SELAMAT DATANG DI HUNIAN SASTRA
SELAMAT DATANG DI HUNIAN PECINTA SASTRA INDONESIA
AYO KITA BELAJAR MENGEKSPRESIKAN DIRI DENGAN MENULIS DAN MENULIS!
Jumat, 17 Mei 2013
Alhamdulillah Yaaaaa
Alhamdulillah, aku sudah lulus sekarang............
berakat bimbingan Bpk M. Shoim Anwar aku dapat menyelesaikan skripsiku dengan cepat. terima kasih bapak.
tanggal 15 Mei aku sidang dan dinyatakan lulus.
AKU DAN SANGKURIANG
Masih ingatkah kalian dengan kisah Dayang Sumbi dan Sangkuriang? Pemuda yang ingin mengawini ibunya sendiri. Mungkin ini yng mengilhami buku berjudul Mengawini Ibu entah apa isinya aku belum tahu, aku ikut bedah bukunya ketika di Jogja. Tepatnya di Perpustakaan yang dikelola penulis kondang Muhidin M Dahlan. Itulah kelemahan kita, bedah buku yang tidak dibarengi audien yang telah membaca bukunya. Dan akhirnya pertanyaan yang ada hanya seputar proses kreatif ah klise sekali dan aku bosan.
Kita tinggalkan bedah buku dan semacamnya, kembali pada permasalahanku. Jangan kaget akan ku katakana pada kalian jika aku mencintai bapakku. Hampir mirip dengan kisah Sangkuriang hanya bedanya aku wanita mencintai bapak, sedangkan sangkuriang mintai ibuny. Tapi kisahku ini tidak sama dengan sangkuriang. Dayang Sumbi waktu itu memang masih muda dan cantik karena doanya pada Dewa, hingga saat bertem dengan Sangkuriang, Dayang Sumbi terlihat seumuran.
Wajar jika Sangkuriang mencintai ibundanya yang jelita. Berbeda denganku. Aku dan bapak selisih 25 tahun. Pasti sulit untuk seseorang mengerti apa yng aku alami. Aku mencintai bapakku sendiri yang telah berusia empat puluh delapan tahun.
Apakah aku lama berpisah dengan bapak? Tidak. Dari kecil aku mulai mencintai bapak. Bapakku berwajah tampan, hingga umurku yang ke 23 aku belum pernah melihat laki-laki setampan bapakku. Maka dari itu aku enggan menikah. Karena aku mencintai bapak. Bukan hal mudah mencintai dia, aku harus menghadapi banyak saingan. Terutama ibuku sendiri. Bapak begitu mencintai ibu, selain ibu berparas cantik, ibu memang wanita hebat.
Walau aku tak secantik ibuku, tapi mudah sekali menarik lawan jenis. Dan semua laki-laki yang jatuh ke pelukanku hanya menjadi kelinci percobaanku untuk menaklukkan bapakku. Kadang aku ingin membunuh ibuku saat cintaku begitu berkobar. Pernah telah kuasah pisau, diam-diam aku masuk ke biliknya yang senantiasa rapi. Hampir ku tancapkan pisau tajam itu, tapi bapak sedang memeluknya. Niatku urung. Aku meraung dibakar api cemburu.
Keesokharinya ibu membuatkanku sarapan kesukaanku, nasi goreng dengan berbagai macam campuran sayuran dan tambahan tomat cabe menambah seleraku. Dalam hati aku bergumam. “Jika semalam sudah ku bunuh, maka sekarang aku tak dapat menikmati santapan pagi.” Ku akui aku memang anak durhaka, tak tahu balas budi. Namun aku tak kuasa menolak cintaku pada bapak. Aku ingin duduk bersanding, tidur dalam peluknya yang hangat sebagaimana sering kusaksikan bapak memeluk ibu.
Bapak sangat baik padaku, diantara anak-anaknya akulah yang paling disayang. Bukan karena aku paling cantik bahkan mungkin aku paling jelek. Tapi karena aku paling cerdas diantara semua anaknya. Entah berapa saudaraku, aku tak ingat lagi. Yang ada di otakku hanya ada bapak. Tak sempat ku pikirkan yang lain.
SARIMBIT
Mall di Ibu Kota semakin menjamur, persaingan semakin ketat. Banyak mall yang menawarkan berbagai fasilitas untuk menarik hati pengunjung. Kini yang sedang tren adalah internet nir kabel yang ditawarkan. Aku pun menikmati fasilitas itu, tujuanku hanya ingin membuka internet mulai dari surel, facebook, google sampai blogger.
Puas dengan dunia maya, aku berjalan menyusuri toko-toko yang ada. Mataku tertuju pada toko batik bernama Klaras, yang memajang berbagai macam batik. Aku terhenti pada sepasang batik yang biasa dikenal dengan sarimbit. Coraknya membuatku ingat pada masa satu tahun yang lalu.
***
Aku sering mendengar ungkapan “cintai dengan sederhana”, namun cintaku padanya tak bisa sesederhana itu. Usia yang terpaut 10 tahun tidak membuat cintaku reda, aku mencintainya sebagaimana api melahap kayu bakar, mirip sajak Sapardi Djoko Damono. Aku tahu dia pasti seperti itu pula. Dia mengayomi dan menjagaku. Hubungan kami benar-benar sempurna, apalagi orang tua kita saling merestui, lengkaplah sudah.
Bulan Februari tiba, saat para pasangan kekasih saling menunjukkan kasih saying mereka yang biasa diungkapkan dengan hadiah. Namun kami berbeda, Mas Iman mengajakku membeli sarimbit.
“Ah, apa tidak terkesan resmi sekali.” Celotehku
“Siapa bilang? Batik cocok segala suasana. Dan ini budaya harus dilestarikan.” Mas mulai menggurui, aku tertawa dalam hati lalu mengangguk.
Sepertinya tak ada pasangan sebahagia kita, kurang setahun lagi aku lulus SMA dan mas Iman akan segera meminangku menjadi pendampingnya. Aku tak sabar.
“Nurul, apa kamu sudah benar-benar mencintai Iman?” Tanya bapak tiba-tiba
“Tentu, kenapa bapak bertanya seperti itu lagi.”
“Hanya memastikan. Jika bapak ingin kamu kuliah dulu bagaimana?”
“Maksudnya saya belum boleh menikah?”
Bapak tak melanjutkan bicara, lalu melangkahkan kaki ke Musholla.
Setahun berlalu, rupanya begitu cepat karena aku selalu menikmati hari-hariku yang indah, aku lulus dengan nilai yang tidak begitu memalukan. Sepulang mengajar mas Iman ke rumah. Jantungku berdetak dengan kencang keringat dingin bercucuran. Betapa bahagianya aku, Allah begitu baik padaku. Di dalam kamar aku menunggu pembicaraan bapak dan mas Iman.
“Apa kabar Iman?”
“Alhamdulillah pak. Bapak bagaimana?”
“Ya, seperti yang kamu lihat. Bapak sehat.”
“Ibu di mana pak?”
“Masih ada pengajian. Ada yang mau disampaikan nak Iman?”
“Iya pak, dik Nurul sudah lulus. Seperti janji saya dulu saya akan melamar dik nurul besok atau lusa saya akan dating dengan orang tua saya.”
“Sebelumnya bapak minta maaf, bukan bapak menolak niat baik nak Iman. Hanya saja bapak ingin adikmu kuliah dulu. Jika kau memang mencintainya tunggu sampai dia lulus.”
“Saya tidak keberatan, akan saya sampaikan kabar ini pada orang tua saya pak. Semoga akan mendapat keputusan terbaik.”
“Syukurlah jika kamu memahami.”
Entah bagaimana kelanjutan dialog itu, aku sudah lemas tak mampu mendengar dengan rinci. Bapak pasti memaksaku kuliah dan ingin menjadikanku guru. Ya, bapak kepala sekolah pasti malu jika punya anak yang tidak berpendidikan. Secepat ini kebahagiaan berganti.
“Nduk.” Suara bapak mengagetkanku,
“Ada apa pak?”
“Kamu menangis? Kamu sudah dengar pembicaraan bapak dengan Iman?” aku hanya mengangguk.
***
Rupanya keluarga mas Iman tak bersedia menunggu kelulusanku, karena usia mas Iman yang kian bertambah, aku tetap belum mau kuliah. Dan bapak memondokkanku disebuah pesantren. Agar aku tak dapat bertemu mas Iman, namun diam-diam kami tetap bertemu. Ketika aku pulang mas Iman yang mengantarkanku. Akhirnya bapak mengetahui perjumpaan kami, bapak semakin murka.
Enam bulan kemudian aku menerima undangan, mas Iman menikah dengan tetangganya. Aku terpukul. Aku menangis. Dadaku sesak. Hancur, luluh lantak. Ditengah keterpurukanku mas Iman menelponku.
“Dik, nanti datang ya.”
“Aku tak sanggup mas.”
“Demikian juga aku, jika kamu tak datang maka aku akan merasa berdosa menghancurkanmu.”
“Baik, aku akan datang dengan satu syarat. Kita pakai sarimbit yang pernah kita beli dulu.”
“Tentu, yang penting kau hadir.”
“Ya, aku akan hadir.”
Janur kuning indah menghiasi, aku melankahkan kaki dengan pasti. Aku tak tahu apa mas Iman benar-benar memakai sarimbit di malam pernikahannya ini. Aku tak peduli. Aku memasuki keramaian, semua orang memandangku ketika mas Iman menghampiriku dengan mengunakan sarimbit. Dia memenuhi janjinya. Orang-orang saling berbisik entah apa yang diperbincangkan.
“Mana istrimu mas?”
“Dia di dalam, aku sudah cerita semuanya. Dia tak mau menemuimu.”
“tidak apa-apa, aku juga tak berlama-lama. Aku senang kita bisa pakai sarimbit ini lagi, walau dengan suasana yang berbeda. Aku tetap mencintaimu mas.”
“Aku juga dik.”
Kemudian aku pamit, aku tak tahan ingin menangis. Sampai di rumah, aku mengunci kamarku dari dalam meraung, aku tak dapat melakukan apa-apa selain menangis sambil memeluk foto mas Iman. Berhari-hari aku tak keluar kamar, bapak dan ibu bingung.
Bapak mendibrak pintu kamarku, didapatinya aku bermandi air mata.
“Apa yang kamu lakukan nak?” bapak mengambil foto mas Iman dari pelukanku
“Apa kamu masih mencintainya dan ini yang membuatmu seperti ini?” aku mengangguk pelan. “Berarti kamu menyalahkan bapak, atas semua ini nak? Jangan siksa dirimu seperti ini.” Aku tak mampu berkata-kata.
Mungkin sudah dua minggu aku tergeletak, aku sangat rindu mas Iman. Aku tak kuat, aku mengambil ponsel lalu mengirim pesan untuknya
Mas, aku kangen
Terkirim:
Mas Iman
+628133050xxxx
16-Mei-2010
22:55:30
Lama aku tunggu tak ada balasan, aku semakin sakit. Aku tak dapat memastikan aku tidur atau terjaga. Tak ada siang maupun malam. Semua sama KELAM. Tiba-tiba ponselku bordering, tertera nama Mas Iman. Aku segera menjawab dengan gairah.
“Mas, kenapa tak kau balas pesanku?”
“Maafkan aku, semalam istriku yang membuka pesanmu. Dia menangis, aku bingung dik. Aku belum mampu menyentuhnya. Aku mencintaimu. Tapi tak tega aku menghianati istriku.”
“Apa dia marah pada kita mas?”
“Tidak, dia yang merasa berdosa hadir di tengah cinta kita. Sudahlah, kau harus bangkit. Jangan sakiti dirimu. Lihat orang-orang yang mencintaimu dik.”
“Aku, ingin bersamamu mas.”
Segera ku putus telepon. Aku tak sanggup lagi berlama-lama. Remuk redam sudah hatiku. Entah apa yang kemudian akan terjadi pada hatiku.
***
Kini aku meneruskan kuliahku di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, seperti keinginan bapak. Tapi aku bukan Nurul yang dulu. Aku menjadi Nurul yang berhati keras, aku tak lagi dapat merasakan cinta. Hatiku telah mati, semua pria yang mendekatiku tak pernah ada yang ku hiraukan. Biar aku jalani semua sendiri. Aku akan tetap menunggu menjadi istri mas Iman. Kembali menggenakan sarimbit seperti dulu.
Surabaya, Mei 2012
Pro dan Kontra Tokoh pada Pengarang* (Catatan untuk M. Shoim Anwar)
Kiai Jogoloyo, Kiai Bandrun, Santi, dan Tandijaya sedang berkumpul. Mereka saling membeberkan takdir yang tertulis dalam diri mereka. Takdir yang tidak mengenakkan menurut mereka. Kiai Jogoloyo membuka pembicaraan.
“Aku sungguh tidak terima penulis itu mempermainkan lakonku.”
“Demikian saya Yai,” Tambah Santi
“Sekarang begini saja, kita bergantian cerita atas semua ulah pengarang pada kita. Akhir baru kita simpulkan apa yang sebenarnya dia mau dengan menjalankan lakon kita seenak udelnya.” Jawab Kiai Badrun bijak.
“Baiklah, jika demikian saya akan bercerita lebih dulu Yai,” ucap Tandijaya. Mereka mengangguk bersamaan.
“Saya sangat kesal dengan dia, bisa-bisanya dia menjadikan saya selingkuh dengan gadis 25 tahun lebih muda dari saya. Tapi bukan itu masalahnya, yang saya paling tidak suka ialah ketika Santi harus sakit. Dan istri saya mengetahui perselingkuhan kami.
“Harusnya dia bisa memposisikan dirinya, jika ia menjadi saya. Berat sekali menjalani hidup menjadi Tandijaya. Saya kadung mencintai Santi namun tak bisa melepas istri saya. Ketika Santi sakit saya ingin mendekapnya dan memberinya semangat untuk bertahan. Tapi jauh dari yang saya inginkan,istri saya malah yang dating melabrak keluarga Santi.”
Santi menangis mendengar menuturan Tandijaya, sambil membenahi jilbabnya ia mulai bicara.
“Aku tidak masalah menjadi tokoh yang jatuh cinta dengan pria 25 tahun lebih tua, dengan senang hati aku menjadi wanita perokok, menjadi mahasiswa yang tidak kunjung lulus. Dan sedikit ada kebanggaan dalam diriku ketika menjadi wanita yang kuat. Paling tidak aku bisa merasakan teori feminisme, tapi tampaknya penulis itu tetap membela kaum lelaki. Tokoh perempuan tetap dibikin lemah dan nelangsa.
Aku harus penyakitan, menjadi penghuni tetap rumah sakit. Mendapat cemooh dari istri Tandijaya. Bagaimana aku bisa terima. Jika dia ingin membuatku menjadi wanita yang kuat. Mengapa tidak total seperti tokoh Firdaus ciptaan Nawal. Apalagi akhirnya aku harus menyerah dengan keadaan dan memakai pengbungkus kepala ini. Sungguh menyebalkan.” Muka Santi memerah lalu disulutnya sebatang rokok.
“Kiai Jogoloyo, bagaimana apa anda mau berbicara?” Tanya Kiai Badrun
“Tentu, rasanya aku ingin membalik lakonku dengan dia. Kalian pasti sudah tahu bagaimana dia menulis tentang diriku. Aku merasa dilecehkan. Bagaimana mungkin dia menulis tentang Kiai yang masuk partai dan mati mengenaskan. Sungguh tidak punya sopan santun. Dia harus tahu, jika dia tidak cepat mematikanku dalam peristiwa memalukan usai kampanye itu. Aku akan mengubah dunia politik. Aku yakin politik akan lebih berperikemanusiaan. Aku akan membenahinya, kerena perlu diketahui. Di sana harus ada orang-orang beragama. Kalo tidak malah semakin buruk. Tapi dia tergesa membunuhku.
“Tidak sepatutnya pula dia mengubah pesantrenku dengan kelakuan santri yang nyleneh. Santri-santriku semua nurut padaku. Dan penulis itu harusnya tahu tanpa aku ada di pondok tidak akan mengubah perilaku santriku. Jelas ini mempermalukan sekaligus melecehkan dunia pesantren terutama mencoreng nama Kiai. Hingga tak punya wibawa di masyarakat.
“Masih tidak puas dia merusak hidupku. Di akhir cerita ditulis pula politikus partai kecemplung kali. Kenapa sampai sedemikian dia membenciku.” Sambil menuding tulisan yang dimaksud. Lalu buku ungu itu ditutup.
“Sekarang giliran saya.” Kiai Badrun berucap namun ada yang memotong.
“Tunggu, saya ingin lebih dulu.”
“Kamu Olive?” perempuan itu mengangguk dadanya tampak rata.
Kiai Jogoloyo, Santi, Tandijaya, dan Kiai badrun pun menanti Olive bicara. Tapi Olive trus meraung sambil memegang dadanya. Kemudian bangkit menuju rak buku. Matanya mencari salah satu judul buku. Karena takkunjung didapat dia melempar tiap buku yang dipegang. Kiai Badrun berdiri membantu Olive. Seakan mengerti apa yang dicari Olive. Dengan cepat Kiai Badrun mengambil buku bersampul sketsa perempuan telanjang.
“Ini yang kamu cari Olive?”
“Benar, aku muak melihatnya. Aku ingin membakarnya.”
“Tenangkan hatimu, duduk dulu. Tidak baik seperti ini.”
“Kita harus memusnahkannya agar kita tak diperbudak cerita mengerikan ini. Kiai tak tahu apa yang aku alami?”
“Saya tahu, kedua payudaramu diangkat. Kamu kena sipilis. Ditinggal kekasihmu. Saya paham.”
“Lalu kenapa Kiai tampak membela penulis itu.”
“Iya, kenapa Kiai Badrun tampak membelanya? Bukankah diawal kita sepakat tidak setuju dengan semua yang dia tulis?” Kiai Jogoloyo ikut bicara
“Di awal saya bilang. Nanti kita menyimpulkan apa yang dia inginkan dengan menjadikan kita sebagai lakonnya. Bukan langsung main bakar.”
Rahman tiba-tiba muncul dengan suara yang sangat ngotot
“Benar, bakar saja bukunya. Termasuk ini.” Ia mengambil buku ungu yang tadi dipegang Kiai Jogoloyo.
“Aku telah salah memarahi Dokter Heri, bukan dia yang salah mencangkokkan jantung babi. Tapi penulis itu. Enak saja, aku lebih baik mati dari pada membawa jantung babi ini. Sok jadi dokter!” Rupanya kemarahan Rahman mendatangkan tokoh-tokoh yang lain.
Sogol, Bardo, Ratri, dan Qafi tampak merah mukanya. Kiai Badrun tampak bingung. Tapi tetap tenang menanyai satu-satu apa yang akan mereka ucapkan.
“Kenapa dia tidak memandikanku dengan tuak?” Tanya Sogol
“Sulasih istriku, kenapa dibuat selingkuh dengan kawanku?” Bardo membentak
“Aku begitu haus birahi, seperinya dia sengaja menyiksaku mehanan hasrat yang begitu dalam. Sebelum hasratku terpenuhi, suamiku mati terbakar. Hiks hiks hiks. Tega sekali dia menulis begitu. Apa sekarang dia akan memenuhi hasratku?” Ratri dengan isakan tangisnya.
“Aku mencintai Prabandari, tapi dia tak mengabulkannya. Ah biadab!” Qafi memukul meja kerja penulis.
Menyusul Suparjan yang keberatan menjadi TKI illegal. Ruang kerja penulis makin sesak. Kiai Badrun kemudian bicara.
“Sekarang kita tenang semua. Dalam hidup pasti ada dua kutub. Sekarang kita marah, kesal,mengutuk. Tapi sekarang kita panggil teman yang lain pasti ada yang merasa senang dengan penulis ini. Kita tidak boleh melihat dengan satu sisi. Pasti cacat jadinya.”
“Sudah tak usah banyak pertimbanganlagi, sudah jelas kita rugi.” Kata Tandijaya, diikuti sorak kawan-kawannya.
Santi, Olive, Ratri, dan tokoh wanita lainnya saling menggerutu kenapa wanita selalu dibuat sengsara. Tiba perempuan tawanan mengeluhkan hal yang sama. Giliran Prabandari angkat bicara
“Tidak semua dibuat seperti itu, buktinya aku wanita yang hebat. Sudahlah bagaimanapun aku membela penulis.”
“Ya, karena kamu mengalami suatu yang baik.” Sergah mereka
Di tengah-tengah muncul Turno, dia mengamati sekelilingnya tampak sesak dia berdehem lalu bersuara.
“Apa yang kalian lakukan beramai-ramai seperti ini. Kalian merasa dirugikan? Aku merasa sebaliknya. Walau dalam cerita aku miskin, dianggap PKI tapi aku senang. Aku mengemban amanat yang harus ku sampaikan pada pembaca. Bukan hanya aku yang merasa senang dengan penulis ini. Banyak. Aku tak bisa menerangkan dengan jelas. Tapi aku pernah mendengar penulis ini menjawab pertanyaan mahasiswanya. Kenapa semua kisahnya menyedihkan?
“jika kisah ditulis menyenangkan maka tidak akan menimbulkan perenungan. Dan dengan ditampakkan kesedihan maka diharapka pembaca akan melihat kebahagiaan. Dengan diciptakan kejahatan maka pembaca akan mengalami katartis. Maka yang terniang dalam benak pembaca adalah mencegah bagaimana kejahatan yang demikian tidak terjadi.”
“Kalian belum puas meneriakinya. Coba bacalah pengakuannya tentang penciptaan kita.
Para tokoh saya berakhir dengan tragis bukan karena saya ingin bertragis-tragis. Para tokohnya terlibat kekerasan bukan karena saya ingin berkeras-keras. Mereka memberontak bukan karena saya ingin memberontak. Mereka tak berdaya bukan karena saya ingin tak berdaya. Mereka meledak bukan karena saya ingin meledak. Hidup mereka menjadi demikian karena ada semacam tutntutan di bawah ambang kesadaran para tokohnya. Hokum sebab akibat tiba-tiba menemukan polanya tatkala bersentuhan dengan dunia cerpen
Nah apa kalian telah sadar? Dia bukan sengaja menuliskan kita begitu saja. Tapi jdia juga mengemban moral.” Semua diam, Kiai Badrun mangut-mangut.
“Tapi kenapa dia menanamkan dendam begitu dalam padaku, hanya karena sebiji pisang?” mereka dikejutkan suara Kusmo. Semua diam namun seluruh mata tertuju pada dua Kiai. Kedua Kiai itu saling berpandangan seakan berisyarat Kau saja yang menjelaskan.
Namun tiba-tiba terdengar suara kaki menaiki anak tangga, semakin mendekat keruang kerja penulis. Sepertinya tak salah memang suara kaki itu adalah kaki penulis yang akan menciptakan tokoh tragis, keras, miskin, tak berdaya, menderita, pendendam, dan entah apalagi yang kan dilahirkan sesuadah dia bersetubuh dengan kehidupan yang berhasil menghamilinya.
Para tokoh berlarian kembali pada cerita masing-masing, tetap pada keganjalan. Tidak terima akan perlakuan penulis. Tak lama penulis masuk ruang kerjanya. Matanya langsung tertuju pada buku yang tercecer di lantai dan meja. Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah, Asap Rokok di Jilbab Santi, Perempuan Terakhir, Oknum, Musyawarah Para Bajingan, Soeharto dalam Cerpen Indonesia dan buku karya yang lain. Penulis mengerutkan keningkan sambil mengambil buku-buku tersebut. Dia mengingat-ingat kapan pernah membiarkan buku berserakan. Ruangan tampak hening. Ditata kembali buku-buku itu di rak. Sambil berpikir, mungkin anak-anaknya yang mengambil dan tidak mengembalikannya. Kini tangannya menyalakan layar monitor dan entah nasib bagaimana yang dia tulis.
*Sekelumit kisah ini tidak ada niatan melecehkan penulis. Namun merupakan apresiasi saya dalam karya-kaya beliau.
Salam....
Surabaya, 05 Agustus 2012
PUSARAN
“Bagaimana kerja hari ini?”
“Tak cukup baik, aku tidak bisa bekerja.”
“Masih tentang Papamu itu? Sudahlah lupakan dia.”
“Bagaimana kau bisa katakan itu Ndra, kau tahu bagaimana aku mencintainya. Kamu jangan munafik. Kamu juga berat kan melepaskan mamamu?”
“Iya Cit, tapi setidaknya aku mengerti tentang dia. Tidak seperti kamu.”
“Bagiku aku dan kamu tidak ada bedanya.”
“Pesan apa? Jelas beda Cit?”
“Terserah kamu, aku tak ada selera untuk makan. Aku sudah seminggu tidak bertemu Papa.”
“Malas aku jika kamu bahas dia, kamu harus sadar diri. Memang aku tidak menyalahkanmu tapi setidaknya kamu bisa tahu bagaimana harus bersikap. Aku mencintai mama tapi ku tahu bagaimana untuk kedepannya, jadi aku tetap membuka hati untuk yang lain bukan seperti dirimu”
“kamu sama saja dengan orang-orang ku kira kau bisa mengerti apa yang aku rasakan.”
“aku mengerti, aku juga merasakannya. Ini memang dosa terindah tapi setidaknya kita bisa mengendalikaan diri.”
***
“Pulanglah sayang, sudah malam. Ingat harus lebih dewasa, ini di kantor. Nanti kita jalan-jalan.”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:27:37
“Tidak ada jalan-jalan, Papa tidak memikirkan saya. Dari tadi saya menunggu tapi Papa tidak menghiraukan. Saya tidak akan pulang.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
22:32:11
“Jangan sayang, ini belum kiamat. Hari esok masih panjang, jangan menyiksa diri. Ingat ya, harus lebih sabar.”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:40:34
“Papa sudah tidak sayang, saya tidak akan pulang sebelum diusir satpam Pa. Saya sudah bilang kita pulang bersama, tapi Papa tega ninggalin.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
22:45:09
“Ya, besok kita bertemu. Tenangkan diri, ini bertengkar dengan Nyonya kalau keluar lagi.”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:51:10
“Pulang ya? Pulang sayang. Besok malam kita ketemu. Pulang ya? Jangan merendahkan jabatan sekertaris yangg kau pegang. Ya?”
Ke:
Hc
085231245XXX
23:08:34
“Tidak ada urusannya dengan jabatan.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
23:11:50
“Pulang sayang. Pulang ya. Apa itu caramu untuk menteror papa? Jangan kau sakiti diri sendiri. Pulang ya?”
Ke:
Hc
085231245XXX
23:13:13
“Saya memang sakit jiwa. Saya tidak menteror siapapun.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
23:19:41
“Ayo ini sudah malam, kawanmu pasti cemas. Papa juga jadi tidak tenang sayang.”
Ke:
Hc
085231245XXX
23:31:15
“Ini kantor mulai gelap, saya mau jalan-jalan saja.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
23:37:51
“Mau kemana? Nanti kamu bisa diperkosa.”
Ke:
Hc
085231245XXX
23:38:01
“Saya bisa jaga diri, sudah ponsel saya matikan saja. Selamat istirahat.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
23:40:01
“Tapi tidak bisa menjaga diri dari kekerasan lelaki, kalau masih anggap Papa. Pulang.”
Ke:
Hc
085231245XXX
Tunda
“Nampaknya aku sudah tidak berguna.
Ke:
Hc
085231245XXX
Tunda
***
“Aku semakin binggung.”
“Kenapa? Ada masalah dengan kekasihmu?”
“Iya, dia semakin tak bisa lepas dariku. Bagaimana brondongmu?”
“Aku sudah mengingatkan dia, aku sepuluh tahun lebih muda darinya dan sudah berkeluarga. Tapi dia tetap mencintaiku, kemarin ulang tahunku dia membelikan baju dan boneka kucing untukku.”
“Dia juga sama, memang akulah yang salah. Seharusnya aku tak menyambut cintanya, harusnya dari dulu aku menyadarkannya. Aku kasihan dan aku juga terlanjur cinta namun tetap rasional. Semalam dia tak mau pulang karena aku tinggal pulang.”
“Tiada yang salah, semua sudah ada yang mengatur.”
***
“Sekarang di mana?”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:10:02
“Halte.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
22:10:42
“Apa kamu pingin papa ke sana? Ini udah dirumah.”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:15:15
“Terserah Papa.”
Pengirim:
Hc
085231245XXX
22:17:50
“Tunggu, jangan kemana-mana. Papa perjalanan.”
Ke:
Hc
085231245XXX
22:30:01
***
“Kenapa lagi? Apa papa punya salah?”
“Papa masih Tanya kesalahan papa dimana?”
“Sudah, sekarang mau apa? Pasti belum makan. Ayo makan!”
“Tidak, aku tak mau makan. Aku hanya mau sama papa.”
***
“Ma, aku ingin bersama mama setiap saat.”
“Tapi, adik harus tahu. Saya sudah berkeluarga, adik bisa setiap saat bersama saya jika dikantor seperti ini.”
“Aku ingin lebih.”
“Ya, kita bisa makan di luar.”
“Lebih dari itu.”
“Candra, jangan mendekat lagi.”
***
Aku tak pernah tahu bagaimana awalnya, aku sangat menyayangi sekertarisku. Dulu dia hanya karyawan biasa, namun karena kepandaiannya, dia aku angkat sebagai sekertaris. Aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Ketika ada rapat dia yang mendapingiku. Hingga akhirnya aku mengajak dia ke luar kota. Awalnya aku hanya iseng dari pada sendiri, namun dia langsung mengiyakan.
Kita tidur satu kamar di sebuah penginapan kota buah, sudah jelas dingin bukan main. Dia berbaring menghadap tembok, tanpa selimut. Pasti dia kedinginan. Aku selalu mendengar gerak tubuhnya, hingga dini hari dia masih terjaga. Ku beranikan tanganku meraih tubuhnya, dia tidak menolak. Aku membiarkan tanganku meraba dadanya kali ini dia menangkis halus tanganku. Namun aku tetap memeluk erat tubuh dinginnya.
Kini hubungan itu semakin jauh, dan begitu mencintaiku. Tak bias lepas lagi. Aku bingung. Bagamana!
***
Papa, aku mencintaimu. Tapi kini sepertinya kau semakin menjauh dariku. Dulu awal aku mengatakan rasaku padamu kau sambut dengan hangat. Hingga memnita izin untuk menikmati tubuhku, dengan senang hati ku serahkan. Kau pernah mengirim pesan. Aku mulai berarti dalam hidupmu, kau memintaku untuk tak meninggalkanmu. Tapi kini siapa yang meninggalkan. Kaulah yang meninggalanku Pa.
Apa aku menyesal? Tidak, aku akan mengenangmu Pa. mengenang gairahmu, baikmu dan petuahmu. Semua tentang kamu Pa. Jeruk hangat, degan tanpa es dan gula, tanganmu yang selalu memegang perut ketika memimpin rapat. Bau keringatmu. Aku merinduanmu Papa.
***
Citra, teman wanitaku mencintai pria 25 tahun lebih tua darinya, gila. Kukira dulu aku paling gila mencintai wanita yang 10 tahun lebih tua. Aku selalu menasihatinya agar jangan merusak rumah tangga orang. Aku selalu bilang habiskan semua lelaki di bumi ini tapi jangan yang punya istri. Hahaha aku tertawa sendiri bagaimana aku menasihatinya, sedang aku sendiri mencinta istri orang.
***
Kenapa nasibku hampir sama dengan kawanku, dicintai orang yang jauh lebih muda. Tapi sepertinya gadis yang mencintai kawanku itu lebih parah. Jika aku mendengarkan certia dari temanku, dia ku simpulkan GILA. Bagaimana tidak dia tak bias makan tanpa kawanu, selalu menangis dan selalu, selalu, selalu ingin bersama kawanku. \
Aku terkadang ingin marah dengan gadis itu sealigus kasihan. Tak akan mungkin kawanku ma uterus bersamanya, istrinya jauh lebih cantik, kaya dan terpandang. Sedang gadis itu hanya seorang sekertarisnya yang tidak akan makan jika tak digaji kawanku. Aku menduga kawanku hanya kesihan dengan gadis itu, walau dia tak pernah mengatakan jujur padaku tentang itu. Tapi aku bias menebak, karena kawanku orang yang sangat baik.
Bagaimana akhir semua ini, semua seperti mimpi saja. Oh aku ternyata meridukan Candra.
Kenangan, Malang 11 Juni 2011
Sabtu, 31 Desember 2011
Termanggu
Jemariku menari di atas kebord
menyentuh lembut huruf demi huruf
Namun masih kelu, kosong, hampa
tak berbentuk apapun
angan tak tercapai
anganku mendapatkannya musnah
menyentuh lembut huruf demi huruf
Namun masih kelu, kosong, hampa
tak berbentuk apapun
angan tak tercapai
anganku mendapatkannya musnah
Selasa, 27 Desember 2011
Bisu
Apa yang harus aku lalukan ketika merindukan?
salah menuang anggur pada cawan yang telah penuh.
aku memaksakan anggur itu hingga tumpah tercecer, menyiram luka mengangga.
kau tak peduli dan terus membisu dengan angkuh, menertawakan aku yang sekarat karenamu. kau bahkan mungkin menikmati kesakitanku.
BIADAB
salah menuang anggur pada cawan yang telah penuh.
aku memaksakan anggur itu hingga tumpah tercecer, menyiram luka mengangga.
kau tak peduli dan terus membisu dengan angkuh, menertawakan aku yang sekarat karenamu. kau bahkan mungkin menikmati kesakitanku.
BIADAB
Kamis, 06 Oktober 2011
PAKET MAYAT karya M. Shoim Anwar
Membaca cerpen M. Shoim Anwar kita akan di bawa ke kejadian-kejadian yang mengejutkan, sastrawan yang lahir di Jombang Jawa Timur ini telah memberi arah baru dalam kesusastraan Indonesia, baru dalam ceritanya dan gaya bahasanya.
Gaya bahasa yang digunakan dapat dianggap sebagai gaya yang baru dan berbeda, walau settingnya diluar negeri namun M. Shoim Anwar tidak menghilangkan bahasa-bahasa akrab yang biasa di gunakan di Indonesia dalam percakapan antar tokoh, kita lihat pada dialog Aku dan Suparjan, “Ya untuk sangu berangkat saya ke sini ini.” kata “Sangu” bisa saja di tulis dengan “uang saku” atau “biaya” tapi pengarang punya perhitungan lain, dengan bahasa yang sederhana pengarang menyampaikan cerita, membuat pembaca serasa akrab dengan cerita.
Selain unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra, Sastra juga mendapat pengaruh dari agama, adat istidat, hukum, pendidikan, politik serta sosial, dalam pengertian sastra adalah segala tulisan yang mengakibatkan beberapa pemikiran, jika kita lihat lebih dalam cerpen ini terdapat pengaruh fungsi-fungsi sosial.
Teori sosial sastra sudah muncul sejak sebelum masehi. Sastra di anggap sebagai unsur kebudayaan yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi masyarakatnya, karena pada awal perkembangannya tidak dapat di pisahkan dari kegiatan sosial. Dalam bukunya yang berjudul Teori Kesusastraan Wellek dan Warren menyinggung tentang masalah sastra dan masyarakat.
Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik satra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. (Welleck & Warren, 1990:109).
Novelis tidak mempunyai jalan pintas. Dunia yang diciptakannya akan dikontraskan dengan kebanaran di bidang ilmu sosial. Fungsi utama sastrawan adalah membuat manusia melihat apa yang sehari-hari ada didalam kehidupan, dan membayangkan apa yang secara konseptual dan nyata sebenarnya sudah di ketahui (Welleck & Warren, 1990:30-31).
Dari kutipan-kutipan di atas kita dapat melihat karya sastra juga dapat di jadikan kritikan atau penyampain pesan pada masyarakat, dan kebanyaakan karya satra ditujukan utuk para pemimpin-pemimpin bangsa. Kritikan tak harus dengan dengan kata-kata yang yang menentang atau kekerasan, tetapi penolakan juga bisa disampaikan dengan bahasa yang santun, indah, dan perlambangan.
Suparjan adalah adik iparku. Sudah sembilan bulan dia bekerja di sini. Dulu aku menyarankan agar dia masuk lewat jalur resmi. Tapi rupanya dia punya perhitungan lain. Dia ikut-ikutan jalur gelap. Aku membayangkan pasti dia diangkut kapal laut saat malam hari. Ketika jarak sudah dekat, dia pasti dipaksa mencebur ke laut dan berenang ke tepi hutan. (150)
Penggalan cerpen diatas menerangkan begitu sengsaranya menjadi seorang bekerja liar, yang selalu takut adanya operasi sampai rela berenang dilaut, disini kita lihat pengarang menyampaikan agar tidak ada lagi pekerja liar seperti Suparjan, hendaknya kita lewat jalur resmi agar tidak di hantui rasa ketakutan. Karya sastra juga menyampaikan cermin keadaan masyarakat walaupun tidak mutlak.
Banyak tenaga proyek, apalagi diperkebunan, adalah pekerja liar. Polisi juga tahu itu tapi tak mau operasi di wilayah proyek. Para pekerja liar sengaja di manfaatkan dengan segala posisi lemahnya. Ada banyak cerita, ketika proyek menjelang rampung, polisi sengaja polisi sengaja didatangkan untuk menggerebek mereka. Parapekerja berlarian. Maka mereka tak terbayar. (151)
Kutipan tersebut dapat bermanfaat sebagai wacana bagi pembaca. Ternyata pekerja liar pun di Malaysia di perlukan untuk kepentingan sepihak, tapi semua tak lepas dari diri pekerja sendiri yang telah memutuskan untuk menjadi pekerja liar.
Terlihat juga dataran hijau yang dan tampak botak disana-sini. Itu pasti hutan yang gundul karena kayunya dicuri oleh para pembalak dan cukong. Mereka ada yang bersekongkol dengan para pejabat, aparat keamanan, serta pekerja hukum. Sungai tampak berkelok-kelok menanggung beban yang makin sarat. Dataran yang luas tapi porak-poranda. Penduduknya terlunta-lunta. Sementara pejabatnya sibuk memperebutkan kursi kekuasaan. (156)
Terlihat sekali kritik yang diarahkan kepada pemimpin yang tidak bersungguh-bersungguh dalam membela kepentingan rakyat. Pesan-pesan yang disampaikan melalui cerpen ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Sepertinya rakyat kecil sudah tidak punya ruang lagi untuk mencari makan di negeri yang sebenarnya kaya dan berlimpah, hingga sebagian besar berlarian menyambung hidup di negeri orang dan kebanyakan terlunta-lunta.
Cerpen ini lahir karena banyak kejadian yang menimpa warga Indonesia seperti apa yang di alami oleh Suparjan ketika di luar negeri terlebih pekerja liar, tapi bukan berarti pengarang menyuarakan keiginan-keinginan masyarakat tertentu, yang pasti pengarang hanyalah mewakili hati nuraninya sendiri, namun ketika kita membaca cerpen ini tidak menutup kemungkinan jika kita merasa terwakili.
Secara global, M. Shoim Anwar dalam cerpen Paket Mayat mengungkapkan upaya penduduk Indonesia untuk melepaskan diri dari kesengsaraan hidup di negeri sendiri. Hal yang menarik dari cerpen ini salah satunya adalah permainan perasaan pengarangnya yang memberikan suasana haru. Dalam cerpennya M. Shoim Anwar pandai menyelipkan pertanyaan yang tersirat dari awal sampai akhir cerita.
Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannya, cerpen karangan ketua komite dewan kesenian Jawa Timur ini memikat dan penuh dengan muatan pesan yang dapat di renungkan dan diterjemahkan lebih dalam dan tentuya cerita ini telah membawa suatu kemajuan bagi sastra Indonesia. Tidak rugi jika mencoba untuk membacanya.
Gaya bahasa yang digunakan dapat dianggap sebagai gaya yang baru dan berbeda, walau settingnya diluar negeri namun M. Shoim Anwar tidak menghilangkan bahasa-bahasa akrab yang biasa di gunakan di Indonesia dalam percakapan antar tokoh, kita lihat pada dialog Aku dan Suparjan, “Ya untuk sangu berangkat saya ke sini ini.” kata “Sangu” bisa saja di tulis dengan “uang saku” atau “biaya” tapi pengarang punya perhitungan lain, dengan bahasa yang sederhana pengarang menyampaikan cerita, membuat pembaca serasa akrab dengan cerita.
Selain unsur-unsur intrinsik yang membangun karya sastra, Sastra juga mendapat pengaruh dari agama, adat istidat, hukum, pendidikan, politik serta sosial, dalam pengertian sastra adalah segala tulisan yang mengakibatkan beberapa pemikiran, jika kita lihat lebih dalam cerpen ini terdapat pengaruh fungsi-fungsi sosial.
Teori sosial sastra sudah muncul sejak sebelum masehi. Sastra di anggap sebagai unsur kebudayaan yang dapat mempengaruhi dan dipengaruhi masyarakatnya, karena pada awal perkembangannya tidak dapat di pisahkan dari kegiatan sosial. Dalam bukunya yang berjudul Teori Kesusastraan Wellek dan Warren menyinggung tentang masalah sastra dan masyarakat.
Sastra adalah institusi sosial yang memakai medium bahasa. Teknik-teknik satra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra “menyajikan kehidupan”, dan “kehidupan” sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. (Welleck & Warren, 1990:109).
Novelis tidak mempunyai jalan pintas. Dunia yang diciptakannya akan dikontraskan dengan kebanaran di bidang ilmu sosial. Fungsi utama sastrawan adalah membuat manusia melihat apa yang sehari-hari ada didalam kehidupan, dan membayangkan apa yang secara konseptual dan nyata sebenarnya sudah di ketahui (Welleck & Warren, 1990:30-31).
Dari kutipan-kutipan di atas kita dapat melihat karya sastra juga dapat di jadikan kritikan atau penyampain pesan pada masyarakat, dan kebanyaakan karya satra ditujukan utuk para pemimpin-pemimpin bangsa. Kritikan tak harus dengan dengan kata-kata yang yang menentang atau kekerasan, tetapi penolakan juga bisa disampaikan dengan bahasa yang santun, indah, dan perlambangan.
Suparjan adalah adik iparku. Sudah sembilan bulan dia bekerja di sini. Dulu aku menyarankan agar dia masuk lewat jalur resmi. Tapi rupanya dia punya perhitungan lain. Dia ikut-ikutan jalur gelap. Aku membayangkan pasti dia diangkut kapal laut saat malam hari. Ketika jarak sudah dekat, dia pasti dipaksa mencebur ke laut dan berenang ke tepi hutan. (150)
Penggalan cerpen diatas menerangkan begitu sengsaranya menjadi seorang bekerja liar, yang selalu takut adanya operasi sampai rela berenang dilaut, disini kita lihat pengarang menyampaikan agar tidak ada lagi pekerja liar seperti Suparjan, hendaknya kita lewat jalur resmi agar tidak di hantui rasa ketakutan. Karya sastra juga menyampaikan cermin keadaan masyarakat walaupun tidak mutlak.
Banyak tenaga proyek, apalagi diperkebunan, adalah pekerja liar. Polisi juga tahu itu tapi tak mau operasi di wilayah proyek. Para pekerja liar sengaja di manfaatkan dengan segala posisi lemahnya. Ada banyak cerita, ketika proyek menjelang rampung, polisi sengaja polisi sengaja didatangkan untuk menggerebek mereka. Parapekerja berlarian. Maka mereka tak terbayar. (151)
Kutipan tersebut dapat bermanfaat sebagai wacana bagi pembaca. Ternyata pekerja liar pun di Malaysia di perlukan untuk kepentingan sepihak, tapi semua tak lepas dari diri pekerja sendiri yang telah memutuskan untuk menjadi pekerja liar.
Terlihat juga dataran hijau yang dan tampak botak disana-sini. Itu pasti hutan yang gundul karena kayunya dicuri oleh para pembalak dan cukong. Mereka ada yang bersekongkol dengan para pejabat, aparat keamanan, serta pekerja hukum. Sungai tampak berkelok-kelok menanggung beban yang makin sarat. Dataran yang luas tapi porak-poranda. Penduduknya terlunta-lunta. Sementara pejabatnya sibuk memperebutkan kursi kekuasaan. (156)
Terlihat sekali kritik yang diarahkan kepada pemimpin yang tidak bersungguh-bersungguh dalam membela kepentingan rakyat. Pesan-pesan yang disampaikan melalui cerpen ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Sepertinya rakyat kecil sudah tidak punya ruang lagi untuk mencari makan di negeri yang sebenarnya kaya dan berlimpah, hingga sebagian besar berlarian menyambung hidup di negeri orang dan kebanyakan terlunta-lunta.
Cerpen ini lahir karena banyak kejadian yang menimpa warga Indonesia seperti apa yang di alami oleh Suparjan ketika di luar negeri terlebih pekerja liar, tapi bukan berarti pengarang menyuarakan keiginan-keinginan masyarakat tertentu, yang pasti pengarang hanyalah mewakili hati nuraninya sendiri, namun ketika kita membaca cerpen ini tidak menutup kemungkinan jika kita merasa terwakili.
Secara global, M. Shoim Anwar dalam cerpen Paket Mayat mengungkapkan upaya penduduk Indonesia untuk melepaskan diri dari kesengsaraan hidup di negeri sendiri. Hal yang menarik dari cerpen ini salah satunya adalah permainan perasaan pengarangnya yang memberikan suasana haru. Dalam cerpennya M. Shoim Anwar pandai menyelipkan pertanyaan yang tersirat dari awal sampai akhir cerita.
Namun, dengan segala keindahan dan kelebihannya, cerpen karangan ketua komite dewan kesenian Jawa Timur ini memikat dan penuh dengan muatan pesan yang dapat di renungkan dan diterjemahkan lebih dalam dan tentuya cerita ini telah membawa suatu kemajuan bagi sastra Indonesia. Tidak rugi jika mencoba untuk membacanya.
...........S.............
Kau sengat aku dengan bibirmu
Desirn halus memenuhi dada
Tak tahu rasa apa itu
Kau buatku menggeliat
bagai ikan terlempar dari aquarium
MENGGELEPAR
Kau menikmati aku terbakar
Desirn halus memenuhi dada
Tak tahu rasa apa itu
Kau buatku menggeliat
bagai ikan terlempar dari aquarium
MENGGELEPAR
Kau menikmati aku terbakar
CERITA LUCU
Hari berlalu
Tanpa masa lalu
Tiada dapat ku henti waktu
Untuk kembali kemasa lalu
Disaat semua masih bersama
Kini semua berpisah
Menempuh jalan berbeda
Menuju tujuan berbeda
Ku rindu...
Senyum kita, canda kita
Cerita-cerita kita nan lucu
Kini jadi kisah pilu
Cerita itu cepat berlalu
Tanpa kembali menyapaku
Tuban, 26 Mei 2006
Tanpa masa lalu
Tiada dapat ku henti waktu
Untuk kembali kemasa lalu
Disaat semua masih bersama
Kini semua berpisah
Menempuh jalan berbeda
Menuju tujuan berbeda
Ku rindu...
Senyum kita, canda kita
Cerita-cerita kita nan lucu
Kini jadi kisah pilu
Cerita itu cepat berlalu
Tanpa kembali menyapaku
Tuban, 26 Mei 2006
BANGKIT
Api tlah melalap badanmu
Jangan kau jadi abu
Jadikan tiap kobaran api
Sebagai kobaran semangat baru
Anggaplah...
Tebakar sebuah kesombongan
Keangkuhan, kekikiran, kemurkaan
Bangkit, bangunlah
Ganti....
Jadikan kotaku
Kesederhanaan, kesabaran
Kedermawanan, kebijaksanaan
Biarlah....
Semua sirna
Sisakan semangat bangkitmu
Kota tercintaku
Tuban, 05 Mei 2006
Jangan kau jadi abu
Jadikan tiap kobaran api
Sebagai kobaran semangat baru
Anggaplah...
Tebakar sebuah kesombongan
Keangkuhan, kekikiran, kemurkaan
Bangkit, bangunlah
Ganti....
Jadikan kotaku
Kesederhanaan, kesabaran
Kedermawanan, kebijaksanaan
Biarlah....
Semua sirna
Sisakan semangat bangkitmu
Kota tercintaku
Tuban, 05 Mei 2006
LAUTAN API
Bandung lautan api
Peristiwa ini kembali
Di kota wali yang rapi
Bukan karena musuh
KEKUASAAN
Kakuasaan dan kekalahan
Api amarah tlah tersulut
Membakar gedung-gedung
Wujud amarah di tenggah kekalahan
Pembesar tak dapat di contoh
Anarkis jika kalah
Kotaku...
Jangan kau teteskan airmata
Tetaplah tersenyum
Suka, duka, kalah, menang
Kehancuran, pembangunan
Tetap sebagai liku hidup ini
Tuban, 30 April 2006
Peristiwa ini kembali
Di kota wali yang rapi
Bukan karena musuh
KEKUASAAN
Kakuasaan dan kekalahan
Api amarah tlah tersulut
Membakar gedung-gedung
Wujud amarah di tenggah kekalahan
Pembesar tak dapat di contoh
Anarkis jika kalah
Kotaku...
Jangan kau teteskan airmata
Tetaplah tersenyum
Suka, duka, kalah, menang
Kehancuran, pembangunan
Tetap sebagai liku hidup ini
Tuban, 30 April 2006
ASA
Asa............
Aku menunggumu...
Asa............
Aku menantimu...
Asa............
Aku merindukanmu...
Asa............
Aku ingin mendekapmu...
Asa............
Aku dahaga bertemu denganmu...
Asa............
Aku hanya menemukan bayangmu
Karenamu aku terus bertahan
Bertahan melawan si fana
Asa............
Aku akan segera menemukanmu.
Tuban, Pebruari 2006
Aku menunggumu...
Asa............
Aku menantimu...
Asa............
Aku merindukanmu...
Asa............
Aku ingin mendekapmu...
Asa............
Aku dahaga bertemu denganmu...
Asa............
Aku hanya menemukan bayangmu
Karenamu aku terus bertahan
Bertahan melawan si fana
Asa............
Aku akan segera menemukanmu.
Tuban, Pebruari 2006
DESAIN DERITA
Sulaman benang kehidupan
Akan di jadikan busana tahta
Dapat pula pakaian derita
Adalah luka ....
Saat pakaian derita dikenakan
Berlukis beban dan derita
Kamanakah ku bawa ?!
Diamkah?! larikah?!
Matikah?! Hidupkah?!
Diam?! Aku binggung!
Lari?! Aku bukan pecundang!
Mati?! Aku harus berjuang!
Hidup?! Aku tak sanggup!
Tuban, Pebruari 2006
Akan di jadikan busana tahta
Dapat pula pakaian derita
Adalah luka ....
Saat pakaian derita dikenakan
Berlukis beban dan derita
Kamanakah ku bawa ?!
Diamkah?! larikah?!
Matikah?! Hidupkah?!
Diam?! Aku binggung!
Lari?! Aku bukan pecundang!
Mati?! Aku harus berjuang!
Hidup?! Aku tak sanggup!
Tuban, Pebruari 2006
BUKAN UNTUKMU
Puisi ini tertulis padamu
Namun bukan untukmu
Aku menulis untuk jiwaku
Aku menulis tanpa tinta
Tulisan yang telah terbaca
Namun tiada mengerti maknanya
Ku pikir memang tiada
Tiada yang mengerti
Apa aku mengerti ???
Sepertinya tidak juga
Entahlah siapa yang mengerti
Hanya Dia yang maha tahu.
Tuban, Mei 2006
Namun bukan untukmu
Aku menulis untuk jiwaku
Aku menulis tanpa tinta
Tulisan yang telah terbaca
Namun tiada mengerti maknanya
Ku pikir memang tiada
Tiada yang mengerti
Apa aku mengerti ???
Sepertinya tidak juga
Entahlah siapa yang mengerti
Hanya Dia yang maha tahu.
Tuban, Mei 2006
Lelaki yang Terindah Karya Seno Gumira Ajidarma
Membaca karya-karya Seno kita sering kali dihadapkan dengan kejahanaman cinta yang tidak selalu berakhir dengan bahagia seperti cerita di negeri dongeng. Lelaki yang Terindah salah satu cerita pendek Seno yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, kita kembali di hadapkan dengan cerita cinta yang tak lazim.
Cerpen ini menceritakan adanya hubungan emosional dan seksual sesama jenis (homoseksual) khususnya gay. Cerpen yang merupakan perlawanan terhadap homopobia, perlawanan terhadap gagasan bahwa para pria selalu identik dengan keperkasaan namun mempunyai kemungkinan untuk berhubungan seksual dengan sesama pria.
Seno menceritakan tentang seorang laki-laki gay dan berhasil menjerat jantung laki-laki normal yang dulunya sangat memuja wanita, seperti tampak dalam kutipan berikut:
Aku tidak malu untuk mengakui, aku sangat mengagumi wanita karena kewanitaannya, apapun bentuknya. Apa boleh buat. Tuhan telah menciptakan wanita...
Tapi, kini aku berurusan dengan lelaki. Seorang lelaki terindah di dunia. Telah beratus-ratus, bahkan beribu-ribu lelaki lewat di depan mataku, namun aku tak pernah berpikir untuk mempertimbangkan keindahannya. (Lelaki yang Terindah, h. 51)
Hubungan antara keduanya yang mengidentifikasikan hubugan seksual diungkapkan secara terbuka oleh Seno.
Dan tangannya bergerak membuka ikat pinggangku.
Aku telah diseretnya ke dalam suatu petualangan di negeri entah-berantah. Keringat di tubuhnya yang tembaga, berkilat dalam cahaya malam, membuatnya seperti batu pualam. Pada malam yang sungguh-sungguh jahanam itu, ia telusuri segenap lekuk tubuhku dan kutelusuri segenap lekuk tubuhnya. Begitulah aku digulungnya, seperti gelombang laut menyerbu daratan.
Sastrawan kelahiran Boston 1958 ini melukiskan karakter homoseksual pada tokoh dia merupakan betuk penyimpangan karena dengan sengaja ingin merusak hubungan heteroseksual antara tokoh aku dengan kekasihnya, sedangkan aku tidak bisa menolak untuk jatuh cinta pada seorang wanita. Sastrawan yang namanya tercatat sebagai pengarang sebagai sastrawan garda depan ini melukiskan kemarahan totoh dia pada tokoh aku saat tercium bau wanita ditubuh tokoh aku,
“Diam kamu! Dasar laki-laki mata keranjang! Laki-laki memang tidak pernah bisa dipercaya! Apa kamu pikir tidak ada yang seorangpun yang melihatmu waktu keluar dari mote itu? Apa kamu pikir tidak ada yang mengenali kamu waktu kamu menjemputnya di airpot? Pakai peluk-pelukan lagi! Pakai cium-ciuman segala! Kamu pikir tidak ada yang melihat waktu wanita itu merebahkan dirinya di pangkuan kamu dalam mobil? Kamu penghianat!”
Kemarahan dia tak ubahnya saat seorang wanita melihat kekasihnya selingkuh dan bisa dikatakan kemarahan dia telah sampai pada puncaknya ketika saat diambilnya pedang samurai dan di ayunkan pada aku. Dia yang merasa cintanya terberai, terluka dan sakit hati karena merasa di hianati sang kekasih. Penghianatan membuatnya seolah-olah memiliki dendam yang tanpa ampun sampai ingin memotong kemaluan sang kekasih. Tapi melawan cintanya sendiri dia tidak mampu, bagaimanapun dia tak kuasa menyakiti kekasih. Cinta sungguh-sungguh terlalu sukar untuk dipahami dan dikuasai.
Pada satu sisi Seno dalam cerpen Lelaki yang Terindah, menampilkan cinta sebagai sesuatu yang tercerai berai, penuh kontra yang sangat melukai, serta mustahil untuk diwujudkan secara utuh. Cinta yang tak sampai pada kebahagiaan, ini terlihat di akhir dari cerita dia bunuh diri dengan cara menembak kemaluannya dan aku telah telah ditinggalkan oleh cinta baik cinta oleh wanita maupun oleh lelaki hingga yang tersisa hanyalah hati yang patah, perasaan kosong dan kelabu, serta dihantui dosa.
Namun disisi lain Seno juga menceritakan pula tentang betapa agung dan kuatnya cinta dia pada aku, keindahannya saat bercinta. Namun sayang tokoh dia terlihat terlalu berlebihan dan tokoh aku terlihat sekali tadak punya prinsip karena mudah terpengaruh.
Secara keseluruhan cerpen Lelaki yang Terindah diinterprestasikan bahwa bukan merupakan cerpen yang mendukung homoseksual. Namun berkisar tentang pengetahuan bahwa dalam masyarakat kita ada kehidupan yang dimikian. Karena sastra tidak pernah meninggalkan masyarakat.
Cerpen ini menceritakan adanya hubungan emosional dan seksual sesama jenis (homoseksual) khususnya gay. Cerpen yang merupakan perlawanan terhadap homopobia, perlawanan terhadap gagasan bahwa para pria selalu identik dengan keperkasaan namun mempunyai kemungkinan untuk berhubungan seksual dengan sesama pria.
Seno menceritakan tentang seorang laki-laki gay dan berhasil menjerat jantung laki-laki normal yang dulunya sangat memuja wanita, seperti tampak dalam kutipan berikut:
Aku tidak malu untuk mengakui, aku sangat mengagumi wanita karena kewanitaannya, apapun bentuknya. Apa boleh buat. Tuhan telah menciptakan wanita...
Tapi, kini aku berurusan dengan lelaki. Seorang lelaki terindah di dunia. Telah beratus-ratus, bahkan beribu-ribu lelaki lewat di depan mataku, namun aku tak pernah berpikir untuk mempertimbangkan keindahannya. (Lelaki yang Terindah, h. 51)
Hubungan antara keduanya yang mengidentifikasikan hubugan seksual diungkapkan secara terbuka oleh Seno.
Dan tangannya bergerak membuka ikat pinggangku.
Aku telah diseretnya ke dalam suatu petualangan di negeri entah-berantah. Keringat di tubuhnya yang tembaga, berkilat dalam cahaya malam, membuatnya seperti batu pualam. Pada malam yang sungguh-sungguh jahanam itu, ia telusuri segenap lekuk tubuhku dan kutelusuri segenap lekuk tubuhnya. Begitulah aku digulungnya, seperti gelombang laut menyerbu daratan.
Sastrawan kelahiran Boston 1958 ini melukiskan karakter homoseksual pada tokoh dia merupakan betuk penyimpangan karena dengan sengaja ingin merusak hubungan heteroseksual antara tokoh aku dengan kekasihnya, sedangkan aku tidak bisa menolak untuk jatuh cinta pada seorang wanita. Sastrawan yang namanya tercatat sebagai pengarang sebagai sastrawan garda depan ini melukiskan kemarahan totoh dia pada tokoh aku saat tercium bau wanita ditubuh tokoh aku,
“Diam kamu! Dasar laki-laki mata keranjang! Laki-laki memang tidak pernah bisa dipercaya! Apa kamu pikir tidak ada yang seorangpun yang melihatmu waktu keluar dari mote itu? Apa kamu pikir tidak ada yang mengenali kamu waktu kamu menjemputnya di airpot? Pakai peluk-pelukan lagi! Pakai cium-ciuman segala! Kamu pikir tidak ada yang melihat waktu wanita itu merebahkan dirinya di pangkuan kamu dalam mobil? Kamu penghianat!”
Kemarahan dia tak ubahnya saat seorang wanita melihat kekasihnya selingkuh dan bisa dikatakan kemarahan dia telah sampai pada puncaknya ketika saat diambilnya pedang samurai dan di ayunkan pada aku. Dia yang merasa cintanya terberai, terluka dan sakit hati karena merasa di hianati sang kekasih. Penghianatan membuatnya seolah-olah memiliki dendam yang tanpa ampun sampai ingin memotong kemaluan sang kekasih. Tapi melawan cintanya sendiri dia tidak mampu, bagaimanapun dia tak kuasa menyakiti kekasih. Cinta sungguh-sungguh terlalu sukar untuk dipahami dan dikuasai.
Pada satu sisi Seno dalam cerpen Lelaki yang Terindah, menampilkan cinta sebagai sesuatu yang tercerai berai, penuh kontra yang sangat melukai, serta mustahil untuk diwujudkan secara utuh. Cinta yang tak sampai pada kebahagiaan, ini terlihat di akhir dari cerita dia bunuh diri dengan cara menembak kemaluannya dan aku telah telah ditinggalkan oleh cinta baik cinta oleh wanita maupun oleh lelaki hingga yang tersisa hanyalah hati yang patah, perasaan kosong dan kelabu, serta dihantui dosa.
Namun disisi lain Seno juga menceritakan pula tentang betapa agung dan kuatnya cinta dia pada aku, keindahannya saat bercinta. Namun sayang tokoh dia terlihat terlalu berlebihan dan tokoh aku terlihat sekali tadak punya prinsip karena mudah terpengaruh.
Secara keseluruhan cerpen Lelaki yang Terindah diinterprestasikan bahwa bukan merupakan cerpen yang mendukung homoseksual. Namun berkisar tentang pengetahuan bahwa dalam masyarakat kita ada kehidupan yang dimikian. Karena sastra tidak pernah meninggalkan masyarakat.
Cerpen Air Mata Anakku Karya: M. Shoim Anwar
Cerita pendek karya pengarang kelahiran Jombang Jawa Timur ini benar-benar mengangkat kehidupan sehari-hari yang sudah akrab dengan lingkungan kita, dalam cerita ini kita dapat melihat akibat dari cara didikan yang salah dalam lingkungan sekolah. Terlihat dari kutipan berikut,
Dengan diam-diam kami diberi jalan pintas.
Jalan pintas yang dimaksud dalam kutipan tersebut adalah jalan pintas untuk lulus ketika menghadapi ujian nasional saat SMA, niat para guru adalah membantu anak didiknya agar semua lulus dan tentu saja agar nama sekolah tidak tercemar dengan adanya siswa yang tidak lulus. Namun terlihat ssekali bahwa niat untuk membantu pelaksanaannya menghalalkan segala cara. Tanpa sadar guru menjadi pelopor kecurangan.
Pelajaran agama tentang kejujuran yang diberikan selama tiga tahun dipatahkan dalam tiga hari ketika menghadapi UAS, tentu saja siswa-siswi merasa terbantu dengan adanya jalan pintas yang diberikan oleh guru mereka. Akibatnya nilai sempurna yang mereka dapatkan berbanding terbalik dengan pengetahuan mereka, dan sebagian siswa yang memang benar-benar mengerti harus siap-siap kecewa ketika yang siswa yang biasanya titip absen itu lebih unggul dari dia.
Akibatnya pengalaman yang mereka dapat dari sekolah tentang praktek kecurangan, ketidakjujuran, jalan pintas untuk mendapatkan kelulusan terbawa sampai ketika mereka terjun dimasyarakat, tokok Huki contohnya telah mengamalkan ilmu yang didapat ketika sekolah dulu, walau ilmunya tidak ada dalam catatannya tapi begitu mudah ilmunya melekat dalam ingatannya.
Dalam kehidupannya Huki selalu mengunakan jalan pintas dan tidak mau repot, ini ilmu yang tanpa sadar telah diberikan pihak sekolah padanya, sampai pada akhirnya dia begitu takut kehilangan jabatan yang dia dapatkan secara instan, hingga masa pensiunnya dia tetap terbawa angannya haus akan jabatan yang disandangnya. Anak disini menjadi korban orang tua, karena ketika orang tua yang menanam kemungkinan yang akan menuai hasilnya adalah anaknya, demikian juga kebaikan dan keburukan.
Kekurangan dalam cerpen ini adalah cara penyampaian yang kurang begitu langsung dapat dipahami oleh pembaca, dengan sudut pandang orang pertama yang menceritakan dalam keadaan gangguan kejiwaan. Sebagian pembaca ada juga yang binggung dengan judul karena hanya sedikit disinggung di akhir cerita sebagai berikut.
Tangis anakku tambah mengeras. Air matanya mengenai safariku. Santi, anak perempuan terakhirku, seakan tak rela melepas kepergianku ke kantor. Dia sesenggukan di dadaku. Baju safariku terasa makin basah oleh air matanya.
Cerita yang diutaran lebih dominan pada kehidupan sang tokoh yakni orang tua dari pada sang anak yang dimaksud dalam judul. Dibalik kekuranggan tersebut terletak kelebihan pula bahwa sang pengarang begitu detail menceritakan kisah demi kisah. Hal yang menarik dari cerpen ini salah satunya adalah permainan perasaan pengarangnya yang memberikan suasana haru. Membaca karya M. Shoim Anwar pembaca akan dibawa ke kejadian-kejadian yang mengejutkan.
Dalam kisah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa niat yang baik harus dilaksanakan dengan jalan yang baik pula, apabila dalam suatu lembaga pendidikan diajarkan pola yang seperti dalam cerita tersebut maka ketika siswa-siswi terjun dalam kehidupan masyarakat maka yang terjadi akan menghalalkan segala cara pula untuk kenikmatan dirinya sendiri.
Dengan diam-diam kami diberi jalan pintas.
Jalan pintas yang dimaksud dalam kutipan tersebut adalah jalan pintas untuk lulus ketika menghadapi ujian nasional saat SMA, niat para guru adalah membantu anak didiknya agar semua lulus dan tentu saja agar nama sekolah tidak tercemar dengan adanya siswa yang tidak lulus. Namun terlihat ssekali bahwa niat untuk membantu pelaksanaannya menghalalkan segala cara. Tanpa sadar guru menjadi pelopor kecurangan.
Pelajaran agama tentang kejujuran yang diberikan selama tiga tahun dipatahkan dalam tiga hari ketika menghadapi UAS, tentu saja siswa-siswi merasa terbantu dengan adanya jalan pintas yang diberikan oleh guru mereka. Akibatnya nilai sempurna yang mereka dapatkan berbanding terbalik dengan pengetahuan mereka, dan sebagian siswa yang memang benar-benar mengerti harus siap-siap kecewa ketika yang siswa yang biasanya titip absen itu lebih unggul dari dia.
Akibatnya pengalaman yang mereka dapat dari sekolah tentang praktek kecurangan, ketidakjujuran, jalan pintas untuk mendapatkan kelulusan terbawa sampai ketika mereka terjun dimasyarakat, tokok Huki contohnya telah mengamalkan ilmu yang didapat ketika sekolah dulu, walau ilmunya tidak ada dalam catatannya tapi begitu mudah ilmunya melekat dalam ingatannya.
Dalam kehidupannya Huki selalu mengunakan jalan pintas dan tidak mau repot, ini ilmu yang tanpa sadar telah diberikan pihak sekolah padanya, sampai pada akhirnya dia begitu takut kehilangan jabatan yang dia dapatkan secara instan, hingga masa pensiunnya dia tetap terbawa angannya haus akan jabatan yang disandangnya. Anak disini menjadi korban orang tua, karena ketika orang tua yang menanam kemungkinan yang akan menuai hasilnya adalah anaknya, demikian juga kebaikan dan keburukan.
Kekurangan dalam cerpen ini adalah cara penyampaian yang kurang begitu langsung dapat dipahami oleh pembaca, dengan sudut pandang orang pertama yang menceritakan dalam keadaan gangguan kejiwaan. Sebagian pembaca ada juga yang binggung dengan judul karena hanya sedikit disinggung di akhir cerita sebagai berikut.
Tangis anakku tambah mengeras. Air matanya mengenai safariku. Santi, anak perempuan terakhirku, seakan tak rela melepas kepergianku ke kantor. Dia sesenggukan di dadaku. Baju safariku terasa makin basah oleh air matanya.
Cerita yang diutaran lebih dominan pada kehidupan sang tokoh yakni orang tua dari pada sang anak yang dimaksud dalam judul. Dibalik kekuranggan tersebut terletak kelebihan pula bahwa sang pengarang begitu detail menceritakan kisah demi kisah. Hal yang menarik dari cerpen ini salah satunya adalah permainan perasaan pengarangnya yang memberikan suasana haru. Membaca karya M. Shoim Anwar pembaca akan dibawa ke kejadian-kejadian yang mengejutkan.
Dalam kisah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa niat yang baik harus dilaksanakan dengan jalan yang baik pula, apabila dalam suatu lembaga pendidikan diajarkan pola yang seperti dalam cerita tersebut maka ketika siswa-siswi terjun dalam kehidupan masyarakat maka yang terjadi akan menghalalkan segala cara pula untuk kenikmatan dirinya sendiri.
Bekisar Merah karya Ahmad Tohari
Bekisar Merah dan B
elantik hasil Ahmad Tohari berkisah tentang hiruk pikuk kehidupan para tokoh yang hidup di desa kecil Karangsoga, yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai penderes nira kelapa untuk dibuat gula merah kemudian dijual. Terdapat juga sisi lain dari novel tersebut yaitu tentang perdagangan selain gula merah.
Perdagangan tak hanya berlaku untuk barang-barang tertentu, seperti kebutuhan sandang dan pangan. Dalam Bekisar Merah dan Belantik, Ahmad Tohari mengisahkan perdagangan terselubung atas diri anak manusia. Lasi, perawan desa yang mempunyai kelebihan bentuk tubuh dan wajah yang indah, menjadi “barang dagangan baru” yang langka dan sangat berharga bagi ibu Koneng, yang lalu diserahkan ke Ibu Lanting, mucikari tingkat tinggi yang melayani para pejabat, dengan imbalan batu mulia dan kepingan rupiah.
Para pejabat selalu mencari bekisar merah untuk hiasan rumah megah mereka, Bekisar adalah peranakan ayam hutan dan ayam kampung yang mempunyai keindahan bentuk, bulu, dan kokoknya. Lasi sebagai symbol bekisar merah, karena lahir akibat percampuran antara Karangsoga dan Jepang.
Karya-karya Ahmad Tohari identik dengan rasa sakit, keluhan, jeritan seorang wanita. Wanita dijajah dan dihianati. Lasiyah tokoh yang teraniaya, kesetiaan telah diberikan sepenuhkan pada Darsa suaminya yang pertama, ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa hingga, bertahun tubuhnya tak berdaya. Lasi dengan penuh kasih mengobati serta merawat Darsa, namun ketika Darsa sembuh, ia berhianat dengan menghamili Sipah.
Akhirnya Lasiyah kabur dan akhirnya Lasi dijadikan barang dagangan, tanpa disadarinya Lasi terjerat pernikahan yang hanya membuat dia dipenjara. Pak Handarbeni menikahi Lasi hanya untuk dijadikan hiasan semata, tak ubahnya seperti bekisar merah. Semua kebutuhan materi tercukupi namun Han tidak bisa memberinakah batin Lasi, karena Han menderita ‘lemah pucuk’. Yang teramat menyakitkan, kala Han member kebebasan Lasi untuk memilih teman laki-laki untuk menyalurkan nafsunya, asal Lasi tetap tutup mulut dan tetap mau menjadi bekisar diistana handarbeni. Tak cukup penderitaan itu, Lasi direbut Bambung. Dan dengan sengaja Handarbeni menyerahkannya, tak ubahanya menyerahkan binatang peliharaan.
Tokoh Lasi tampak begitu lugu, mengikuti aliran air tidak berpikir untuk melawan arus. Tokoh perempuan Ahmad Tohari benar-benar dibuat lemah tidak mampu melawan. Pergulan emosi pembaca dituntun sampai pada akhir cerita, Kanjat berhasil menolong Lasi, menyatukan cinta yang selama ini terpisah. namun sayang akhir cerita sudah bisa tertebak didepan, hingga pembaca tidak mendapat sesuatu yang mengejutkan diparagraf terakhir. Akhir kisah yang identik sama dengan negeri dongeng. Apa memang karena Negara kita sudah terbiasa dengan “akhir yang bahagia”.
Satrawan yang selalu mendapat inspirasi dari desanya ini, menggambarkan kemiskinan penduduk dengan sangat menyentuh. Pemahaman kondisi sosial masyarakat miskin, yang erat kaitannya dengan struktur perdagangan gula yang tidak pernah adil, digambarkan dengan sangat rinci. Kekuatan lain dari karyanya adalah pemaparan yang sangat nyata tentang alam pedesaan.
Pembaca seolah dibawa ke alam pedesaan hingga dapat merasakan angin sejuk pagi hari yang semilir, menyaksikan burung jalak yang memberi makan anak-anaknya, kelentang-kelentung bunyi pongkor, ataupun gemericik sungai Kalirong yang jernih yang airnya mengalir lewat batu-batu berlumut. Pemahaman tentang masalah sumber daya alam juga sangat dalam, misalnya tentang perusakan hutan tutupan oleh penduduk setempat karena faktor kemiskinan mereka.
karena keakrabannya dengan alam pedesaan, dengan enak novelis kelahiran 13 Juni 1948 ini menggambarkan pergulatan tokoh-tokoh dalam ceritanya, cengkeraman struktur politik negara yang selalu tidak adil bagi rakyat kecil. Bahkan pemaparan tentang kehidupan dalam kemiskinan seseorang, di mana yang ada hanyalah kepasrahan total. ketika listrik mulai masuk Karangsoga, pohon-pohon kelapa penduduk harus ditebang. Akibatnya tetu saja menambah susah para penduduk dalam mata pencaharian.
Karena suara mesin gergaji yang terus meraung-raung, makin banyak orang keluar dan berkerumun menyaksikan penebangan pohon-pohon kelapa itu. Tetapi mereka diam. Wajah mereka adalah gambaran kepasrahan. Atau ketidakberdayaan.
Terlihat saat kanjat ingin membuat perubahan dalam pengolahan nira rupanya penduduk Karangsoga belum dapat menerima perubahan tersebut.
“Dalam penelitian ulang kami menemukan pengolahan nira secara masal dengan cara modern yang kami rencanakan ternyata akan menghadapi banyak kesulitan. Para penyadap tak akan mau menjual nira karena hal semacam itu baru bagi mereka. Para penyadap masih sangat sulit menerima perubahan”
Tidak ada alternatif. Kemarahan karena perlakuan yang tidak adil dalam hidup tidak tahu harus ditumpahkan kepada siapa. Kepekaan Tohari dengan kehidupan masyarakat miskin membuat berhenti sejenak dan merenung. Membuat kita berpikir dan merasakan, betapa ada jenis kehidupan lain yang berbeda dengan jenis kehidupan kita. Betapa masih ada tempat dengan keadaan yang masih asing. Namun, sesuatu yang asing tersebut mampu menumbuhkan nurani yang sudah terbiasa oleh kenikmatan materi dalam hidup sehari-hari.
Karya yang cocok untuk dibaca bagi seorang yang masih hidup dalam kekeringan aroma pedesaan, dan jauh dari kesejukan alam. Cocok pula untuk seorang yang masih belum berpengalaman menjelajahi ibu kota, agar lebih bisa membaca keadaan. Harus pandai memanfaatkan keadaan sebelum dimanfaatkan. Karena terkadang ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.
elantik hasil Ahmad Tohari berkisah tentang hiruk pikuk kehidupan para tokoh yang hidup di desa kecil Karangsoga, yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai penderes nira kelapa untuk dibuat gula merah kemudian dijual. Terdapat juga sisi lain dari novel tersebut yaitu tentang perdagangan selain gula merah.
Perdagangan tak hanya berlaku untuk barang-barang tertentu, seperti kebutuhan sandang dan pangan. Dalam Bekisar Merah dan Belantik, Ahmad Tohari mengisahkan perdagangan terselubung atas diri anak manusia. Lasi, perawan desa yang mempunyai kelebihan bentuk tubuh dan wajah yang indah, menjadi “barang dagangan baru” yang langka dan sangat berharga bagi ibu Koneng, yang lalu diserahkan ke Ibu Lanting, mucikari tingkat tinggi yang melayani para pejabat, dengan imbalan batu mulia dan kepingan rupiah.
Para pejabat selalu mencari bekisar merah untuk hiasan rumah megah mereka, Bekisar adalah peranakan ayam hutan dan ayam kampung yang mempunyai keindahan bentuk, bulu, dan kokoknya. Lasi sebagai symbol bekisar merah, karena lahir akibat percampuran antara Karangsoga dan Jepang.
Karya-karya Ahmad Tohari identik dengan rasa sakit, keluhan, jeritan seorang wanita. Wanita dijajah dan dihianati. Lasiyah tokoh yang teraniaya, kesetiaan telah diberikan sepenuhkan pada Darsa suaminya yang pertama, ketika Darsa jatuh dari pohon kelapa hingga, bertahun tubuhnya tak berdaya. Lasi dengan penuh kasih mengobati serta merawat Darsa, namun ketika Darsa sembuh, ia berhianat dengan menghamili Sipah.
Akhirnya Lasiyah kabur dan akhirnya Lasi dijadikan barang dagangan, tanpa disadarinya Lasi terjerat pernikahan yang hanya membuat dia dipenjara. Pak Handarbeni menikahi Lasi hanya untuk dijadikan hiasan semata, tak ubahnya seperti bekisar merah. Semua kebutuhan materi tercukupi namun Han tidak bisa memberinakah batin Lasi, karena Han menderita ‘lemah pucuk’. Yang teramat menyakitkan, kala Han member kebebasan Lasi untuk memilih teman laki-laki untuk menyalurkan nafsunya, asal Lasi tetap tutup mulut dan tetap mau menjadi bekisar diistana handarbeni. Tak cukup penderitaan itu, Lasi direbut Bambung. Dan dengan sengaja Handarbeni menyerahkannya, tak ubahanya menyerahkan binatang peliharaan.
Tokoh Lasi tampak begitu lugu, mengikuti aliran air tidak berpikir untuk melawan arus. Tokoh perempuan Ahmad Tohari benar-benar dibuat lemah tidak mampu melawan. Pergulan emosi pembaca dituntun sampai pada akhir cerita, Kanjat berhasil menolong Lasi, menyatukan cinta yang selama ini terpisah. namun sayang akhir cerita sudah bisa tertebak didepan, hingga pembaca tidak mendapat sesuatu yang mengejutkan diparagraf terakhir. Akhir kisah yang identik sama dengan negeri dongeng. Apa memang karena Negara kita sudah terbiasa dengan “akhir yang bahagia”.
Satrawan yang selalu mendapat inspirasi dari desanya ini, menggambarkan kemiskinan penduduk dengan sangat menyentuh. Pemahaman kondisi sosial masyarakat miskin, yang erat kaitannya dengan struktur perdagangan gula yang tidak pernah adil, digambarkan dengan sangat rinci. Kekuatan lain dari karyanya adalah pemaparan yang sangat nyata tentang alam pedesaan.
Pembaca seolah dibawa ke alam pedesaan hingga dapat merasakan angin sejuk pagi hari yang semilir, menyaksikan burung jalak yang memberi makan anak-anaknya, kelentang-kelentung bunyi pongkor, ataupun gemericik sungai Kalirong yang jernih yang airnya mengalir lewat batu-batu berlumut. Pemahaman tentang masalah sumber daya alam juga sangat dalam, misalnya tentang perusakan hutan tutupan oleh penduduk setempat karena faktor kemiskinan mereka.
karena keakrabannya dengan alam pedesaan, dengan enak novelis kelahiran 13 Juni 1948 ini menggambarkan pergulatan tokoh-tokoh dalam ceritanya, cengkeraman struktur politik negara yang selalu tidak adil bagi rakyat kecil. Bahkan pemaparan tentang kehidupan dalam kemiskinan seseorang, di mana yang ada hanyalah kepasrahan total. ketika listrik mulai masuk Karangsoga, pohon-pohon kelapa penduduk harus ditebang. Akibatnya tetu saja menambah susah para penduduk dalam mata pencaharian.
Karena suara mesin gergaji yang terus meraung-raung, makin banyak orang keluar dan berkerumun menyaksikan penebangan pohon-pohon kelapa itu. Tetapi mereka diam. Wajah mereka adalah gambaran kepasrahan. Atau ketidakberdayaan.
Terlihat saat kanjat ingin membuat perubahan dalam pengolahan nira rupanya penduduk Karangsoga belum dapat menerima perubahan tersebut.
“Dalam penelitian ulang kami menemukan pengolahan nira secara masal dengan cara modern yang kami rencanakan ternyata akan menghadapi banyak kesulitan. Para penyadap tak akan mau menjual nira karena hal semacam itu baru bagi mereka. Para penyadap masih sangat sulit menerima perubahan”
Tidak ada alternatif. Kemarahan karena perlakuan yang tidak adil dalam hidup tidak tahu harus ditumpahkan kepada siapa. Kepekaan Tohari dengan kehidupan masyarakat miskin membuat berhenti sejenak dan merenung. Membuat kita berpikir dan merasakan, betapa ada jenis kehidupan lain yang berbeda dengan jenis kehidupan kita. Betapa masih ada tempat dengan keadaan yang masih asing. Namun, sesuatu yang asing tersebut mampu menumbuhkan nurani yang sudah terbiasa oleh kenikmatan materi dalam hidup sehari-hari.
Karya yang cocok untuk dibaca bagi seorang yang masih hidup dalam kekeringan aroma pedesaan, dan jauh dari kesejukan alam. Cocok pula untuk seorang yang masih belum berpengalaman menjelajahi ibu kota, agar lebih bisa membaca keadaan. Harus pandai memanfaatkan keadaan sebelum dimanfaatkan. Karena terkadang ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.
Apresiasi Puisi
Kupu Malam dan Biniku Karya; Chairi Anwar
Kupu Malam dan Biniku, sebuah puisi karya Chairil Anwar. Puisi yang dari segi bentuk masih terikat dengan aturan-aturan menulis puisi. Bentuknya berbait-bait, dan rimanya begitu diperhatikan.
Penyair yang lahir pada tanggal 22 Juli 1922, ini menulis puisi berjudul Kupu Malam dan Biniku. Puisi bertema pelacur, walau tidak ada kata-kata nyata tentang penjaja kenikmatan. Namun dapat dilihat dari judul. Kupu Malam identik dengan sebutan untuk penggila uang dan seks, yang biasa beterbangan dimalam hari.
Dalam puisi tampak sang aku usai mendatangi kupu malam. Terlihat dari barisan puisi berikut ini; Sambil berselisih lalu// Mengebu debu// Kupercepat langkah. Tak menoleh ke belakang. Ia segera bergegas pulang dan tak ingin lagi mengenang apa yang telah dilakukan.
Baris berikutnya ia mengakui, kalau ia telah mengoreskan luka dihati seseorang atas perbuatannya. Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang// Barah ternganga.
Sang aku mulai teringat, perbuatannya melukai hati istrinya. Yang telah hidup dalam bahtera rumah tangga selama tujuh tahun. Melayang ingatan ke biniku// Lautan yang belum terduga// Biar lebih kami tujuh tahun bersatu.
Namun rupanya ia kembali menghilangkan rasa bersalahnya, dengan mencari kelemahan sang istri. Karena perasaannya mengatakan, mungkin saja selama mereka bersama, tanpa sepengetahuannya, istrinya juga telah menipunya diam-diam. Barangkali tak setahuku// Ia menipuku. Karena istrinya memang bagai Lautan yang belum terduga.
Kupu Malam dan Biniku, sebuah puisi karya Chairil Anwar. Puisi yang dari segi bentuk masih terikat dengan aturan-aturan menulis puisi. Bentuknya berbait-bait, dan rimanya begitu diperhatikan.
Penyair yang lahir pada tanggal 22 Juli 1922, ini menulis puisi berjudul Kupu Malam dan Biniku. Puisi bertema pelacur, walau tidak ada kata-kata nyata tentang penjaja kenikmatan. Namun dapat dilihat dari judul. Kupu Malam identik dengan sebutan untuk penggila uang dan seks, yang biasa beterbangan dimalam hari.
Dalam puisi tampak sang aku usai mendatangi kupu malam. Terlihat dari barisan puisi berikut ini; Sambil berselisih lalu// Mengebu debu// Kupercepat langkah. Tak menoleh ke belakang. Ia segera bergegas pulang dan tak ingin lagi mengenang apa yang telah dilakukan.
Baris berikutnya ia mengakui, kalau ia telah mengoreskan luka dihati seseorang atas perbuatannya. Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang// Barah ternganga.
Sang aku mulai teringat, perbuatannya melukai hati istrinya. Yang telah hidup dalam bahtera rumah tangga selama tujuh tahun. Melayang ingatan ke biniku// Lautan yang belum terduga// Biar lebih kami tujuh tahun bersatu.
Namun rupanya ia kembali menghilangkan rasa bersalahnya, dengan mencari kelemahan sang istri. Karena perasaannya mengatakan, mungkin saja selama mereka bersama, tanpa sepengetahuannya, istrinya juga telah menipunya diam-diam. Barangkali tak setahuku// Ia menipuku. Karena istrinya memang bagai Lautan yang belum terduga.
Tikus Berijazah
Sinopsis
Kehidupan yang semua serba mudah dirasakan Ilham dari kecil, lulus SMA dengan modal menjual sawah, ibunya berhasil memasukkan dia menjadi salah satu orang penting di perguruan tinggi swasta ternama di ibu kota. Ketika dia dituntut untuk menenpuh pendidikan lebih tinggi, dengan mudah dia mengambil kuliah yang hanya membayar sekian harga sudah didapat gelar . Kini, ketika Ilham berumah tangga ia selalu dituntut istrinya agar mempunyai pendapatan lebih. Karakter yang sudah dibentuk sejak masih pelajar kini membentuk sosok koruptor pada diri Ilham.
Sementara Laras, anak Ilham dan Wulandari tidak suka dengan kehidupan mewah yang diberikan orangtuanya karena ia mengetahui dari mana ayahnya mendapatkan semuanya. Suatu hari Wulandari selingkuh dengan Rosyid. Tini meninggal, Ilham ketahuan korupsi dan dipenjara. Wulandari lebih memilih Rosyid yang mempunyai segalanya, Ilham dicampakkan. Penyesalan mendera hati Ilham, hanya Laras harapan satu-satunya.
Tokoh-tokoh
Iman Muhtadi sebagai Ilham, suami berusia 40 tahun, koruptor dank keras.
Noordina Fahmiati sebagai Wulandari, istri berusia 37 tahun, matrealis, cerewet.
Titin Supriatin sebagai Laras, gadis berusia 17 tahun, keras kepala.
Siti Sarokha sebagai Tini, nenek berusia 57 tahun, lemah, penuh penyesalan.
Didin Muslim sebagai Rosyid, lelaki berusia 40 tahun, sombong.
Albiyah sebagai Retno, wanita berusia 30 tahun, sabar.
Bagian 1
Sebuah ruang tamu sederhana, hanya ada satu meja dan dua kursi kayu. Gelas berisi air putih masih ada dimeja, dari dalam suara batuk Tini terdengar nyaring. Perlahan dengan langkahnya tertatih ia menghampiri kursi, tetap dengan batuk yang kian nyaring.
Tini : (Membenahi letak jilbabnya) Semoga tidak ada orang yang mengalami seperti aku, (batuk-batuk) hidup hanya menanggung penyesalan (minum).
Retno : Assalamualaikum!
Tini : Waalaikumsalam, kamu Retno?
Retno : Bu Tini pasti belum makan (menyiapkan makanan) makan dulu bu.
Tini : (Terisak, menangis) harusnya anakku yang menyiapkan semua ini, tapi memang sudah nasibku, ini juga kesalahanku dalam mendidik dia.
Retno : Sudahlah Bu Tini makan dulu, tidak ada orang tua yang sengaja mendidik anaknya dengan cara yang salah. Berdoa saja semoga dia cepat sadar.
Tini : Kamu sering bertemu dia di kampus? Bagaimana perlakuannya?
Retno : Pernah, tapi tidak sering bu. Kalau ada rapat-rapat saja, menurut saya wajar saja bu perlakuannya. Tidak lama akan ada rapat dengan yayasan, saya dengan aka nada pemeriksaan kepengurusan.
Tini : Ya, semoga dia tidak kenapa-kenapa saya khawatir.
Retno : ibu berdoa saja. Oya saya pamit dulu bu, mau periksa kandungan. Assalamualaikum.
Tini : Waalaikumsalam. (Mulai memakan sesuap nasi, namun batuknya kian menjadi. Dibawanya nasi dan gelas kedalam)
Bagian 2
Sementara dirumah Ilham semua serba mewah, namun dia tak lagi ingat jika mempunyai seorang ibu yang butuh naungan.
Wulandari : (Mondar-mandir) Ayah ini, belum pulang juga. Sudah sore. Mamapir kemana saja!
Ilham : (menyerahkan tas kerjannya pada Wulandari) Laras apa sudah pulang Bu?
Wulandari : belum (ketus)
Ilham : (Duduk sambil melepas sepatu) kamu kenapa Bu? Suami datang kok ketus begitu. Bukannya dibuatin kopi, menyiapkan air buat mandi. Ayah ini capek seharian kerja!
Wulandari : (Membawa segelas air) capek apa?! Ayah dikantor juga Cuma duduk saja, Ibu sudah hafal. Orang-orang seperti Ayah ini tidak bisa apa-apa, hanya bisa suruh sana suruh sini. Apa yang bisa Ayah lakukan hanya dengan gelar-gelar yang kau dapat secara instan?
Ilham : Bu! Apa maksud Ibu bicara seperti itu? Bagaimanapun pekerjaanku telah banyak memberi kemakmuran pada kehidupan rumah tangga kita.
Wulandari : sejahtera dari mana Yah? Ibu kan sudah lama minta ganti mobil seperti punyanya Bu Warti sampai sekarang tidak dibelikan. Suaminya bu Warti itu juga Cuma guru SMP, buktinya bisa ganti mobil tiap satu tahun sekali. Harusnya kita bisa seperti itu! Ngakunya Rektor di Universitas, tapi istrinya hanya bisa membawa mobil kampungan. (membuang muka)
Ilham : Diam mulutmu! Tak pantas kata-kata itu keluar dari bibir indahmu. Apa yang masih kurang? Perhiasan? Tak pernah jari-jarimu itu lekang dari cincin, pergelangan tanganmu tak pernah sepi dari gelang, lehermu selalu bergantungkan kalung berlian, telingamu tak luput dari anting! Sampai bibirmu tak pernah lepas dari gincu. (sambil bertolak pinggang)
Wulandari : Baru seperti itu saja sudah bangga!
Ilham : (sambil menunjuk) masih kurang?! Apa kau tak tahu? Untuk mendapatkan semua ini aku harus meluluskan mahasiswa yang berani membayar mahal. Kupakai juga uang pembangunan, Semua itu untuk kecukupan keluarga kita.
Wulandari : Harusnya Ayah mendapat lebih banyak lagi, jangan tanggung-tanggung Yah. Jangan kalah dengan Gayus Tambunan yang berani korupsi 28 Milyar. Mumpung ayah masih punya kekuasaan.
Ilham : Bagaimana kalau Ayah ketahuan? Bisa dipenjara Bu. Sepertinya yayasan sudah mulai curiga denganku. Tak lama akan ada pemeriksaan, aku pusing. Sementara kau hanya menuntut. Kamu kira semua ini semudah membalikkan telapak tangan. Kamu juga rela kalau suamimu dipenjara seperti Gayus!
Wulandari : Itu bagaimana Ayah saja, melakukannya dengan rapi.
Laras : (menggebrak pintu) bosan aku! Tiap hari hanya suara-suara menyakitkan telingga kudengar. Tak pantas kemewahan ini disebut rumah! Apa yang mau Ayah Ibu contohkan pada Laras?! Kegaduhan? (marah)
Ilham : Laras! (membentak) Berani kamu membentak orang tua, siapa yang mengajari kamu?
Laras : Yah, bukan Laras membentak orang tua. Tapi sifat orang tua yang tidak bisa menjadi orang tua yang Laras bentak. Laras tahu, seburuk-buruk orang tua tetap mereka bagai kitab suci, yang hanya orang-orang suci yang boleh memegang.(melemah)
Wulandari : kami juga berdebat untuk kepentinganmu Ras, Ibu ingin kamu hidup dalam kecukupan.
Laras : Apa kepentingan Laras? Ibu hanya sibuk dengan kepentingan sendiri, sibuk dengan harta yang selalu kurang menurut Ibu. Laras tak ingin semua ini, Laras juga tahu dari mana ayah mendapat semua ini, Laras tahu Yah.
Ilham : Apa yang kamu tahu? Kau jangan sok baru dua minggu kau jadi mahasiswa, sudah mau mnggurui Ayah.
Laras : Ayah, Laras hanya ingin ayah menghentikan apa yang selama ini ayah lakukan.
Ilham : Kalau kau tak suka, boleh pergi. Cari jalanmu sendiri. (Marah, menampar Laras) memang tak tahu diuntung!
Laras : (Tanpa suara, menatap orang tuanya dengan tajam kemudian meninggalkan rumah)
Wulandari : Laras! (menarik tangan Laras namun tak kuasa menahan)
Bagian 3
Ilham : (Memakai sepatu) Bu, dasiku mana? Ayah buru-buru.
Wulandari : (membawa dasi, memakaikan keleher Ilham) Ayah tidak sarapan dulu?
Ilham : Tidak ada waktu bu, ini ada rapat dengan yayasan.
Wulandari : Apa kita tidak coba mencari Laras Yah? Bagaimanapun dia anak satu-satunya.
Ilham : Itu urusan kamu sebagai ibunya, urusanku mencari nafkah untuk kalian. (sambil berlalu)
Wulandari : Terserah. (bergumam) begitu mudahnya dia melempar taggung jawab seorang anak padaku,dia kan juga Ayahnya. Mencari sendiri? Lebih baik kau suruh aku menghitung uang dan perhiasan sendiri, itu lebih menyenangkan (sambil memainkan semua perhiasan di tangannya)
Rosyid : Assalamualaikum! (sambil mengetuk pintu)
Wulandari : (penuh keheranan, membelalakkan mata) Waalaikumsalam! Kamu Rosyid? Teman mas Ilham kan?
Rosyid : Ya iyalah mbak! Mana Ilham mbak? (sambil memainkan kunci mobil)
Wulandari : Baru saja berangkat ke kampus, ada rapat kepengurusan katanya. Oya katanya kamu di Jogja? Kapan datang? (dengan senyum kekaguman) wah gawat kamu bisa menggeser jabatan Mas Ilham di kampus.
Rosyid : Mbak bisa saja, tapi yang pasti tidak bisa menggeser mas Ilham dari hati mbak Wulan kan?
Wulandari : Husss… kalau ada yang lebih baik kenapa tidak? Kamu mau minum apa? Panas atau dingin?
Rosyid : Dingin saja nanti dihangatkan dengan senyum Mbak Wulan.
Wulandari : Kamu Syid dari dulu tidak berubah, sudah jangan panggil mbak. Memangnya aku sudah tua? Kamu ada perlu dengan mas Ilham? (sambil berlalu mengambil minuman)
Rosyid : Memang boleh aku panggil Wulan? Ehmm…sebenarnya tidak.
Wulandari :Lalu ada perlu apa kau kemari? (membawa segelas minuman, duduk disamping Rosyid, penasaran)
Rosyid: : Menemuimu (sembari meraih tangan Wulan). Dari dulu sebenarnya aku ingin mendapatakanmu, sayang…Ilham mendahuluiku. Sekarang aku sudah punya segalanya, hmm…hanya kau yang belum kumiliki. Aku punya sesuatu buat kamu mbak, eh Wulan. (sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana)
Wulandari : Apa itu?
Rosyid : (mengambil gelas dari tangan Wulan, menaruhnya dimeja) Kado istimewa, dari orang istimewa, untuk yang teristimewa, coba balikkan badanmu (memasangkan kalung keleher Wulan)
Laras : (menarik kalung yang akan dipasangkan dilehar Wulandari dan melemparnya) Murahan! Apa tidak ada tempat lain untuk melakukan adegan murahan Ibu ini, jangan menambah hina rumah ini. (naik pitam)
Wulandari : (kaget, kehilangan kata-kata)
Rosyid : (tangannya mencoba ramah menyapa Laras) Hey Laras, sudah besar kamu sekarang ya? Ooww sepertinya kalung itu lebih cocok buat kamu. (menujuk arah kalung)
Laras : (Menarik Ibunya dengan amarah) Mana Ayah? Pantas seorang istri menerima tamu tanpa sepengetahuan suami, seisi rumah ini lama-lama bukan hanya bejat tapi juga bodoh! Tak punya otak!
Wulandari : Jaga mulut kamu Laras (mencoba meredam emosi, memeluk Laras) kamu dari mana nak? Tinggal dimana dengan siapa? Ibu cemas.
Laras : Bulsyit semua kata-kata Ibu! Laras sudah tak butuh perhatianmu, (berpaling kearah Rosyid yang tetap mengembangkan senyum) Ternyata lama di Jogja ini yang anda dapatkan, mana adat ketimuran anda Tuan Rosyid yang terhormat? Sebaiknya segara anda angkat kaki dari sini, sebelum kata-kataku menghancurkanmu.
Rosyid : Ok. Aku akan pergi, tapi aku akan kembali dengan membawa kemenangan. (Berlalu)
Laras : Laras kecewa dengan ibu, Laras kembali ingin memperbaiki semuanya tapi semuanya percuma. Laras akan pergi dari sini.
Wulandari : Laras…(mencoba menghentikan)
Laras : (tetap berlalu)
Wulandari : Kenapa Laras harus datang disaat tidak tepat, lebih baik aku pilih Rosyid dan meninggalkan Ilham.
Bagian 4
Kabar dipecatnya Ilham dari Universitas akibat tindak korupsi dana pembangunan gedung, telah menyebar luas. Kini Ilham mendekam di hotel prodeo. Laras menghampiri nenek.
Retno : Ibu bagaimana kabar hari ini? Batuknya sudah mendingan? Ini ada kue Bu dari Kampus. Tadi ada rapat.
Tini : Ilham juga ada Ret?(batuk-batuk, memegang dada)
Retno : Itu yang ingin saya kabarkan pada Ibu. Tapi Ibu harus tabah menerimanya.
Tini : Katakan saja Ret, apapun yang akan terjadi Ibu akan berusaha sabar.
Retno : Ternyata pak Ilham kedapatan korupsi dana pembangunan gedung kampus, kini beliau sedang diproses pihak kepolisian.
Tini : Ini semua salah Ibu, sepeninggal Ayah Ilham Ibu berusaha membahagiakannya. Dulu Ibu begitu berkeinginan Ilham mendapat jabatan penting. Tak begitu sulit dengan modal sawah dan tentu saja karena Ibu punya kenalan orang dalam Ilham langsung menempati posisi rektor di Universitas itu, tentu saja gelar Ilham yang panjang itu hanya sebuah gelar. Ilham tak mempunyai pengalaman atau kecerdasan apapun. Keahlian Ilham hanya memerintah (menarik nafas), kini hanya penyesalan yang Ibu rasakan. (batuk-batuk, memegangi dada yang semakin sesak dan sakit) kini dia harus membayar semuanya.
Laras : Nek! Ibu nek…Ibu selingkuh dengan sahabat Ayah (menangil sambil memeluk Nenek)
Tini : Apa? (memegang dadanya, nafasnya semakin sesak). Nenek sudah lelah mendengar kabar kedua orangtuamu, kenapa malaikat menjemputku dengan cara seperti ini.
Laras : Nenek bicara apa? (melepas pelukan, sambil melihat mata Nenek)
Tini : Ayahmu kedapatan korupsi, Ibumu ketahuan selingkuh. Apa lagi yang Nenek harapkan? Hanya kau Laras…jangan sampai kau seperti mereka. (Akhirnya tak mampu menahan beban tubuhnya dan menghembuskan nafas terakhir)
Laras : Nek, nenek… bangun nek. Nenek harus bangun, Laras tidak punya siapa-siapa lagi. (tangis Laras bersatu dengan dendam dan amarah)
Retno : Ikhlaskan Nenek…mungkin ini jalan terbaik untuknya Laras. Sudah! Ibu akan kabarkan kepada warga. Sebaiknya kau segera member kabar ayahmu.
Bagian 5
Di hotel prodeo Ilham meratapi nasibnya, semua kemegahan yang dibangga-banggakan telah sirna dalam sekejap. Ia meratap, merintih memohon ampun. Laras menemuinya diruang tunggu.
Laras : (menjabat dan mencium tangan Ayah) bagaimana kabar Ayah? Kita harus bisa mengambil hikmah dari semua ini.
Ilham : Seperti yang kamu lihat, Ayah kesepian, Ayah menyesal, Ayah malu denganmu (menitikkan air mata) bagaimana kabar nenek? Ah belum pernah Ayah membahagiakan nenek. Setelah apa yang semua ia lakukan untuk Ayah. Nenek rela hanya bertempat tinggal digubuk, karena semua kekayaan nenek untuk membiayayai Ayah. Kenapa kamu sendirian dimana Ibumu?
Laras : (menahan haru, mengatur nafas) Nenek Yah…
Ilham : Ada apa dengan Nenekmu?
Laras : Nenek… Nenek telah menghadap-Nya.
Ilham : (matanya berkaca-kaca, mulutnya hanya komat-kamit tanpa suara)
Rosyid : (mengandeng tangan Wulandari) Hay sobat… apa tidurmu nyenyak ditempat barumu ini?
Ilham : (Menunjuk Wulan keheranan) Kenapa kamu bersamanya?
Rosyid : Oww… Wanitamu terlalu cantik untuk kau terlantarkan, biarkan dia menghiasi singgasanaku.
Ilham : Biadab! Kalian ternyata menusukku dari belakang. (mengayunkan pukulannya kearah Rosyid)
Laras : (menghentikan tangan Ilham) Hentikan Yah? Jangan kotori tangan Ayah!
Wulandari : Maafkan aku, apa yang kuharapkan lagi dari orang sepertimu, menantimu keluar dari penjara? Harus berapa lama?
Rosyid : Sudahlah sayang, jangan buang waktu. Ayo kita tinggalkan tempat kotor ini, singgasana kita telah menanti. (berlalu dari hadapan Laras dan Ilham)
Laras : Sudahlah Yah, biarkan mereka pergi. Laras akan selalu bersama Ayah, anggap semua ini harga yang Ayah bayar. Semua telah lunas, Ayah harus yakin nanti kita bisa memulainya dengan lebih baik. Laras yakin kita bisa,
Ilham mempunyai waktu untuk memperbaiki dirinya, dalam kesendiriannya Ilham semakin mendekatkan diri pada Ilahi.
Selesai
* di pentaskan di IKIP WIDYA DARMA
Kehidupan yang semua serba mudah dirasakan Ilham dari kecil, lulus SMA dengan modal menjual sawah, ibunya berhasil memasukkan dia menjadi salah satu orang penting di perguruan tinggi swasta ternama di ibu kota. Ketika dia dituntut untuk menenpuh pendidikan lebih tinggi, dengan mudah dia mengambil kuliah yang hanya membayar sekian harga sudah didapat gelar . Kini, ketika Ilham berumah tangga ia selalu dituntut istrinya agar mempunyai pendapatan lebih. Karakter yang sudah dibentuk sejak masih pelajar kini membentuk sosok koruptor pada diri Ilham.
Sementara Laras, anak Ilham dan Wulandari tidak suka dengan kehidupan mewah yang diberikan orangtuanya karena ia mengetahui dari mana ayahnya mendapatkan semuanya. Suatu hari Wulandari selingkuh dengan Rosyid. Tini meninggal, Ilham ketahuan korupsi dan dipenjara. Wulandari lebih memilih Rosyid yang mempunyai segalanya, Ilham dicampakkan. Penyesalan mendera hati Ilham, hanya Laras harapan satu-satunya.
Tokoh-tokoh
Iman Muhtadi sebagai Ilham, suami berusia 40 tahun, koruptor dank keras.
Noordina Fahmiati sebagai Wulandari, istri berusia 37 tahun, matrealis, cerewet.
Titin Supriatin sebagai Laras, gadis berusia 17 tahun, keras kepala.
Siti Sarokha sebagai Tini, nenek berusia 57 tahun, lemah, penuh penyesalan.
Didin Muslim sebagai Rosyid, lelaki berusia 40 tahun, sombong.
Albiyah sebagai Retno, wanita berusia 30 tahun, sabar.
Bagian 1
Sebuah ruang tamu sederhana, hanya ada satu meja dan dua kursi kayu. Gelas berisi air putih masih ada dimeja, dari dalam suara batuk Tini terdengar nyaring. Perlahan dengan langkahnya tertatih ia menghampiri kursi, tetap dengan batuk yang kian nyaring.
Tini : (Membenahi letak jilbabnya) Semoga tidak ada orang yang mengalami seperti aku, (batuk-batuk) hidup hanya menanggung penyesalan (minum).
Retno : Assalamualaikum!
Tini : Waalaikumsalam, kamu Retno?
Retno : Bu Tini pasti belum makan (menyiapkan makanan) makan dulu bu.
Tini : (Terisak, menangis) harusnya anakku yang menyiapkan semua ini, tapi memang sudah nasibku, ini juga kesalahanku dalam mendidik dia.
Retno : Sudahlah Bu Tini makan dulu, tidak ada orang tua yang sengaja mendidik anaknya dengan cara yang salah. Berdoa saja semoga dia cepat sadar.
Tini : Kamu sering bertemu dia di kampus? Bagaimana perlakuannya?
Retno : Pernah, tapi tidak sering bu. Kalau ada rapat-rapat saja, menurut saya wajar saja bu perlakuannya. Tidak lama akan ada rapat dengan yayasan, saya dengan aka nada pemeriksaan kepengurusan.
Tini : Ya, semoga dia tidak kenapa-kenapa saya khawatir.
Retno : ibu berdoa saja. Oya saya pamit dulu bu, mau periksa kandungan. Assalamualaikum.
Tini : Waalaikumsalam. (Mulai memakan sesuap nasi, namun batuknya kian menjadi. Dibawanya nasi dan gelas kedalam)
Bagian 2
Sementara dirumah Ilham semua serba mewah, namun dia tak lagi ingat jika mempunyai seorang ibu yang butuh naungan.
Wulandari : (Mondar-mandir) Ayah ini, belum pulang juga. Sudah sore. Mamapir kemana saja!
Ilham : (menyerahkan tas kerjannya pada Wulandari) Laras apa sudah pulang Bu?
Wulandari : belum (ketus)
Ilham : (Duduk sambil melepas sepatu) kamu kenapa Bu? Suami datang kok ketus begitu. Bukannya dibuatin kopi, menyiapkan air buat mandi. Ayah ini capek seharian kerja!
Wulandari : (Membawa segelas air) capek apa?! Ayah dikantor juga Cuma duduk saja, Ibu sudah hafal. Orang-orang seperti Ayah ini tidak bisa apa-apa, hanya bisa suruh sana suruh sini. Apa yang bisa Ayah lakukan hanya dengan gelar-gelar yang kau dapat secara instan?
Ilham : Bu! Apa maksud Ibu bicara seperti itu? Bagaimanapun pekerjaanku telah banyak memberi kemakmuran pada kehidupan rumah tangga kita.
Wulandari : sejahtera dari mana Yah? Ibu kan sudah lama minta ganti mobil seperti punyanya Bu Warti sampai sekarang tidak dibelikan. Suaminya bu Warti itu juga Cuma guru SMP, buktinya bisa ganti mobil tiap satu tahun sekali. Harusnya kita bisa seperti itu! Ngakunya Rektor di Universitas, tapi istrinya hanya bisa membawa mobil kampungan. (membuang muka)
Ilham : Diam mulutmu! Tak pantas kata-kata itu keluar dari bibir indahmu. Apa yang masih kurang? Perhiasan? Tak pernah jari-jarimu itu lekang dari cincin, pergelangan tanganmu tak pernah sepi dari gelang, lehermu selalu bergantungkan kalung berlian, telingamu tak luput dari anting! Sampai bibirmu tak pernah lepas dari gincu. (sambil bertolak pinggang)
Wulandari : Baru seperti itu saja sudah bangga!
Ilham : (sambil menunjuk) masih kurang?! Apa kau tak tahu? Untuk mendapatkan semua ini aku harus meluluskan mahasiswa yang berani membayar mahal. Kupakai juga uang pembangunan, Semua itu untuk kecukupan keluarga kita.
Wulandari : Harusnya Ayah mendapat lebih banyak lagi, jangan tanggung-tanggung Yah. Jangan kalah dengan Gayus Tambunan yang berani korupsi 28 Milyar. Mumpung ayah masih punya kekuasaan.
Ilham : Bagaimana kalau Ayah ketahuan? Bisa dipenjara Bu. Sepertinya yayasan sudah mulai curiga denganku. Tak lama akan ada pemeriksaan, aku pusing. Sementara kau hanya menuntut. Kamu kira semua ini semudah membalikkan telapak tangan. Kamu juga rela kalau suamimu dipenjara seperti Gayus!
Wulandari : Itu bagaimana Ayah saja, melakukannya dengan rapi.
Laras : (menggebrak pintu) bosan aku! Tiap hari hanya suara-suara menyakitkan telingga kudengar. Tak pantas kemewahan ini disebut rumah! Apa yang mau Ayah Ibu contohkan pada Laras?! Kegaduhan? (marah)
Ilham : Laras! (membentak) Berani kamu membentak orang tua, siapa yang mengajari kamu?
Laras : Yah, bukan Laras membentak orang tua. Tapi sifat orang tua yang tidak bisa menjadi orang tua yang Laras bentak. Laras tahu, seburuk-buruk orang tua tetap mereka bagai kitab suci, yang hanya orang-orang suci yang boleh memegang.(melemah)
Wulandari : kami juga berdebat untuk kepentinganmu Ras, Ibu ingin kamu hidup dalam kecukupan.
Laras : Apa kepentingan Laras? Ibu hanya sibuk dengan kepentingan sendiri, sibuk dengan harta yang selalu kurang menurut Ibu. Laras tak ingin semua ini, Laras juga tahu dari mana ayah mendapat semua ini, Laras tahu Yah.
Ilham : Apa yang kamu tahu? Kau jangan sok baru dua minggu kau jadi mahasiswa, sudah mau mnggurui Ayah.
Laras : Ayah, Laras hanya ingin ayah menghentikan apa yang selama ini ayah lakukan.
Ilham : Kalau kau tak suka, boleh pergi. Cari jalanmu sendiri. (Marah, menampar Laras) memang tak tahu diuntung!
Laras : (Tanpa suara, menatap orang tuanya dengan tajam kemudian meninggalkan rumah)
Wulandari : Laras! (menarik tangan Laras namun tak kuasa menahan)
Bagian 3
Ilham : (Memakai sepatu) Bu, dasiku mana? Ayah buru-buru.
Wulandari : (membawa dasi, memakaikan keleher Ilham) Ayah tidak sarapan dulu?
Ilham : Tidak ada waktu bu, ini ada rapat dengan yayasan.
Wulandari : Apa kita tidak coba mencari Laras Yah? Bagaimanapun dia anak satu-satunya.
Ilham : Itu urusan kamu sebagai ibunya, urusanku mencari nafkah untuk kalian. (sambil berlalu)
Wulandari : Terserah. (bergumam) begitu mudahnya dia melempar taggung jawab seorang anak padaku,dia kan juga Ayahnya. Mencari sendiri? Lebih baik kau suruh aku menghitung uang dan perhiasan sendiri, itu lebih menyenangkan (sambil memainkan semua perhiasan di tangannya)
Rosyid : Assalamualaikum! (sambil mengetuk pintu)
Wulandari : (penuh keheranan, membelalakkan mata) Waalaikumsalam! Kamu Rosyid? Teman mas Ilham kan?
Rosyid : Ya iyalah mbak! Mana Ilham mbak? (sambil memainkan kunci mobil)
Wulandari : Baru saja berangkat ke kampus, ada rapat kepengurusan katanya. Oya katanya kamu di Jogja? Kapan datang? (dengan senyum kekaguman) wah gawat kamu bisa menggeser jabatan Mas Ilham di kampus.
Rosyid : Mbak bisa saja, tapi yang pasti tidak bisa menggeser mas Ilham dari hati mbak Wulan kan?
Wulandari : Husss… kalau ada yang lebih baik kenapa tidak? Kamu mau minum apa? Panas atau dingin?
Rosyid : Dingin saja nanti dihangatkan dengan senyum Mbak Wulan.
Wulandari : Kamu Syid dari dulu tidak berubah, sudah jangan panggil mbak. Memangnya aku sudah tua? Kamu ada perlu dengan mas Ilham? (sambil berlalu mengambil minuman)
Rosyid : Memang boleh aku panggil Wulan? Ehmm…sebenarnya tidak.
Wulandari :Lalu ada perlu apa kau kemari? (membawa segelas minuman, duduk disamping Rosyid, penasaran)
Rosyid: : Menemuimu (sembari meraih tangan Wulan). Dari dulu sebenarnya aku ingin mendapatakanmu, sayang…Ilham mendahuluiku. Sekarang aku sudah punya segalanya, hmm…hanya kau yang belum kumiliki. Aku punya sesuatu buat kamu mbak, eh Wulan. (sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana)
Wulandari : Apa itu?
Rosyid : (mengambil gelas dari tangan Wulan, menaruhnya dimeja) Kado istimewa, dari orang istimewa, untuk yang teristimewa, coba balikkan badanmu (memasangkan kalung keleher Wulan)
Laras : (menarik kalung yang akan dipasangkan dilehar Wulandari dan melemparnya) Murahan! Apa tidak ada tempat lain untuk melakukan adegan murahan Ibu ini, jangan menambah hina rumah ini. (naik pitam)
Wulandari : (kaget, kehilangan kata-kata)
Rosyid : (tangannya mencoba ramah menyapa Laras) Hey Laras, sudah besar kamu sekarang ya? Ooww sepertinya kalung itu lebih cocok buat kamu. (menujuk arah kalung)
Laras : (Menarik Ibunya dengan amarah) Mana Ayah? Pantas seorang istri menerima tamu tanpa sepengetahuan suami, seisi rumah ini lama-lama bukan hanya bejat tapi juga bodoh! Tak punya otak!
Wulandari : Jaga mulut kamu Laras (mencoba meredam emosi, memeluk Laras) kamu dari mana nak? Tinggal dimana dengan siapa? Ibu cemas.
Laras : Bulsyit semua kata-kata Ibu! Laras sudah tak butuh perhatianmu, (berpaling kearah Rosyid yang tetap mengembangkan senyum) Ternyata lama di Jogja ini yang anda dapatkan, mana adat ketimuran anda Tuan Rosyid yang terhormat? Sebaiknya segara anda angkat kaki dari sini, sebelum kata-kataku menghancurkanmu.
Rosyid : Ok. Aku akan pergi, tapi aku akan kembali dengan membawa kemenangan. (Berlalu)
Laras : Laras kecewa dengan ibu, Laras kembali ingin memperbaiki semuanya tapi semuanya percuma. Laras akan pergi dari sini.
Wulandari : Laras…(mencoba menghentikan)
Laras : (tetap berlalu)
Wulandari : Kenapa Laras harus datang disaat tidak tepat, lebih baik aku pilih Rosyid dan meninggalkan Ilham.
Bagian 4
Kabar dipecatnya Ilham dari Universitas akibat tindak korupsi dana pembangunan gedung, telah menyebar luas. Kini Ilham mendekam di hotel prodeo. Laras menghampiri nenek.
Retno : Ibu bagaimana kabar hari ini? Batuknya sudah mendingan? Ini ada kue Bu dari Kampus. Tadi ada rapat.
Tini : Ilham juga ada Ret?(batuk-batuk, memegang dada)
Retno : Itu yang ingin saya kabarkan pada Ibu. Tapi Ibu harus tabah menerimanya.
Tini : Katakan saja Ret, apapun yang akan terjadi Ibu akan berusaha sabar.
Retno : Ternyata pak Ilham kedapatan korupsi dana pembangunan gedung kampus, kini beliau sedang diproses pihak kepolisian.
Tini : Ini semua salah Ibu, sepeninggal Ayah Ilham Ibu berusaha membahagiakannya. Dulu Ibu begitu berkeinginan Ilham mendapat jabatan penting. Tak begitu sulit dengan modal sawah dan tentu saja karena Ibu punya kenalan orang dalam Ilham langsung menempati posisi rektor di Universitas itu, tentu saja gelar Ilham yang panjang itu hanya sebuah gelar. Ilham tak mempunyai pengalaman atau kecerdasan apapun. Keahlian Ilham hanya memerintah (menarik nafas), kini hanya penyesalan yang Ibu rasakan. (batuk-batuk, memegangi dada yang semakin sesak dan sakit) kini dia harus membayar semuanya.
Laras : Nek! Ibu nek…Ibu selingkuh dengan sahabat Ayah (menangil sambil memeluk Nenek)
Tini : Apa? (memegang dadanya, nafasnya semakin sesak). Nenek sudah lelah mendengar kabar kedua orangtuamu, kenapa malaikat menjemputku dengan cara seperti ini.
Laras : Nenek bicara apa? (melepas pelukan, sambil melihat mata Nenek)
Tini : Ayahmu kedapatan korupsi, Ibumu ketahuan selingkuh. Apa lagi yang Nenek harapkan? Hanya kau Laras…jangan sampai kau seperti mereka. (Akhirnya tak mampu menahan beban tubuhnya dan menghembuskan nafas terakhir)
Laras : Nek, nenek… bangun nek. Nenek harus bangun, Laras tidak punya siapa-siapa lagi. (tangis Laras bersatu dengan dendam dan amarah)
Retno : Ikhlaskan Nenek…mungkin ini jalan terbaik untuknya Laras. Sudah! Ibu akan kabarkan kepada warga. Sebaiknya kau segera member kabar ayahmu.
Bagian 5
Di hotel prodeo Ilham meratapi nasibnya, semua kemegahan yang dibangga-banggakan telah sirna dalam sekejap. Ia meratap, merintih memohon ampun. Laras menemuinya diruang tunggu.
Laras : (menjabat dan mencium tangan Ayah) bagaimana kabar Ayah? Kita harus bisa mengambil hikmah dari semua ini.
Ilham : Seperti yang kamu lihat, Ayah kesepian, Ayah menyesal, Ayah malu denganmu (menitikkan air mata) bagaimana kabar nenek? Ah belum pernah Ayah membahagiakan nenek. Setelah apa yang semua ia lakukan untuk Ayah. Nenek rela hanya bertempat tinggal digubuk, karena semua kekayaan nenek untuk membiayayai Ayah. Kenapa kamu sendirian dimana Ibumu?
Laras : (menahan haru, mengatur nafas) Nenek Yah…
Ilham : Ada apa dengan Nenekmu?
Laras : Nenek… Nenek telah menghadap-Nya.
Ilham : (matanya berkaca-kaca, mulutnya hanya komat-kamit tanpa suara)
Rosyid : (mengandeng tangan Wulandari) Hay sobat… apa tidurmu nyenyak ditempat barumu ini?
Ilham : (Menunjuk Wulan keheranan) Kenapa kamu bersamanya?
Rosyid : Oww… Wanitamu terlalu cantik untuk kau terlantarkan, biarkan dia menghiasi singgasanaku.
Ilham : Biadab! Kalian ternyata menusukku dari belakang. (mengayunkan pukulannya kearah Rosyid)
Laras : (menghentikan tangan Ilham) Hentikan Yah? Jangan kotori tangan Ayah!
Wulandari : Maafkan aku, apa yang kuharapkan lagi dari orang sepertimu, menantimu keluar dari penjara? Harus berapa lama?
Rosyid : Sudahlah sayang, jangan buang waktu. Ayo kita tinggalkan tempat kotor ini, singgasana kita telah menanti. (berlalu dari hadapan Laras dan Ilham)
Laras : Sudahlah Yah, biarkan mereka pergi. Laras akan selalu bersama Ayah, anggap semua ini harga yang Ayah bayar. Semua telah lunas, Ayah harus yakin nanti kita bisa memulainya dengan lebih baik. Laras yakin kita bisa,
Ilham mempunyai waktu untuk memperbaiki dirinya, dalam kesendiriannya Ilham semakin mendekatkan diri pada Ilahi.
Selesai
* di pentaskan di IKIP WIDYA DARMA
Langganan:
Postingan (Atom)
