuah buku berwarna coklat berjudul “Bahaya Homoseksual dan Cara Mengatasinya” tanganku bergetar keringatku dingin bercucuran, aku melihat sampul belakang aku membaca sedikit tulisan yang berbunyi “Rasulullah menghalalkan kaum homoseksual untuk dibunuh.”.

Tubuhku didera rasa takut yang amat sangat buku itu jatuh dan tak berani aku membuka isinya, aku belum siap untuk semua itu. Waktu terus memanjakanku dengan kenikmatan yang kurasakan, aku telah lupa dimana buku itu aku simpan dan aku tak ingin membacanya.

Sabtu, 29 Januari 2011

A.S.M

Pernahkah kau merasakan bayangan seseorang mengikutimu, namanya begitu indah saat kita menyebutnya, berdebar saat mendengar suaranya, selalu terkenang kata-katanya, tak menghapus pesannya yang ada diponsel dan selalu membaca pesan itu berulang-ulang terkadang bisa sampai tiga kali dalam sehari seperti kita minum obat resep dari dokter.

Mungkin semua itu kau pernah merasakan, tapi pasti perasaan untuk sang kekasih, ah pasti beda dengan apa yang kurasakan. Aku juga tak mengerti mengapa bisa merasakan semua ini, karena yang kurasakan ini bukan untuk kekasihku namun hanya untuk orang yang begitu singkat ku kenal, kau tau sejak pertemuan pertama aku dengan dia kita berada dalam suatu forum yang ramai tapi kebetulan jarakku dengannya begitu dekat.

Dari gaya bicaranya dia begitu menyukai keindahan, dia cerdas, tiap kata yang keluar dari bibirnya tersa begitu enak didengar aku melihatnya dengan penuh perhatian, kusimak tiap ucapannya. Kutulis kata-katanya yang menurutku penting, tak jarang aku tersenyum. Tak kuduga saat itu dia melemparkan pertanyaan untukku.
“Saya tidak tahu.” Jawabku singkat
Dia tersenyum sambil berkata,
“Kok dari tadi sampean tidak tahu terus.” Aku hanya tersenyum tak tahu arti senyumku, senyum malu atau bahagia dia mengomentariku. Waktu berjalan jadwal kita bertemu sekali dalam seminggu pada hari rabu di forum yang sama tentu dengan banyak orang pula, aku berpikir dia tak mungkin mengingatku. Aku tak peduli, itu biasa dan aku yang akan mengingat dia, karena sebelum bertemu kita tak ada perjanjian jika nanti setelah kita bertemu dia harus mengingatku.

Saat itu pulang dari pertemuan aku mulai mengingat kata-katanya, pertemuan kita membahas tentang Tuhan itu memancarkan keindahan melalui firman-Nya yang diberikan pada manusia dimana manusia dibekali dengan cipta, karsa dan rasa.
Ada pula kata-katanya yang menyinggung tentang cinta dan perasaan, kata dia untuk mencintai kita tak mengunakan logika melainkan perasaan. Sepertinya terbalik sekali dengan apa yang kurasakan, kau kan tahu aku begitu mengedepankan logika dan membuang perasaan. Tapi semenjak kata-kata itu kudengar aku mulai memikirkannya.

Ya, kau tahu kan kalau aku orang yang tidak begitu mengerti tentang apa itu cinta, aneh sekali sejak dia yang berkata aku mulai mengenal apa itu kata cinta yang untuk mencintai aku harus mengunakan perasaan bukan logika. Hampir dua tahun aku menjalin hubungan dengan seseorang namun aku belum mengerti apa itu cinta.

Sebelum bertemu dengan dia, nama dia pernah ku temukan dalam buku Sejarah Sastra Indonesia juga dibuku koleksi perpustakaan sekolah Aliyah dulu. Entahlah aku merindukan pertemuan berikutnya, malang sekali malam rabu berikutnya hujan turun begitu lebat hingga membanjiri jalan-jalan di ibu kota hingga dia tak dapat hadir dalam pertemuan bersamaan jatuhnya air ke bumi airmataku pun jatuh. Biarlah kesempatan ini kubuat untuk lebih fokus mengerti hal yang belum kuketahui, akan kutanyakan nanti ketika pertemuan aku ingin berdialog dengannya tapi aku tak tahu caranya bagaiman, ya dengan bertanya kita akan berdialog.

Hari begitu lama, pertemuan demi pertemuan dengan orang-orang lain tak dapat mengantikannya, kau ingat saat aku begitu sibuk membuat pertanyaan, saat itu aku bersiap bertemu dengan dia sang penulis tentang kehidupan. Tapi sayang dia selalu datang terlambat dan selalu mengakhiri pertemuan sebelum sampai waktunya. Aku berusaha keras membuat pertanyaan untuk dia agar dia tak beranjak pulang tapi ada kalanya aku kehabisan kata-kata tanya untuk dia dan tiap pertanyaanku sudah di jawabnya dengan terampil.

Dia kini mulai mengenalku entah mungkin hanya sekedar mengenalku bukan untuk mengingatku, aku mulai menceritakan mulai menceritakan sesuatu pada dia, entah apa itu.

Kau juga tahu aku orangnya sangat tertutup bahkan dengan saudaraku sendiri aku enggan untuk bercerita apalagi dengan kekasihku aku tak pernah bercerita, tapi aneh aku mulai membuka cerita-cerita padanya. Saat ini aku merasa lebih akrab dengan dia, apa dia beraggapan sama? Aku tak tahu, aku tak pernah menyangkanya menurutku dia orang besar dan aku merasa kerdil dihadapan dia. Namun kutahu dia rendah hati walau terkadang dia membanggakan dirinya itu wajar karena memang patut dibanggakan.

Aku menulis sebuah pesan pada dia. Ketika pesan balasan dia masuk dalam ponselku tak pernah aku menghapusnya, sampai akhirnya ponselku hilang dan tentu pesan-pesan dia ikut hilang. Ah biarlah ponsel itu hilang namun pesan-pesannya masih tersimpan rapi dibenakku, sekecil apapun hal itu aku selalu menganggapnya istimewa.

Kau masih ingat saat kekasihku telepon dan aku menangis, kau pasti mengira aku menangis gara-gara bertengkar. Tidak aku menangis karena dia tak hadir dalam pertemuan karena harus dinas keluar kota, kekasihku pun binggung mendengar aku menangis sesenggukan.
“Kenapa menangis?” tanyanya diujung sana
“Ya, hari ini tidak ada pertemuan dengan dia. Aku benci ketidak hadirannya.”
“Karena dia atau materi yang akan disampaikannya?”
“Pertama karena aku sangat mencintai materinya, kedua karena aku mengagumi dia tentunya. Dan aku benci untuk menunggu hari berikutnya.”
Tak dapat kulihat ekspresi kekasihku diujung sana, dia berusaha menghibur agar aku berhenti menangis, namun ketika ponsel kututup tangisku makin menjadi dan begitu menyesakkan dada. Aku tak pernah mengalami renjana seperti ini pada kekasihku, kau tahu sendiri bagaimana aku tidak begitu peduli dengan itu perasaan.

Tak jarang aku duduk diberanda hanya untuk mendengar dia mengisi pertemuan yang lain, aku mencuri dengar. Ya, aku ingin mencuri. Banyak yang aku dapatkan dari mencuri itu, mungkin dia melihatku mencuri dengar, tapi aku tak perduli.

Dia juga merupakan orang yang telah membuatku bangun dari tidur panjang, ya tidur panjang dari kecintaanku menulis, aku tak menyangka dia sudi membaca karya-karyaku yang tak berharga yang selama ini menjadi koleksi perpustakaan pribadiku. Hampir dua tahun aku tak lagi menulis karena semua yang kutulis tak tahu kemana arahnya tak tahu dimana kurangnya, sesekali aku menulis namun hanya dalam angan. Kini dia mengarahkanku. Saat cerita aku sedang bermasalah dia menyarankan aku untuk menulis pasti lebih mengena.
“Kau sedang mengalami masa subur, kau pasti sedang hamil”
Kurang lebih seperti itu pesan singkatnya yang kuterima, saat itu kau pasti tahu bakso yang kubeli tak kuasa aku memakannya, aku meraba perutku yang lapar, seketika aku duduk lemas dan kukirimkan pesan menanyakan maksudnya mungkin dia salah kirim.
“Tidak. Itu kata yang sering saya gunakan, hamil ide, gagasan, permasalahan.”
Memang aku begitu bodoh, memang dia seperti itu penuh dengan teka-teki tiap ucapannya mengandung makna tersembunyi, kenapa aku tak begitu pintar untuk memahaminya, saat aku menunjukkan pesan itu pada kekasihku nampaknya kekasihku kaget.
“Apa maksudnya? Aku tak pernah menyentuhmu, untuk bertemu saja kita begitu jarang” Tanyanya
“Sabar dibaca pesan yang bawah, aku juga kaget awalnya.”
Senyum kekasihku membias kala membaca penjelasannya, kami tertawa bersamaan.

Hari berganti bulan, masa pertemuan telah sampai pada penghujung perpisahan, rasa ketidak relaan menguasaiku, ingin ku ungkapkan agar dia tahu aku akan sangat kehilangan dia, tapi apa peduli dia tentang aku. Toh tugas dia selesai, tapi bagiku ini baru permulaan aku mulai belajar dari dia. Jika memang ini perpisahan aku belum mengucapkan kata perpisahan untuk dia, aku tidak siap dengan perpisahan yang begitu cepat menjemput.

Aku memohon pada Allah agar mempertemukanku dengan dia lagi dalam pertemuan berikutnya, aku mulai penasaran saat jadwal pertemuan berada ditanganku. Aku tak melihat sebelas huruf yang menunjukkan namanya. Tak dapat kusembunyikan wajah kecewaku dan dadaku terasa begitu sesak. Sepertinya aku akan sulit bertemu dengan dia, nomor ponsel dia kuhapus agar aku tak terlalu memikirka dia. Dalam ponselku dapat dengan mudah kuhapus namun dalam ingatanku nomor itu terus berjajar. Belum sempat aku mengucapkan kata terimakasih dan maaf dia lebih dulu mengirim pesan padaku yang berisi.
“maafkan kalau ada kesalahan saya”
Yang lebih pantas mengucapkan kalimat itu adalah aku, tapi dia memang salah membiarkan aku tak mengucapkan kata perpisahan, aku semakin merindukannya.

Sering kali namanya meluncur dari bibirku,
Pernahkah namaku terlintas dalam benak dia?
Aku hampir selalu mengingat dia,
Adakah dia pernah mengingatku walau sesaat?
Aku begitu bangga mengenalnya,
Banggakah dia mengenalku?

Pada siapa harusnya aku menanyakan semua itu, apa kau bisa membantuku. Ah kau hanya bisa mendengar ceritaku tanpa bisa berkomentar apalagi membantuku menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jangan kau bilang aku harus bertanya langsung pada dia, itu tak mungkin terjadi. Aku begitu menghormati dan menghargai dia, dalam norma kesopanan pasti aku dianggap tidak sopan kalau aku menanyakan semua itu.

Aku akan mencoba mencari jawab dalam tanya dikebisuan malam, dalam kehampaan, dan sepertinya pada perasaanku sendiri aku kan bertanya pasti disana didapat jawaban. Tapi aku terkadang takut jika jawabannya semua tidak. Jika seperti itu biarkan semua dalam angan ku atau biarlah angin membantuku menyampaikan pada dia pasti angin jujur membisikannya.

Kau juga pasti sudah tahu dari dulu aku selalu merasakan kekaguman yang mungkin bisa dibilang berlebihan pada penebar ilmu. Tapi tak separah kekagumanku pada dia.
Kini aku tak lagi bertemu dengan dia, adakah pertemuan lain yang dapat membawaku kembali menemukan senyumnya, tak dapat ku melupakan dia. Sebagai obat kerinduanku Ku pandangi karya-karya dia yang ada di rak buku ku, sepertinya dia menertawakan kerinduanku. Menertawakan kebodohannku.

Perpisahan yang semu tanpa penjelasan. Siapa dia? Dia merupakan orang yang sangat berkesan untukku, ucapan terimakasihku untuk dia tak lagi dapat kuungkapkan, entah itu melalui ucapan atau perbutan. Rasulullah bersabda “Barang siapa tidak berterimakasih kepada manusia, berarti dia juga tidak berterimakasih kepada Allah.” Bagaimana aku berterimakasih pada dia, aku rasa tak pantas jika hanya ucapan “Terimakasih”.

Tak dapat lagi kuceritakan tentang dia, begitu banyak tentang dia yang tak bisa kuungkapkan walau hanya sebatas pertemuan diforum. Dialah orang kedua yang selalu ku idolakan setelah ayah. Ya, dia hampir berdiri sesejajar dengan ayah dalam hatiku. Kenangan yang akan ku simpan rapi dalam angan.

Andai aku berkesempatan bertemu dengan dia sekali lagi, aku akan berkata sesuatu, kau ingin tahu apa yang akan aku katakan pada dia? Tidak, kau tidak perlu tahu. Biarlah itu menjadi rahasiaku dengan Allah. Dan dia orang pertama yang akan mendengarkan kata-kataku.

Dimanapun dia saat ini semoga dia selalu menebarkan ilmunya. Aku merindukan dia, saat ini dan sampai aku dapat berjumpa dengan dia lagi.




Surabaya, Oktober 2010

Kelembutan Sengsara

Badanku terasa begitu berat, enggan rasanya meninggalkan tempat. Walau begitu aku harus tetap memaksakan tubuh ini, tak boleh aku kalah dengan rasa capek, diluar pekerjaanku menanti, kuliahku pun tak lupa aku pikirkan. Aku terlahir dikeluarga yang sederhana tapi aku tak ingin cita-citaku untuk mengenyam pendidikan diperguruan tinggi hanya karena tiada biaya, maka aku selalu berusaha untuk mendapat beasiswa dan bekerja paruh waktu.

Aku masuk perguruan negeri yang berdasar agama ternama di Jawa Timur, biayanya memang tak semahal yang kubayangkan. Namun dengan kondisi seperti ini aku tetap merasa berat.

”Kamu kenapa melamun Rifa?”
“Aku capek sekali Lin, tapi sudah waktunya kerja.”
“Tetap semangat! Mana Rifa yang biasanya?”
“Benar juga aku harus semangat.”

Aku bergegas mandi dan bersiap untuk bekerja, hari minggu aku bekerja sampai pukul sembilan malam, aku menjadi kasir di restoran sebuah mall, aku bersama Lina sama-sama berjuang dari kota tahu campur. Bisa dikatakan aku lebih beruntung dari Lina, Lina benar-benar tidak mampu dan entah ketika pengajuan beasiswa Lina selalu gagal mendapatkan.

Walau dikampus aku tidak begitu berprestasi kebetulan keberuntungan selalu berpihak padaku, dan yang lebih mempermudahku mendapatkan beasiswa mungkin karena aku dekat Pak Mustaqim, beliaulah yang menentukan mahasiswa penerima beasiswa. Pak Mustaqim Dekan di fakultasku sekaligus memegang mata kuliah bahasa Indonesia.

Akhirnya aku sampai ditempat kerja, rasanya begitu lain hari ini. Waktu bergulir begitu lama, detak jarum jam sangat lambat tamu demi tamu kami melayani sepenuh hati, rasa lelah tak menjadi alasan kita para karyawan untuk tidak tersenyum pada para pengunjung. Akhirnya jarum jam tepat menunjukkan pukul 21.00. Pulang.
Angin malam menusuk kulitku dalam perjalanan pulang, Lina dijemput Rudi kekasihnya sedang aku naik angkot sendirian, dingin sekali malam ini. Ponselku berdering tertera nama Pak Mustaqim memanggil.
“Assalamualaikum, ada apa pak?”
“Waalaikumsalam. Kamu dimana Rif?”
“Pulang kerja pak, masih dijalan.”
“Rifa naik angkot? Saya kan sudah bilang jangan naik angkot malam-malam begini, Rifa bisa minta tolong saya untuk menjemput Rifa.”
“Tidak apa-apa pak, saya sudah biasa seperti ini, saya juga tidak ingin merepotkan bapak, saya sebentar lagi sampai.”
“Ya sudah hati-hati tapi lain kali jangan diulangi lagi.”
Pak Mustaqim mematikan teleponnya, aku seperti menemukan ayah ketika bertemu dengan beliau, setelah lama bapak dan ibuku bercerai. Ya ibuku bercerai dengan bapak waktu aku masih duduk disekolah dasar, bapak menikah lagi begitu pula ibu dan aku sekarang tinggal dengan bapak tiri dengan adik dari pernikahan ibu dan bapak tiriku, tapi aku sangat menyayanginya tak pernah terlintas dibenakku kalau Dewi saudara lain bapak.

Meskipun bapak tiriku tak banyak bicara denganku tapi beliau baik, terbukti beliau membiayai sekolahku sampai aku kuliahpun beliau mendukungnya. Turun dari angkot aku masih harus berjalan memasuki gang kosku, lega rasanya bisa sampai. Lina sudah lebih dulu sampai. Aku mandi dan kuteruskan sholat, setelah itu kurebahkan diriku, esok hari telah menunggu dengan segala tantangannya.

Pagi ini aku kekampus seusai mengikuti mata kuliah aku dipanggil Pak Mustaqim keruang dekan.
“Rif, ini namamu sudah terdaftar sebagai penerima beasiswa.”
“Ya pak, terimakasih bapak sudah membantu saya.”
“Sekarang saya mau minta bantuan kamu.”
“Apa yang bisa saya bantu pak?”
“Saya ingin kamu jadi istri kedua saya.”
Kata-kata yang membuatku terkejut luar biasa dan tak pernah kubayangkan kata-kata itu terucap dari bibir pak Mustaqim yang telah kuanggap sebagai bapak, lidahku kelu tak mampu berucap namun aku berusaha keras mengeluarkan suara karena aku tak mau diam, sebagian orang mengatakan diamnya wanita dianggap “ya”.
“Maaf pak, bisa saya membantu bapak dalam hal lain, kalau hal ini maaf saya tidak bisa.” Jawabku tertunduk
“Bagaimana kalau nama kamu, saya coret dari daftar ini.”
“Itu hak bapak, saya terima mungkin masih ada yang lebih membutuhkan dari saya.”
“Baik kamu saya beri waktu untuk berpikir, atau dengan cara lain?” wajah pak Mustaqim mendekat kewajahku dan aku menghindar. Tiba-tiba datang dosen yang lain sepertinya usianya lebih muda dari pak Mustaqim.
“Pak Harun, bagaimana kalau dia ini jadi istri kedua saya?”
“Kenapa tidak pak, sudah cocok.”
“Dia ini anak orang tidak punya pak Harun, untuk biaya kuliah selain beasiswa dia bekerja direstoran dengan pakaian terbuka pak, hingga para tamu leluasa untuk mempermainkannya, itu kan citra tidak baik buat kampus kita, makanya lebih baik jadi istri saya.”
Aku sangat merasa terhina, kenapa semua jadi seperti ini. Aku berusaha membantah kata-kata pak Mustaqim.
“Maaf pak, memang saya miskin tapi tidak benar bapak mengatakan saya bekerja dengan pakaian terbuka. Pak Mustaqim bisa datang ketempat kerja saya.” Aku tetap berusaha dengan nada rendah, walau saat ini hatiku membara.
“O... baguslah kalau kau tetap mempertahankan jilbab kamu. Ya sudah kamu boleh pergi nanti saya kabari lagi.”
“Terimakasih pak, saya permisi. Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam.”
Aku melangkahkan kaki dengan cepat, hatiku terluka aku serasa ditelanjangi didepan umum. Anganku kembali kemasa dimana kebaikan-kebaikan pak Mustaqim telah diberikan namun aku tak menyangka akan seperti ini. Apa memang seperti ini kehidupan di ibu kota.

Hari berganti aku berusaha melupakan peristiwa yang terjadi, dengan menyibukkan diriku dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliahku. Aku tetap bertemu pak Mustaqim dikelas namun sifatnya begitu berbeda, pak Mustaqim merupan satu-satunya dosen yang killer tak begitu pantas untuk membawakan bahasa Indonesia. Beliau sepertinya tak lagi menghiraukan saya.
“Rif sepertinya kamu tak begitu dekat lagi dengan pak Mustaqim?”
“Sepertinya begitu Lin.”
“Kenapa? Aku senang melihat kamu menemukan kasih ayah dari beliau.”
“Beliau sedang sibuk. Ya sudah aku berangkat dulu sampai ketemu ditempat kerja.”
Aku tak pernah menceritakan pada siapapun tentang apa yang aku alami, aku malu walau sebenarnya aku butuh sekali seseorang untuk membantuku mencari jalan keluar atau hanya sekedar untuk berbagi rasa. Aku belum menemukan orangnya dan aku juga belum berani untuk bercerita.

Waktu istirahat tiba di layar ponselku tertera beberapa pesan, ada juga pesan dari pak Mustaqim.
“Nanti pulang kerja pukul berapa”
“Pukul 21.00 ada yang bisa saya bantu pak?”
“Bisa nanti kita bertemu setelah kamu pulang kerja?”
“Maaf pak nanti saya tidak dapat pintu kos.”
“Kamu pulang besok pagi saja.”
“Nanti saya bermalam dimana?”
“Nanti kita sewa kamar diluar, saya mahon dibantu!”
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Saya sering pusing jika hajat saya tersalurkan, saya tidak minta sampai punyaku masuk”
Pesan terakhirnya membuatku lemas ambuk seketika mbak Ria memandangku lalu menghampiriku,
“Kamu kenapa Rif?” tanya mbak Ria, aku hanya diam sambil menangis ku ulurkan ponselku pada mbak Ria, seperti sudah mengerti bahasaku mbak Rifa membaca semua pesan dari pak Mustaqim. Mbak Ria memelukku erat sambil menenangkanku. Aku meminta mbak Ria untuk membalas pesan pak Mustaqim, rasa-rasanya tanganku telah lemas.
“Bapak bisa minta tolong dalam hal lain tapi maaf untuk ini saya tidak bisa, saya takut Allah pak, disebagian ayatnya di katakan janganlah kamu mendekati zina.”
“Dalam ayat tersebut mendekati belum dihukumi, kamu kan Cuma membantu saya.”
Kami berdua tercengang begitu tidak pantasnya seorang yang mengerti agama berucap demikian, untuk apa selama ini bernaung dalam lembaga agama hanya untuk berkedok dan untuk mencari celah ayat suci. Aku sudah tak berani melanjutkan pesan. Pak Mustaqim berkali-kali telepon tapi tak kuhiraukan, Mbak Ria menyuruhku hati-hati takut kalau tiba-tiba Pak Mustaqim menghadangku dijalan.

Kakiku enggan melangkah kekampus, tempat yang dulu sering kurindukan kini menjadi sesuatu yang menakutkan, aku takut bertemu pak Mustaqim. Dengan lesu aku paksakan untuk kekampus. Ketika kuliah usai aku bersemangat meninggalkan tempat yang kini seram kurasakan.
“Rifa, mau pulang?” Tiba-tiba pak Mustaqim tepat didepanku
“Ya pak.” Jawabku singkat tetap dengan nada sopan
“Kenapa telepon saya tidak diangkat? Kamu tidak usah takut kamu hanya membantu saya dan ayat itu belum dihukumi. Pokoknya kapanpun saya masih penasaran sama kamu tetap saya minta kamu untuk membantu saya. Beasiswa kamu sudah keluar.” Jelasnya panjang lebar, aku hanya mematung.

Aku perprasangka kalau bukan aku mahasiswa pertama yang mendapatkan perlakuan seperti ini, entahlah kini hari-hari selalu dihantui kata-kata pak Mustaqim aku takut jika suatu saat iman ini goyah, Ya Allah hanya pada-Mu aku menyerahkan segalanya. Tiap hari aku tetap bertemu pak Mustaqim dikampus wajahnya kian hari ku lihat semakin menyeramkan, begitu jauh saat aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu. Dan aku semakin dicekik rasa takut.

Kamis, 16 Desember 2010

FENOMENA HOMOSEKSUAL DALAM SASTRA

Realitas homoseksual bukan lagi pembahasan baru dalam masyarakat. Namun tidak sedikit masyarakat yang masih menganggap bahwa homoseksual merupakan hal yang tabu, terlebih pada masyarakat pedesaan yang masih kental dengan etika-etika dan berpegang teguh dengan agama.
Lupakan hal yang tabu, disini kita akan melihat fenomenal homoseksual dalam sastra indonesia, realitas homoseksual baik gay maupun lesbian kini sudah banyak ditulis dalam cerpen maupun novel di Indonesia seperti tampak pada novel Tabularasa oleh Ratih Kumala, Nayla oleh Djenar Maesa Ayu, Aku Seorang Gay oleh Betty W. Kusuma, dan Lelaki yang Terindah oleh Seno Gumira Ajidarma.
Dari ketiga novel dan satu cerpen diatas tampak digambarkan adanya hubungan emosional dan seksual sesama jenis. Dalam novel Tabularasa antara Raras dan Violet, dalam Nayla antara Nayla dan Juli, dalam Aku Seorang Gay antara Rexa dan Glen, dan dalam cerpen Lelaki Yang Terindah antara dua orang lelaki yang oleh Seno tidak disebutkan nama nama tokohnya.
Mari kita mencoba mencermati bagaimana fenomena munculnya homoseksual tersebut dalam sastra, apa memiliki hubungan homoseksual dalam realitas. Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah novel yang tersebut diatas didominasi oleh pengarang perempuan.
Dalam novel Tabularasa hubungan homoseksual antara Raras dengan Violet menyebabkan hubungan cinta Raras dengan Galih berakhir, karena Raras memendam hasrat cinta dengan Violet, teman perempuannya. Keputusan Raras untuk meninggalkan Galih, yang telah menjadi kekasih dan menggimilinya, juga diperkuat oleh keberanian sahabat Raras, seorang Gay yang memutuskan menikahi pasangan gay-nya.
Ketika hubungannya dengan Galih, sebagai seorang perempuan Raras dalam Tabularasa tidak dapat menikmati posisi sebagai subjek, tetapi malah bertindak sebagai seorang pengamat, Raras selalu mengamati apa yang Galih lakukan padanya.
Karena tidak dapat menikmati hubungan seksnya dengan Galih, posisi Raras malah menjadi objek seks Galih terlebih dia harus mengandung anak dari hubungan tersebut. Raras pun tersiksa dan menolak kehamilannya dengan melakukan aborsi.
Dalam novel Nayla, hubungan lesbian antara Nayla dan Juli membuat Nayla lebih bebas mengekspresikan hidupnya, berbeda dengan Raras yang hanya memendam rasa cintanya pada Violet, disini Nayla tidak menutupi hubungannya dengan Juli. Dalam Novel Nayla sangat menonjol teori feminisme radikal yang bertujuan persamaan gender. Dalam novel Aku Seorang Gay karya Betty W. Kusuma ini tidak begitu membela adanya kaum gay, Seno Gumira menulis dalam cerpennya Lelaki yang Terindah yang meceritakan tentang bagaimana pria gay dapat menarik pria normal untuk masuk dalam dunianya.
Dari sekelumit contoh karya sastra tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa kaum homoseksual ingin keberadaannya, mereka ingin mendapatkan kebebasan dalam hidup masyarakat tidak lagi dipandang sebelah mata. Karya sastra memang gambaran dari kehidupan. Karya sastra sebagai karya imajinatif , acuan sastra adalah dunia fiksi dan imajinasi mentransformasikan dunia nyata pada dunia fiksi.
Sastra berfungsi membuat manusia melihat apa yang sehari-hari ada dalam kehidupannya namun tidak begitu diperhatikannya, tapi sastra tidak mewakili kelompok tertentu jika ada sebagian yang merasa terwakili oleh sastra itu hak bagi mereka. Majulah sastra Indonesia.

Rabu, 01 Desember 2010

AMUKAN ALAM

Air yang dulu menjadi sumber penghidupan kini menjadi pemangsa yang menyeramkan, tak peduli apapun yang dilewatinya disapu bersihnya, seakan dia telah muak dengan semua ulah manusia yang sombong. Gemuruh warga desa menyelamatkan diri, ada juga yang sempat membawa harta mereka, bahkan binatang piaraan masih sempat diselamatkan, “Kita harus kemana?” para warga bingung dengan keadaan yang kian memburuk.
“Sementara kita di tanggul* dulu.” Kata pak RT, warga hanya menurut apayang diperintahkan pak RT, sambil menunggu bantuan dari pemerintah warga membuat pengungsian, namun banyak juga warga yang takmau ketanggul dan tetap membuat antru** didalam rumah mereka. Sementara cuara hari tampak selalu redup mentari enggan keluar mendung tebal seakan memayungi penduduk desa.
Cacing-cacing keluar dari sarangnya membentuk sebuah tumpukan yang menjijikan, Siti menaikkan kakinya kekursi karena merasa jijik, “ambillah abu taburkan diatasnya pasti cacingnya mati” kata Yadi ayah Siti, Siti menurut dia mengambil abu dan ditaburkan diatas kruntelan cacing-cacing itu, cacing-cacing mengeliat mungkin abu itu membuatnya perih atau kenapa, perut Siti mual, tak lama cacing-cacing itu hilang entah kemana.
Hari makin senja air semakin naik, kini rumah Yadi yang terlatak di atas tanggul kemasukan air, “Sejak bapak lahir tak pernah rumah ini, kebanjiran.” Ucap Yadi pada anak-anaknya, sementara warga yang membuat antru tidak dapat lagi bertahan air hampir menengelamkan atap rumah, mereka segera mendayung perahu bagi warga yang mampu membeli perahu, banyak yang menggunakan jajaran batang pisang.
Hampir limabelas tahun desa yang terletak di pinggiran anak bengawan Solo ini bebas banjir, wargapun lengah sudah tidak lagi sidia perahu seperti dulu, kini warga kelabakan. Sungguh pemandangan yang membingungkan, sebagian warga tidak tidur terus berjaga ditanggul yang rawan jebol, termasuk Yadi, warga kembali gempar mendengar kabar tanggul desa sebelah jebol, warga panik air terus bertambah.
Malam seakan tak berakhir tetap dengan mendung yang bergayut, semua berharap pagi segera tiba dengan kehangatan sang mentari, suara kodok bersaut-sautan mengucapkan selamat datang banjir, kucing-kucing mengeong tak beraturan saling kerah satu sama lain, perlahan rinai menghiasi malam yang mencekam, semua warga diliputi cemas yang dahsyat, ada ibu-ibu yang menangis, anak-anak tidur dengan pulas seharian mereka bermain air tak mengerti itu musibah.
Senyum sekilas terlihat pada warga karena surya kembali menyapa, air sepertinya makin surut, “Jangan riang dulu, ini hanya sementara air akan naik lagi.” Kata Yadi pada warga, Yadi sepertinya bisa memprediksi kejadian sebelumkejadian, “Rasanya tidak cak Di, pasti banjir ini telah usai lihatlah air dalam hitungan jam saja sudah surut banyak.” Kata Hartono, “Kamu kok mbantah cak Di, cak Di itu pengucapannya selalu benar.” Kata Toha, “Bukan membantah tapi kita lihat saja kenyataannya.” Bantah Hartono, “Sudah, jangan berdebat lihat saja nanti.” Yadi menghentikan perdebatan Hartono dan Toha.
Sebagian warga ada yang kembali melihat kondisi sudah aman, namun sebagian ada yang tetap ditanggul. Bantuan dari pemerintah turun berupa mie instan dan beras, ada juga pakaian bekas, suasana mulai tenang dan aman dan mentari tersenyum.
“Air naik lagi.” Teriak pak RT “Kita harus jaga tanggul jangan sampai jebol.” Pak RT menghimbau, warga semua sigap setiap tangan membawa cangkul, ibu-ibu membuat makanan seadanya. Rebusan singkong, jagung, dan kacang tanah yang dipanen dengan paksa dari pada hilang disapu banjir. Bapak-bapak sibuk membendung tanggul yang sudah hampir tak kuat menahan air, aliran kecil telah tampak melewati tanggul, namun segera dibendung.
Tiba-tiba keluar ular kecil dari lubang air, Marno melihat ular nafsu membunuhnya keluar, “Ada ular.” Teriak Marno, “Jangan dibunuh!” Seru orang-orang hampir bersamaan. Terlambat Marno telah mengayunkan cangkulnya tepat dikepala ular hingga terputus jadi dua. “Kenapa kamu bunuh? Memangnya ular itu mengganggumu?” Tanya Hadi, “Jelas ular mengganggu cak.” Semuanya melihat kearah Marno dan Hadi, “Semoga tidak terjadi apa-apa, sudahlah ayo kita pulang” Seru Yadi yang diikuti pak RT.
Berita pebunuhan ular yang dilakukan Marno dengan cepat mengegerkan warga, terutama kaum wanita dilanda takut yang mencekam, beberapa warga memparcayai kalau ular itu penunngu tanggul, mereka takut kalau ular itu di bunuh tanggul akan jebol, semua menyalahkan Marno tapi apa boleh buat semua telah terjadi. Bulan lagi-lagi tak bersinar menambah kelamnya malam.
Malam yang mencekam dan lama akhirnya berubah menjadi pagi yang cerah, disusul dengan siang yang menyengat. Perbincanagan warga masih seputar ular yang terbunuh, “Nyatanya tidak ada apa-apa, pasti semuanya hanya mitos.” Kata salah satu warga. Sinar surya bagai butiran kristal namun tak indah lagi karena panas dan gerah, sepasang pengantin baru yang baru saja menengok ibunya berjalan pulang, tak lama mereka kembali dan berteriak, “Tanggul jebol,tanggul jebol.” Semua berhamburan,dengan singkat air ditanggul amblas, Siti dan ibunya binggung karena Yadi sedang kedesa sebelah menjenguk anaknya dipengungsian.
Semua berhamburan melihat tanggul yang dengan cepatnya longsor, pohon-pohon tumbang, aneh ditengah air yang dahsyat ada pohon pisang yang tetap tegar berdiri tak goyah sedikitpun, perlahan gumpalan-gumpalan itu melebar kesamping, Siti yang saat itu satu-satunya perempuan yang ikut melihat berteriak histeris, dan berlari.
Rumah-rumah yang didataran rendah hampir tengelam, delapan rumah hanyut tak berbekas, satu rumah ambrol sisa separo, sungguh air sedang mengamuk, air yang sempat mengenangi rumah diatas tanggul sekaligus kering, arus sungai sangat deras, seakan siap menghanyutkan segala yang ada.
Pergantian tahun yang memilukan, tiada terdengar suara sorakan seperti biasanya, sampai malam tiba Yadi kembali, Siti mendengarkan perbincangan ayah dan ibunya, “Tadi sempat kulihat ada keganjilan, ini ada hubungannya dengan kematian ular itu.” Ucap Yadi, “Semua hanya kejadian alam pak, tidak ada yang seperti itu, sungguh masuk akal tanggul jebol karena sudah tidak dapat menahan air.” Jawab Siti, sementara gemuruh suara air yang terus gemerojok terdengar menyeramkan dan membuat tiap warga tak dapat memejamkan mata.
“Ada bantuan makanan.” Kata pak RT, “Tidak usah ambil kita sudah punya makanan biar untuk mereka yang tidak punya.” . Seru Yadi pada anak dan istrinya.
Bantuan baru benar-benar datang jika sudah seperti ini, sebuah tenda pengungsian diletakkan didepan rumah Yadi yang pelatarannya luas, wartawan-wartawan televisi merebut mencari informasi, reporter dengan tangkas mewawancarai salah satu warga termasuk Yadi. Listrik padam, warga desa mengeluh karena tidak dapat mengunakan handphon mereka, terutama pemuda-pemudi. Suasana seperti ini dimanfaatkan oleh desa seberang sungai setiap ikut mengisi batrai handphone mereka dikenakan biaya.
Tahun baru yang memilukan, pemandangan yang ironis warga semakin hari semakin kehabisan bahan pangan, segala yang ada disekitarnya sebisa mungkin dijadikan bahan pangan, sampai benar sudah tidak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pangan mereka harus makan mie instan dari bantuan yang ada, sedang alat masak mereka harus dengan kompor dulu yang biasanya warga mengunakan kayu bakar tentu saja merasakan beratnya ekonomi, mata pencaharian tiada, padi-padi yang mulai menguning kini tak ada bekas.
Kondisi memilukan pun masih ada manusia yang gelap mata, mencuri barang-barang yang tergeletak dijalan-jalan tanggul, nasib anak-anak sekolah yang menjelang ujian semesterpun tak karuan, warga benar-benar dilanda kecemasan kalau-kalau semua ini ulah ular yang tidak terima dirinya dibunuh dan akan menghabiskan penduduk desa.
Desa yang dulu rejo*** sekarang sepi sawah yang hijau tak terlihat lagi, semua musnah alam sedang menunjukkan kedahsyatannya pada manusia, entahlah mungkin tanpa disadari manusia-manusia itu menyakiti alam, hingga alam mengamuk, air yang menyegarkan kini menyeramkan dan membinasakan.
Pasrah dan berdoa yang dilakukan penduduk desa bagaimanapun semua harus dilalui sampai dipertengahan bulan januari air sepertinya telah surut, secerca cahaya menyinari hati tiap penduduk, berharap banjir benar-benar berlalu dan mereka dapat memulai kehidupan yang baru.
Harapan mereka terwujud air semakin surut dan hilang bagai ditelan bumi, warga yang sudah rindu dengan rumah mereka segera membersihkan bekas-bekas banjir, sementara beberapa warga yang rumahnya digodol banjir terpaksa masih mengungsi. Keadaan pulih kembali anak-anak berlarian bermain, hanya aroma yang ditinggalkan banjir itutak hilang juga.
Kala semua warga lengah bala tentara air itu siap untuk menyerang kembali, warga pun menjeris kembali.

========================AMUKAN ALAM======================

TUBAN, MARET 2008
* Tanggul : Dataran tinggi di desa
** Antru : Rumah panggung pada saat banjir